Dua Tahun Mandek, Wayang Potehi Kembali Bercerita di Klenteng Tien Kok Sie Solo

oleh

SOLO, MettaNEWS – Klenteng Tien Kok Sie di Jalan RE Martadinata Nomor 12, Sudiroprajan, Jebres Pasar Gede Solo kembali menggelar seni pertunjukkan Tiongkok wayang potehi, Minggu (17/7/2022) malam. Dibuka Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa gelaran wayang potehi ini diadakan untuk pertama kalinya usai pandemi Covid-19 melanda selama dua tahun.

Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie Solo, Sumantri Dana Waluya mengatakan, pihaknya telah menggelar pementasan wayang khas negeri Cina ini selama 12 tahun lamanya. Artinya, sejak tahun 2010, Klenteng Tien Kok Sie rutin menggelar pementasan wayang potehi setiap tanggal 19 bulan ke-6 atau Lak Gwee kalender Cina.

“Wayang potehi atau orang sering nyebutnya wayang Cina itu dibawa oleh perantauan dari Tiongkok daratan, oleh perantau orang-orang Tionghoa yang masuk ke Indonesia,” beber Sumantri kepada MettaNEWS, Minggu (17/7/2022) malam.

Dibawa oleh penduduk daratan Fujian, Tiongkok selatan, wayang potehi hadir memberi warna kesenian baru di tanah nusantara pada abad ke-16. Setelahnya kesenian ini mulai menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia termasuk Pulau Jawa.

“Perantauan dulu pekerja tambang kalau malam hari mereka kalau istilah Jawa-nya ngelangus (bosan) malamnya dia membawa orang-orang yang mengerti wayang potehi main di pertambangan, itu sejarahnya masuk ke Indonesia,” tambahnya.

Potehi berasal dari kata pou yang artinya kain, te artinya kantong dan hi wayang ini dimainkan untuk mengisi waktu luang para pekerja tambang. Lokasi tambang yang berpindah-pindah membuat wayang potehi juga turut dibawa oleh para petembang ke lokasi yang baru termasuk di Indonesia

“Karena dibawa secara sengaja tetapi itu membawanya untuk kebutuhan pekerja dulu makin lama pekerjanya pindah itu dibawa,”

Dalam gelaran kesenian wayang potehi semalam, pihaknya mendatangkan club 5 Merpati dari Surabaya yang membawakan cerita Sun Go Kong.

“Ini di dalam ada 5 pemain, 4 orang Jawa 1 Tionghoa. Kalau belajar wayang potehi di sini nggak ada dalang tidak ada yang membuatnya, tetapi kami bisa memfasilitasi, saya teleponkan ke yang membuat ini itu ada di Jombang, saya hubungi dulu semua dikasih informasi,

Tak lagi menggunakan bahasa Hokkien secara keseluruhan, akulturasi budaya yang membumi ini menjadikan wayang potehi dipentaskan dalam bahasa nusantara.

“Sejarahnya waktu dibawa bahasa Hokian selalu mendominasi perantau jadi hampir semua orang Tionghoa di Indonesia bisa pakai bahasa Hokian,” terangnya.

Klenteng Tien Kok Sie akan menggelar kesenian wayang potehi selama 12 hari lamanya, yakni Minggu-Kamis, 17-28 Juli 2022. Terbagi menjadi dua sesi yaitu pukul 16.00-18.00 WIB dan 18.30-20.30 WIB, gelaran kesenian ini terbuka untuk umum. Selama gelaran wayang potehi, masyarakat dapat menikmati hidangan yang disediakan Klenteng Tien Kok Sie secara gratis.

“Setiap hari selama 12 hari, dan ini hari pertama, dibuka untuk umum kita sediakan makanan untuk umum juga, siapapun boleh masuk makan bersama, dan boleh belajar. Sebenarnya cerita-cerita itu kan hanya memberikan suri tauladan, jadi biasanya diceritakan ada kesetian ada keperkasaan dan lain-lain,” tutupnya.

Ditempat yang sama, Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa berharap agar wayang potehi dapat dinikmati semua kalangan.

“Harapannya dibuka kembali 2022 ini wayang potehi bisa dinikmati oleh warga masyarakat, selama 12 hari datang sambil makan, ini gratis,” kata Teguh.

Baginya, wayang potehi mampu menjadi warna kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jangan dimaknai bahwa tempat ibadah kemudian budaya wayang potehi ini sangat berpengaruh kepada kehidupan bangsa dan bernegara, justru akan mewarnai kehidupan bangsa dan bernegara,” tutupnya.