Gagal, Upaya Menyelamatkan Paus Sperma Seberat 15 Ton yang Terdampar di Pantai Banyuwangi

oleh
oleh
paus sperma
Paus sperma yang terdampat dan akhirnya mati di pantai Banyuwangi, Jawa Timur | Dispen TNII AL

BANYUWANGI, MettaNEWS – Seekor paus sperma (Physeter macrocephalus), terdampar di pantai di Banyuwangi, Jawa Timur. Upaya menolong mamalia laut seberat kira-kira 15 ton itu untuk bisa kembali ke laut, dilakukan oleh TNI AL dan nelayan, namun tak membuahkan hasil. Paus tersebut mati Senin (1/8/2022) malam.

Keterangan tertulis Dinas Penerangan TNI AL menyebutkan, Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Banyuwangi berusaha menyelamatkan paus sperma yang terdampar di Dermaga Hotel Ketapang Indah Kelurahan Ketapang Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi, Senin, (1/8) kemarin.

Sekitar pukul 12.00, masyarakat melaporkan adanya paus yang mengapung terseret ombak di sekitar mercu suar. Sejumlah nelayan sudah berusaha membantu menggiringnya ke laut, namun tidak berhasil.

Paus itu tampak kebingungan, berenang berputar-putar di sekitar pantai sambil terus menyemburkan air dari punggungnya.

Komandan Lanal Banyuwangi, Letkol Laut Ansori segera memerintahkan anggotanya untuk membantu upaya mencegah paus tersebut terdampar. Namun ketika mereka tiba, paus tersebut sudah terseret ombak hingga membentur dermaga.

Bersama dengan aparat Polairud dan masyarakat, tim TNI AL yang menggunakan dua kapal terus berupaya mengevakuasi paus tersebut. Namun hingga malam, upaya itu tak berhasil. Hingga kemudian, mamalia yang juga populer dengan sebutan kotaklema atau paus kepala kotak itu mati.

Dinas Penerangan TNI AL menyebut, upaya penyelamatan paus yang terdampar itu sebagai implementasi perintah Kepala Staf TNI AL Laksamana Yudo Margono, agar seluruh prajurit TNI AL ikut serta menjaga kelestarian alam dan membantu penyelesaian masalah di sekitarnya, sehingga bermanfaat untuk masyarakat.

Tentang paus yang mati, bangkainya akan dievakuasi ke darat oleh petugas BPBD Banyuwangi. Upaya itu membutuhkan peralatan berat, untuk mengangkat dan memotong-motong bangkai, kemudian dikubur di daratan.