52 Sekolah dan Madrasah di Jateng Ditetapkan sebagai Adiwiyata, Sekda: Kepedulian Lingkungan Harus Ditanamkan Sejak Dini

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menetapkan 52 sekolah dan madrasah sebagai Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026. Program tersebut dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda sejak dini.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengatakan, sekolah Adiwiyata tidak semata-mata berorientasi pada penghargaan. Lebih dari itu, sekolah menjadi ruang pendidikan untuk membentuk kebiasaan sekaligus kepedulian siswa terhadap berbagai persoalan lingkungan.

“Sekolah Adiwiyata itu adalah sekolah yang lebih peduli lingkungan. Ini menjadi titik yang strategis karena mendidik anak-anak kita untuk lebih menginternalisasi pemahaman tentang kepedulian terhadap masalah lingkungan,” kata Sumarno usai menyerahkan penghargaan dan memberikan arahan pada acara Pembinaan dan Gerakan Peduli Lingkungan untuk Lembaga dan Masyarakat di Jawa Tengah, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kalpataru, Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah. Menurut Sumarno, persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai kepedulian lingkungan perlu diberikan sejak anak-anak masih berada pada usia dini.

“Lebih dini anak-anak kita yang masih bersih, masih suci itu bisa dididik untuk peduli lingkungan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi sekolah-sekolah di Jawa Tengah yang telah berkomitmen menjalankan program Adiwiyata. Menurutnya, penghargaan yang diberikan bukan merupakan tujuan akhir, melainkan pemicu agar semakin banyak sekolah menerapkan gerakan peduli lingkungan.

“Kami berharap apa yang dilakukan sekolah-sekolah ini lebih dikembangkan lagi. Apresiasi ini bukan akhir, tetapi menjadi motor motivasi agar sekolah-sekolah lebih bersemangat dan menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk menjadi sekolah Adiwiyata,” katanya.

Sumarno berharap pengembangan sekolah Adiwiyata dilakukan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak sekolah di Jawa Tengah yang menerapkan budaya peduli lingkungan dalam kegiatan sehari-hari.

79 Sekolah Ikuti Seleksi

Kepala DLH Provinsi Jawa Tengah Heru Djatmiko mengatakan, pada 2026 terdapat 79 sekolah atau madrasah yang mengikuti seleksi Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah.

Peserta seleksi terdiri atas 38 SMA, 16 SMK, tiga SLB, dan 19 madrasah aliyah (MA). Usulan SMA, SMK, dan SLB berasal dari 24 kabupaten/kota, sedangkan usulan MA berasal dari 14 kabupaten/kota.

Setelah melalui serangkaian tahapan seleksi, sebanyak 52 sekolah atau madrasah dinyatakan layak ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 melalui Keputusan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin.

Dari jumlah tersebut, terdiri atas 25 SMA dari 16 kabupaten/kota, 10 SMK dari 17 kabupaten/kota, tiga SLB dari tiga kabupaten/kota, serta 14 MA dari sembilan kabupaten/kota.

Heru menambahkan, hingga 31 Agustus 2026, jumlah Sekolah Adiwiyata di Jawa Tengah pada jenjang SMA, SMK, MA, dan SLB telah mencapai 242 sekolah.

Sampah dan Konsumsi Energi Menurun

Program Adiwiyata juga mulai memberikan dampak terhadap pengelolaan sumber daya dan lingkungan di sekolah.

Berdasarkan capaian pembelajaran hidup hingga 31 Desember 2025, penerapan program Adiwiyata berkontribusi terhadap penurunan timbulan sampah, konsumsi air bersih, serta penggunaan energi.

Timbulan sampah organik tercatat menurun hingga 8.787 ton per bulan. Sementara sampah plastik turun 378,8 ton per bulan dan sampah kertas 306,6 ton per bulan.

Selain pengelolaan sampah, konsumsi air bersih juga turun menjadi 398 meter kubik per bulan. Penggunaan energi listrik tercatat menurun menjadi 5.041 kWh per bulan.

“Dengan adanya sekolah Adiwiyata ada beberapa hal yang menurun dan itu memang memberikan dampak yang signifikan,” kata Heru.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa gerakan peduli lingkungan di sekolah tidak berhenti pada kegiatan seremonial maupun penghargaan. Penerapan kebiasaan ramah lingkungan juga diarahkan untuk memberikan dampak terhadap pengurangan sampah dan efisiensi penggunaan sumber daya.

Pemprov Jawa Tengah berharap semakin banyak sekolah dan madrasah mengikuti gerakan tersebut, sehingga budaya peduli lingkungan dapat tumbuh dari lingkungan pendidikan dan terbawa dalam kehidupan siswa sehari-hari.