SOLO, MettaNEWS – Calon Raja atau Putra Mahkota Keraton Surakarta, KGPH Purboyo ikut mengiringi lima kebo bule yang dipindahkan ke Magangan, kompleks Keraton Surakarta, Selasa (25/7/2022). Alasan medis menjadi pertimbangan pihak sinuwun dalem Keraton Surakarta memindahkan 5 kebo bule yang terjangkit Penyakit Kuku dan Mulut (PMK).
Pemindahan ini melibatkan Polresta Surakarta, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP), Pengageng Parentah Keraton Solo KGPH Adipati Dipokusumo, Wakil Pengageng Sasana Wilapa Kraton Solo KP Dani Nur Adiningrat, Putri Keraton Solo Raden Ayu Putri Purnaningrum dan menantu dalem Kanjeng Raden Aryo Rizki Ajidiningrat.
Tepat pukul 12.00 WIB, kelima kebo dipancing keluar dari Kandang Mahesa Pusaka sisi barat. Iring-iringan kebo bule ini melewati Alun-alun kidul (selatan) dimulai saat matahari begitu terik. Proses pemindahan pun tidaklah mudah, pawang kebo terus berupaya menggerakan kawanan hewan keramat ini tanpa memaksa dengan pecutan maupun ditali.
Menantu dalem Kanjeng Raden Aryo Rizki Ajidiningrat mengatakan pemindahan kebo ini untuk memutus rantai PMK.
“Kerbau-kerbau kita evakuasi semata-mata untuk memutus mata rantai penyebaran PMK, karena kalau sudah ada di satu titik lokasi, setidaknya yang belum tertular atau dalam proses penyembuhan kita sterilisasi dengan tempat yang baru,” kata Kanjeng Aryo kepada MettaNEWS, Selasa (26/7/2022).
Pihaknya mengatakan kondisi kebo yang sempat memburuk akibat PMK sudah berangsur membaik. Sehingga untuk proses pemulihan yang lebih cepat pihaknya menginginkan kebo-kebo ini tak berada du lingkungan publik,
“Tentunya dengan pertimbangan dokter dan mempertimbangkan kesehatan fisik mahesa (kebo), dan kita lihat kondisi fisik mahesa yang terdampak pertama itu sudah berangsur memulih membaik, makanya kami evakuasi ke tempat yang steril tanpa adanya lalu-lalang manusia,” katanya.
Gusti Raden Ayu Putri Purnaningrum mengatakan kebo Keraton Surakarta terjangkit PMK lantaran mendapat virus yang dibawa manusia. Melihat hal ini pihaknya tak ingin kebo keturunan Kiai Slamet mengalami kondisi yang lebih parah.
“Karena PMK itu menurut medis carrier-nya dari manusia, memang manusia tidak tertular, hanya menularkan. Di area keraton yang tidak terjadi lalu lalang orang dan steril. Kalau yang mati satu sama satu yang bayi, kurang lebih sekarang 18-19 (jumlah). Kalau yang terdampak pertama ini yang kita giring, itu dalam proses pemulihan,” terangnya.
Total terdapat 7 kebo yang terpapar PMK. Pihaknya pun belum mendapat pernyataan sembuh dari DKPP.
“Belum bisa berspekulasi, karena kenanya seminggu yang lalu, dia sudah melalui fase kritis, virus mungkin sudah turun, nanti kita dukung dengan pengecekan lab, jadi ada pengecekan lab, untuk memastikan imunitas tubuh itu bagus atau tidak,” terangnya.
Pihaknya menyayangkan evakuasi yang tak segera dilakukan pada kebo yang berada di kandang yang sama dengan Apon, kebo betina 20 tahun yang mati.
“Itu semua (5) sudah terkena. Harusnya waktu terdampak satu, evakuasinya yang jauh, karena memang cuma dipisahkan satu area. Kita punya beberapa area khusus yang ada halamannya dan kita rasa cukup proper untuk habitat mahesa,” jelasnya.
Penggunaan Magangan untuk kandang sementara 5 kebo ini untuk mengoptimalkan pengobatan dengan doketer hewan DKPP maupun dokter keraton.









