SOLO, MettaNEWS – Mahasiswa Universitas Slamet Riyadi yang sekaligus karyawan PMI Kota Surakarta, Kurnia Putri Maharani melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 2 bulan di Kabupaten Karanganyar tepatnya di wilayah RW 01 dan RW 02 Dukuh Jetak, Desa Wonorejo, Kec. Gondangrejo Karanganyar.
Kurnia Putri Maharani memilih kegiatan yang beda dengan yang dilakukan oleh mahasiswa lain di kelompoknya. Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan sosialisasi kada seluruh lapisan masyarakat di wilayah tersebut akan pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah “stunting”.
Sosialisasi dilakukan sebanyak 2 kali yakni pada hari Minggu (31/7/2022) kepada ibu-ibu kader PKK RW 02 yang dihadiri 20 orang dan hari Sabtu (13/8/2022) kepada ibu-ibu kader Posyandu serta anak-anak di wilayah RW 01 dan RW 02 Jetak Wonorejo.
Putri menjelaskan, pada kegiatan posyandu tersebut dilakukan pengukuran berat badan pada anak-anak, pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar kepala, pengukuran lingkar lengan dan pemberian vitamin A.
“Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa akibat dari pandemi Covid 19 ini salah satunya berdampak pada meningkatnya gizi buruk dan stunting di Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, harus dilakukan sosialisasi yang berkaitan dengan pencegahan gizi buruk maupun stunting,” imbuh Putri.
Putri memaparkan, pencegahan gizi buruk dan stunting dimulai sejak ibu hamil, kemudian menyusui hingga anak dalam masa emas yakni 1000 hari pertama kelahiran.

Langkah-langkah untuk mencegah gizi buruk / stunting menurut Putri antara lain memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil, memberi ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, dampingi ASI Eksklusif dengan MPASI sehat, terus memantau tumbuh kembang anak, selalu menjaga kebersihan lingkungan.
“Tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting pada anak adalah selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan. Pemberian ASI Eksklusif selama enam bulan kepada sang buah hati adalah sangat penting, karena protein whey dan kolostrum yang terdapat pada susu ibu mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang rentan,” papar Putri.
Putri melanjutkan, ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas, maka ibu sudah bisa memberikan makanan pendamping atau MPASI. Dalam hal ini pastikan makanan-makanan yang dipilih bisa memenuhi gizi mikro dan makro yang sebelumnya selalu berasal dari ASI untuk mencegah stunting.
“Orang tua perlu terus memantau tumbuh kembang anak mereka, terutama dari tinggi dan berat badan anak, dan rutin membawa si Kecil secara berkala ke Posyandu maupun klinik khusus anak. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi ibu untuk mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya,” tukasnya.
Dengan sosialisasi pencegahan stunting ini, Putri berharap dapat memberikan contoh kepada masyarakat lain yang peduli dan memiliki pengetahuan tentang kesehatan untuk melaksanakan sosialisasi secara serentak dan berkelanjutan kepada seluruh lapisan masyarakat, sehingga masyarakat Indonesia terbebas dari gizi buruk dan stunting.









