Brondong Beras Sepeda Tak Pernah Absen Menghiasi Pasar Malam Sekaten Solo

oleh
Sekaten
Brondong beras berbentuk sepeda dijual di Pasar Malam Sekaten Alun-alun Utara (Lor) Keraton Surakarta, Rabu (28/9/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Tino (38) pedagang asal Karanganyar menjual brondong beras variasi berbeda di Pasar Malam Sekaten Alun-alun Utara Keraton Surakarta, Rabu (28/9). Brondong sepeda, salah satu dari sekian jenis makanan khas saat Sekaten tiba.

Jajanan yang satu ini dibentuk seperti layaknya orang yang sedang menaiki sepeda. Perpaduan warna merah muda, hijau dan putih menjadikannya jajanan yang menarik. Rasanya yang manis dengan tekstur renyah membuat siapa saja dapat menikmatinya.

Harganya pun cukup terjangkau, yakni Rp 10 ribu/buah pembeli dapat membawa jajanan nyentrik ini untuk oleh-oleh. Sayangnya kini brondong sepeda tak sepopuler dulu.

Dalam sehari Tino hanya mampu menjual 6 hingga 7 buah brondong sepeda yang mulai ia jajakan sejak pukul 16.00 hingga 23.00 malam. Brondong sepeda hanya mampu bertahan selama seminggu. Dengan begitu Tino tak membuatnya dalam jumlah banyak.

“Lakunya nggak nentu, kadang ya 6 sampai 7 saja kalau yang arum manis malah laku banyak bisa sampai 30 buah dari yang biasanya saya bawa 50. Harganya sama Rp 10 ribu tapi anak-anak lebih suka arum manis,” kata Tino kepada MettaNEWS, Rabu (28/9/2022).

Brondong sepeda yang ia jual didapat dari sang pakdhe yang telah berpuluh tahun membuat jajanan khas Sekaten ini.

“Brondong sepedanya punya pakdhe, nitip karena kan sana produksi, pop corn sama berondong beras,” tambahnya.

Tino menuturkan malam Minggu dan malam Senin banyak pengunjung yang datang ke Pasar Malam Sekaten. Di waktu itu banyak dimanfaatkannya untuk menawarkan jajanannya.

“Pembelinya dari semua usia, kadang ya remaja. Ini kan tutupnya jam 11 malem jadi saya kemasin dagangannya saya tinggal di sini saja. Kan besok dipakai buat jualan lagi,” katanya.

Kendati Pasar Malam Sekaten telah 2 tahun ditiadakan, Tino mengaku pendapatannya menurun lantaran tak banyak pembeli. Ditambah biaya sewa yang naik drastis membuat Tino semakin bersedih hati khawatir modal yang ia keluarkan tak sepadan dengan pendapatan.

“Omset turun malah harga sewa yang naik banyak. Katane EO dapet kontrak dengan yang pihak pertama sudah mahal jadi pedagang ya ditarik mahal. Kalau kemarin itu Rp 2,5 juta kalau sebelum pandem Rp 350 ribu,” terangnya.