Berstatus Badan Hukum, Universitas Terbuka Bersemangat Mengejar Target Sejuta Mahasiswa

oleh
oleh
Direktur UT Surakarta, Yulia Budiwati (kanan) bersama staf saat event jalan sehat dalam rangka Dies Natalis ke-38 Universitas Terbuka di area CFD Solo, Minggu (19/6/2022) | MettaNEWS/Ari Kristyono

SOLO, MettaNEWS – Universitas Terbuka, di usianya yang menapak 38 tahun, mendapatkan status baru yakni Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH). Dengan status baru ini UT semakin leluasa mengembangkan diri, menyasar target besar, di antaranya memiliki sejuta mahasiswa.

“Ada target-target yang harus dicapai ke depan. Saat ini mahasiswa UT se Indonesia ada sekiar 350 ribu, ke depan harus sejuta. Di Surakarta ada sekitar 8.000, kami kebagian target harus jadi 11.000,” tutur Direktur UT Surakarta, Yulia Budiwati, Msi di sela-sela acara gerak jalan santai keluarga besar UT Surakarta di Car Free Day Solo, Minggu (19/6/2022).

Gerak jalan sehat yang dimeriahkan dengan sejumlah fun game, marching band dan bagi-bagi balon UT ke warga di sepanjang Car Free Day itu berlangsung semarak mesti singkat. Usai berarak-arak di Jalan Slamet Riyadi, keluarga UT Surakarta yang juga mengundang sejumlah rekanan, menghibur diri dengan organ tunggal dan bagi-bagi doorprize.

Yulia memaparkan, salah satu keistimewaan status PTNBH, adalah nantinya UT tidak perlu izin dari Kementerian Pendidikan seandainya ingin membuka atau mengembangkan program studi.

“Kami kan harus berkembang. Sesuai dengan tujuan pendirian UT adalah memberikan kesempatan yang luas bagi semua warga, di mana pun tempat tinggalnya, untuk memperoleh pendidikan tinggi;” ujarnya.

UT saat ini memiliki empat fakultas yakni Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Sains dan Teknologi, serta beberapa program Pascasarjana. Untuk jenjang Doktor, ada dua program S3 Administrasi Publik dan S3 Ilmu Manajemen.

Sistem perkuliahan ditunjang dengan sejumlah perangkat digital yang memungkinkan mahasiswa mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Tak hanya tutorial, ada juga fasilitas perpustakaan digital, bahkan dry lab yang memungkinkan mahasiswa melakukan praktikum virtual seperti di laboratorium yang sebenarnya.

“Kami tentu tidak boleh hanya mengejar kuantitas mahasiswa, tapi UT pun dituntut meluluskan sarjana yang berkualitas dan berdaya saing. Kami diawasi oleh beberapa lembaga. Di internal ada Dewan Pengawas, eksternal ada International Council for Open and Distance Education. Juga ada ISO yang mengontrol kinerja kami di sisi pelayanan,” pungkasnya.