26 Desember, Peringatan 18 Tahun Tsunami Aceh, Sejarah Kelam yang Tak Terlupakan 

oleh
Foto pasca Tsunami Aceh 2004 | Dok : Shutterstock (Frans Delian)

MettaNEWS – Tanggal 26 Desember 2004 merupakan hari dimana tsunami Aceh terjadi. Bencana alam yang masih sulit dilupakan oleh masyarakat Aceh karena memakan banyak korban. Kejadian dashyat melanda pantai Aceh usai gempa berkekuatan 9,3 skala richter di Samudera Hindia ini disebut sebagai gempa besar yang pernah terjadi dalam sejarah di dunia.

Dari informasi yang MettaNEWS Himpun, bencana dahsyat ini memakan lebih dari 230.000 hingga 280.000 warga meninggal. Para korban yang hingga saat ini banyak yang tidak terindentifikasi identitasnya, dikuburkan dalam kuburan masal.

Kuburan masal ini terbagi menjadi beberapa tempat yakni di Siron, Lambaro, Lhok Nga, dan Ulee Lheu. Yang saat ini kuburan masal itu menjadi pusat seremonial dan ziarah untuk keluarga korban.

Kejadian ini juga terjadi pada hari Minggu pagi, yang mana pada hari itu semestinya bisa digunakan oleh masyarakat untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati libur akhir pekan bersama. Namun nahasnya masyarakat justru harus berhadapan dengan alam yang tengah mengamuk saat itu.

Gempa dahsyat itu terjadi pada pukul 07.59 WIB. Tidak lama setelah itu, muncul gelombang tsunami yang diperkirakan memiliki ketinggian 30 meter, dengan kecepatan mencapai 100 meter per detik, atau 360 kilometer per jam.

Gelombang ini tidak hanya menghanyutkan warga, binatang ternak, bahkan satu wilayah, namun juga berhasil menyeret sebuah kapal ke tengah daratan. Kapal itu ialah Kapal PLTD Apung yang terseret hingga 3 kilometer dari kawasan perairan.

Dilansir dari djkn.kemenkeu.go.id, Kapal tersebut menjadi saksi bisu dari maha dahsyat bencana di Aceh. Sebuah kapal dengan panjang 63 meter dan berat 2.600 ton ini memiliki mesin pembangkit listrik yang kekuatan dayanya mencapai 10,5 megawatt.

Bagai menggunakan sihir, gelombang tsunami yang maha dasyat mampu menyeret kapal PLTD Apung terseret hingga 3 kilometer ke pusat kota Banda Aceh yang sebelumnya berada di laut tepatnya di pelabuhan penyeberangan Ulee Lheue.

Hingga saat ini kapal berlokasi di Desa Punge Blang Cut, Banda Aceh dan tidak dipindahkan. Bahkan bagian dalam kapal PLTD Apung difungsikan sebagai museum edukasi tentang mitigasi bencana. Yang diisi dengan berbagai informasi dalam berbentuk video ilustrasi tentang proses terdamparnya kapal PLTD Apung.

Tidak jarang, situs ini juga menjadi lokasi field trip bagi anak-anak sekolah untuk memperkenalkan edukasi tentang kebencanaan sejak dini serta Gampong Punge Blang Cut. Hal ini sudah ditetapkan oleh Mawardi Nurdin selaku Wali Kota Banda Aceh sebagai Gampong Wisata dengan surat keputusan Nomor 160 tanggal 22 April tahun 2010 tentang penetapan Sadar Wisata dalam wilayah Kota Banda Aceh.