SOLO, MettaNEWS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menambahkan tiga guru besar baru. Ketiga guru besar ini dari jurusan ilmu Sains yaitu Prof. Dr. Dra. Sri Subanti, M.Si dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof. Dr. Yusup Subagio Sutanto, dr., Sp.P(K), FISR, FAPSR. dari Fakultas Kedokteran (FK) dan Prof. Dr. Zainal Arifin, S.T., M.T. dari Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) UNS.
Prof. Dr. Dra. Sri Subanti, M.Si merupakan guru besar ke-23 FMIPA dan ke-248 UNS. Prof. Subanti akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Statistika Ekonomi dengan pidato pengukuhan berjudul Statistika dan Peranannya Dalam Ekonomi.
Prof. Subanti menyebut, dalam perspektif umum, sebagian besar menganggap statistika sebagai sekumpulan informasi dalam bentuk numerik sepanjang kurun waktu tertentu, seperti tingkat pengangguran bulan lalu, tingkat inflasi kuartal lalu, total pengeluaran pemerintah semester lalu, pertumbuhan output tahun lalu, dan sebagainya.
“Meskipun hal ini sah – sah saja, ada perspektif yang lebih baik untuk melihat statistika dalam konteks metodologi yaitu sekumpulan aktivitas untuk mengumpulkan, mengklasifikasikan, meringkas, mengatur, menyajikan, menganalisis dan menafsirkan informasi – informasi numerik tersebut,” tutur Prof. Subanti.
Penerapan statistika dalam penelitian ekonomi, lanjutnya, telah memberikan perspektif kajian baru yang menarik untuk dikaji, sehingga keduanya perlahan berkembang dan menawarkan variasi minat studi.
“Dengan memanfaatkan ide dan teori bidang ekonomi, perkembangan studi yang melibatkan kedua disiplin ilmu ini diharapkan mampu menjawab tantangan dan fenomena ekonomi yang senantiasa dinamis dan diliputi ketidakpastian kedepannya,” ungkapnya.
Kemudian Prof. Dr. Yusup Subagio Sutanto, dr., Sp.P(K), FISR, FAPSR. Guru besar ke-46 FK dan ke-249 UNS. Prof. Yusup akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi dengan pidato pengukuhan berjudul Pemanfaatan Bekicot, Kitosan dan Kulit Durian Sebagai Terobosan Baru Pencegahan Resistensi Tuberkulosis.
Prof. Yusup mengungkapkan, Tuberkulosis (TB) sebagai global emergency merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB). Kasus TB di Indonesia masih cukup tinggi dan diperkirakan masih terdapat 845.000 kasus biasa dan 24.000 kasus TB resisten.
“Pada situasi pandemi Covid-19 pada tahun 2020 dari 845.000 kasus hanya terdeteksi 349.000 dan 860 kasus TB resisten. Data terbaru tanggal 21 Oktober 2021 dari Kemenkes RI menunjukkan kasus TB di Indonesia terdapat 301 kasus per 100 ribu penduduk sehingga menempatkan Indonesia di posisi ke-3 kasus TB terbanyak tingkat global. Kemenkes menargetkan capaian 65 kasus per 100 ribu penduduk dan penurunan angka kematian hingga 6 per 100 ribu penduduk pada tahun 2030,” papar Prof. Yusup.
World Health Organization (WHO) menyampaikan bahwa kasus TB meningkat lagi secara global di tengah pandemi Covid-19. WHO memperkirakan bahwa sekitar 4,1 juta penderita TB belum terdiagnosis atau belum dinyatakan secara resmi, terbukti adanya peningkatan tajam dari angka 2,9 juta pada tahun 2019.
Guru Besar baru UNS yang ketiga aalah Prof. Dr. Zainal Arifin, S.T., M.T. merupakan guru besar ke-20 FT dan ke-250 UNS akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Mesin dengan pidato pengukuhan berjudul “Rekayasa Manufaktur Semikonduktor Sel Surya sebagai Material Energi Bersih Masa Depan”.
Prof. Zainal mengatakan, kebutuhan energi akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan Seiring perkembangan IPTEK dan pertumbuhan penduduk, kebutuhan akan energi dunia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan sumber energi baru terbarukan, secara berkelanjutan.
“Hal ini juga selaras dengan bauran energi Indonesia, yang menargetkan adanya peningkatan penggunaan energi terbarukan sebesar 31% pada tahun 2050. Indonesia mempunyai potensi energi surya sebesar 207,8 GWp yang dapat dikonversi menjadi energi listrik menggunakan sel surya melalui proses photovoltaic,” terang Prof. Zainal.
Pengembangan sel surya generasi ketiga yaitu dye-sensitized solar cells (DSSC) mempunyai tantangan dalam mobilitas elektron. Mobilitas elektron dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi antara semikonduktor dengan sensitizer dalam melakukan injeksi elektron. Mobilitas elektron yang tinggi akan meningkatkan arus listrik yang dibangkitkan oleh DSSC.
“Tantangan ini memotivasi saya, sehingga sejak kurang lebih sepuluh tahun terakhir, saya bersama tim di Laboratorium Energi Surya Fakultas Teknik UNS melakukan penelitian untuk meningkatkan efisiensi dari sel surya DSSC secara bertahap. Penelitian dilakukan dengan cara rekayasa manufaktur. Fokus penelitian saya adalah Rekayasa manufaktur pada bentuk dan struktural semikonduktor untuk meningkatkan mobilitas elektron”, pungkas Prof. Zainal.
Para guru besar ini akan dikukuhkan pada Selasa (19/7/2022) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram.







