Semarak Festival Jenang Sala, Bagikan 1500 Jenang dari Dapur Gondoroso Keraton Surakarta

oleh
Ganjar pranowo
Putri Solo meletakkan jenang di Semarak Festival Jenang Sala, halaman Kori Kamandungan Keraton Surakarta, Sabtu (18/9/2022) | MettaNEWS | Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Semarak Jenang Sala ke-5 mengusung tema berbeda di halaman Kori Kamandungan, Keraton Surakarta, Sabtu (18/6/2022). Mengusung tema 5 fase kehidupan, festival ini dimenampilkan 5 booth jenang yang dimasak langsung dari dapur Keraton Surakarta, Gondorasan.

Memamerkan 16 jenang keraton, 6 jenis diantaranya yakni jenang sumsum, katul, lemu, grendul pati telo dan abang

sebanyak 1.500 cup dibagikan warga.

Ketua Penyelenggara Festival Jenang Sala 2022, Leni Kustiawati menyebut pembagian jenang ini tidak sebanyak tahun lalu.

“Dulu jenangnya dari perusahaan, dinas UPD BUMN, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Yang didisplay harusnya ada 17 tapi karena di Keraton hanya 16 karena ada satu yang khusus jenang procotan tidak dimasak dan ditampilkan,” beber Leni saat ditemui MettaNEWS, Sabtu (18/6/2022).

Mencoba mengangkat tradisi yang mulai hilang seiring perkembangam zaman, 5 fase ini yakni mantenan, sepasaran, tedak sinten, perjuangan dan kejayaan.

“Booth Mantenan ketika seorang dewasa sudah memulai kehidupan yang baru, setelah itu ada booth ketika hamil, lalu booth sepasaran saat orang tua memberikan nama ke anaknya, setelah anak menginjak satu tahun yaitu mulai berjalan maka kita wujudkan booth tedhak siten yang dilakukan orang-orang Jawa yang sekarang hilang, makanya kita coba angkat lagi,” terang Leni.

“Setelah anak bisa jalan manusia akan menjalani proses kehidupan. Di mana kehidupan itu tidak gampang kita wujudkan dalam booth perjuangan dan kejayaan, kita ibaratkan sawah kalau pengin panen nggak ujug-ujug (tiba-tiba) panen kita ngarit padi di situ kita harus menebar benih, menebar benih pun harus direndam dulu baru direndam di sawah,” jelas Leni.

Setelah tumbuh, padi harus dirawat untuk mendapatkan hasil. Hasil tersebut berrgantung dari cara merawat dan menjalani hidup.

“Setelah itu dikatakan panen bisa gagal baik kalau jaya berarti berhasil diwujudkan dengan padi yang sudah tua, sama seperti manusia bagaimana cara merawat dan menjadi manusia seperti apa,” ungkap Leni.

Antusiasme warga diakui Lina sangatlah banyak, hal ini dilihat dari kehadiran disetiap rangkaian acara mulai dari gunungan jenang, jelajah jenang, masak jenang di Gondoroso, cooking class bareng Masterchef Indonesia Icha dan ibu-ibu PKK se-kecamatan serta plating jenang anak-anak SMK se-Solo. Diakhir puncaknya, kirab kembul agung jenang ditutup dengan tarian prajurit Keraton Surakarta.

Sementara itu, Liswari (58) pengujung dari Surabaya ikut berbeut jenang mengaku baru pertama kali mencicipi jenang sumsum dan grendul.

“Tau festival ini juga baru ini. Kalau di Surabaya ada tapi festival rujak cingur. Seneng jadinya kita tau warna warni kehidupan di Indonesia terutama di Kota Solo,” ucap Liswari.

Diharapkan kegiatan semacam ini dapat dilestarikan dan disebarluaskan.

“Informasinya lebih luas lagi supaya kita tau ada apa di Solo ini. Karena kita taunya selama ini cuma Haritage Colomadu terus Keraton ini aja,” tutupnya.