Beredar di Media Sosial, Abu Bakar Ba’asyir Mengakui Pancasila Sebagai Dasar Negara Indonesia  

oleh
oleh
Abdul Rohim putra Abu Bakar Ba'asyir

SUKOHARJO, MettaNEWS – Pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin Ngruki, Grogol Sukoharjo, Abu Bakar Ba’asyir menyatakan mengakui Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. 

Pernyataan pengakuan ini disampaikan Abu Bakar Ba’asyir (ABB) dalam video berdurasi sekitar 40 detik dan beredar di Facebook. 

Video diunggah oleh pemilik akun Facebook @KataKita dua hari yang lalu dan hingga Kamis (4/8/2022) video itu telah disukai lebih dari 5.000 pengguna facebook dan lebih dari 1.100 komentar. 

Pada video tersebut ditampilkan dengan menggunakan mikrofon ABB menyampaikan Pancasila sebagai dasar negara karena berdasarkan Tauhid.

“Indonesia berdasarkan Pancasila itu mengapa disetujui ulama? Karena dasarnya Tauhid. Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata ABB dalam video tersebut.

Masih dalam video tersebut, ABB mengatakan dirinya sempat menganggap Pancasila itu syirik. Namun, setelah mempelajarinya, ia mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

“Dulu bagi saya, Pancasila itu syirik. Saya begitu dulu. Tapi setelah saya pelajari selanjutnya, ndak mungkin ulama menyetujui dasar negara syirik. Itu ndak mungkin. Karena ulama itu mesti niatnya ikhlas,” tandasnya.

Putra ABB, Abdul Rohim membenarkan video yang beredar di media sosial tersebut adalah ABB. Namun ia mengaku tidak mengetahui persis kapan video itu dibuat. 

“Seingat saya pernyataan itu disampaikan Ustadz ABB pada bulan Ramadan tahun ini dan mungkin ada yang merekamnya. Memang benar di video itu Ustadz ABB. Itu beliau memandang Pancasila,” ungkap Abdul Rohim. 

Abdul Rohim menambahkan dahulu Ustadz ABB berpandangan Pancasila dibuat bertentangan dengan Islam dan tidak klop dengan islam. 

“Beliau mempelajari dan ternyata para pendiri bangsa itu merumuskan Pancasila sebagai jalan, sebagai legitimasi kaum muslimin secara mutlak, secara kafah. Dimana Ketuhanan Yang Maha Esa itu prinsipnya ketauhidan. Beliau melihatnya dari situ. Beliau jelaskan lagi ke masyarakat supaya tidak terjadi kesalahpahaman,” ujar Abdul Rohim.

Abdul Rohim menjelaskan, bahwa ayahnya sebenarnya tidak menolak konsep apapun sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Termasuk dasar negara Pancasila.

“Pada prinsipnya beliau tidak menolak konsep apapun sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam dan konsep Islam. Tapi kalau suatu konsep itu dibuat bertentangan dengan Islam, beliau akan menolak hal tersebut. Siapapun yang menerimanya dianggap sebagai orang yang melakukan kesalahan. Sebab prinsipnya tauhid,” pungkasnya.