BOYOLALI, MettaNEWS – Warga Kedungupit, Sawahan, Ngemplak, Boyolali Melakukan aksi unjuk rasa untuk menutup Tempat Pengolahan Sampah – Reduce Reuse Recycle (TPS-3R) area persawahan setempat, aksi ini didasari dari penumpukan Sampah yang berlebihan hingga bau tak sedap yang tercium ke pemukiman.
TPS-3R tersebut merupakan milik BUMDes yang dibuat oleh desa, namun karena pengelolaan dari sampah tidak bisa cepat sehingga membuat TPS tersebut menjadi seperti TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Diketahui TPS-3R adalah sistem pengolahan sampah dengan inovasi teknologi mesin pencacah sampah dan pengayak kompos yang lebih efektif dan efesien. Hasil pengolahan sampah organik berupa kompos digunakan untuk pupuk tanaman hias dan herbal yang ditanam dilahan sekitar TPS untuk dijual.
Salah satu warga Sawahan yang ikut dalam aksi Danang Catur mengungkapkan, kejadian ini sudah berlangsung 10 bulan dari bulan September 2021.
“Sampahnya udah bau banget, dah hampir setaunan mungkin. Proses pendiriannya itu juga belum ada persetujuan dari warga. Waktu pendirian kita sempat melakukan penolakan, tapi orang yang ngurusi berjanji 3 hari bersih tapi kenyataannya hampir 1 taun ini nggak pernah bersih,” ungkapnya.
Pihak warga sebenarnya juga sudah menghubungi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebanyak 2 kali dan sudah ada respon tapi langkah yang diambil terlalu lambat sehingga warga yang terdampak semakin tersiksa karena beberapa warga sudah ada yang terkena diare.
“Sebenarnya distribusi nya dari Sawahan semua awalnya, tapi sebagian dah nolak sih. Kita dah nggak mau buang di sini. Pengelola sudah kita minta untuk stop tapi nggak mau stop.”ungkapnya.
Danang juga mengatakan sementara ini yang dikeluhkan warga adalah bau yang menyengat dari sampah namun warga juga mengantisipasi bila dibiarkan saja dapat menimbulkan penyakit nantinya.
“Ya karena akibat penumpukan sampah ini, lalat dan bau yang sangat menyengat akan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat yang terdampak.” ungkapnya.
Selanjutnya Danang mengungkapkan jarak dari TPS dengan pemukiman berjarak kurang lebih 200 meter, yang biasanya jalan di pergunakan masyarakat untuk olahraga dan melakukan kegiatan, sekarang memilih menghindari jalan tersebut.
“Sekarang sepi banget, orang-orang menghindar dari sini karena ada sampah. Kalo saya mengakatakan ini bukan TPS, tapi TPA Aslinya ini TPS 3R, tapi ternyata nggak bisa akhirnya jadi TPA,” ujarnya.
“Karena juga belum menerapkan 3R, wong kita di RT-RT belum dibagikan sosialisasi. Kita disini yang tinggal selama 13 taun itu tidak ada permasalahan sampah. Ketika ada TPA TPS di sini baru ada masalah.” Pungkasnya.








