BANYUMAS, MettaNEWS– Pemerhati Pembangunan Jawa Tengah, Zulkifli Gayo, mengajak generasi muda di Jawa Tengah untuk fokus membangun kompetensi dan memperkuat nilai diri (value) sebagai bekal menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin ketat. Menurutnya, kesuksesan tidak ditentukan oleh kedekatan dengan “orang dalam”, melainkan oleh kemampuan dan kualitas diri yang dimiliki.
Pesan tersebut disampaikan Zulkifli saat menjadi pembicara dalam acara “Ngobrol Inspiratif Bersama Anak Muda” di Pendopo Kabupaten Banyumas, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan ini digelar Gerakan Solusi Indonesia bekerja sama dengan Kejaksaan Negeri Purwokerto, Bank Jateng Cabang Purwokerto, dan Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Di hadapan sekitar 100 peserta yang terdiri atas mahasiswa, pelajar, anggota karang taruna, HIPMI Banyumas, hingga organisasi kepemudaan, Zulkifli menegaskan bahwa anggapan hidup harus memiliki “orang dalam” hanya muncul dari mereka yang tidak memiliki kompetensi.
“Hanya orang-orang yang tidak memiliki kompetensi yang mengatakan hidup harus punya orang dalam. Bagi orang yang memiliki value, itu tidak akan pernah menjadi alasan,” tandasnya.
Untuk memperkuat pesannya, Zulkifli membagikan perjalanan hidupnya sebagai putra daerah dari pelosok Gayo, Aceh, yang lahir dari keluarga dengan orang tua buta aksara. Menurutnya, jika kesuksesan hanya bergantung pada koneksi, maka dirinya tidak mungkin dipercaya ikut menyusun roadmap pembangunan bagi 38 juta penduduk Jawa Tengah.
“Kalau hidup ini harus ada orang dalam, mungkin saya tidak akan bisa sampai pada titik ini. Yang membawa saya adalah kompetensi dan nilai yang terus saya bangun,” tegasnya.
Zulkifli menilai tantangan terbesar generasi Z dan milenial saat ini adalah membangun kemampuan diri di tengah era ketidakpastian atau post-truth. Ia mengingatkan agar anak muda tidak menggantungkan masa depan kepada figur tertentu maupun bekingan politik.
“Anak muda bisa tumbuh dan berkembang tanpa order dan tanpa bekingan. Syaratnya hanya satu, yaitu memiliki value dan nilai yang kuat,” tegasnya lagi.
Selain meningkatkan kompetensi, Zulkifli juga mendorong generasi muda aktif dalam berbagai organisasi. Menurutnya, organisasi menjadi tempat terbaik untuk membangun jejaring, mengasah kemampuan kepemimpinan, sekaligus memperkenalkan potensi diri kepada masyarakat.
“Di organisasilah kita membangun jejaring. Dari yang tidak mampu menjadi mampu, dari yang tidak dikenal menjadi dikenal,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli juga memaparkan tantangan ketenagakerjaan di Jawa Tengah. Berdasarkan data yang dimilikinya, sekitar 20,31 persen penduduk usia 15–24 tahun berada dalam kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training) atau tidak sedang bersekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.
Sementara itu, daya serap lapangan kerja formal diperkirakan hanya sekitar 15 persen.
“Lapangan kerja yang ada hanya sampai 15 persen. Pertanyaannya, sisanya mau dikemanakan?” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan peserta agar tidak menjadi bagian dari kelompok NEET dengan terus meningkatkan kemampuan, memperluas jaringan, dan berani menunjukkan kapasitas di ruang publik.
“Pilihannya, mau berada di kelompok 20,31 persen itu atau bangkit. Kalau tidak, kalian tidak akan pernah dikenal,” katanya.
Tak hanya membahas pengembangan sumber daya manusia, Zulkifli juga mengulas potensi ekonomi Kabupaten Banyumas. Berdasarkan analisis data makro dan spasial, Banyumas dinilai menjadi salah satu pusat gravitasi ekonomi di wilayah Banyumas Raya.
Ia menjelaskan, hasil riset pencahayaan malam (nightlight) menunjukkan Banyumas merupakan salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat setelah Semarang, Surakarta, dan Tegal.
“Banyumas menjadi salah satu sentra gravitasi ekonomi di Banyumas Raya. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan anak-anak muda,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya mobilitas masyarakat melalui Stasiun Purwokerto yang mencatat sekitar 120,33 ribu pengunjung menjadi peluang besar bagi pengembangan usaha, khususnya sektor transportasi, jasa perjalanan, dan distribusi wisata menuju kawasan pegunungan di Banyumas Raya.
Selain itu, ia menyebut sektor industri pengolahan sebagai penyumbang pertumbuhan tertinggi di Banyumas dengan angka 1,92 persen, termasuk industri gula semut yang memiliki prospek bisnis menjanjikan.
Untuk mendorong lahirnya wirausaha muda, Zulkifli mengingatkan tiga tantangan utama yang harus dihadapi pelaku usaha pemula, yakni keterbatasan modal, keterampilan, dan akses pasar. Karena itu, ia mengapresiasi kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Bank Jateng dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM.
“Pertumbuhan ekonomi tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak agar potensi daerah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Selain Zulkifli Gayo, acara tersebut juga menghadirkan Ketua Komisi Kejaksaan RI Prof. Pujiyono Suwadi, Kepala Kejaksaan Negeri Purwokerto Slamet Jaka Mulyana, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, Local Hero Banyumas Mohamad Nurhotim, pemberdaya petani gula semut Akhmad Sobirin, serta perwakilan Bank Jateng Cabang Purwokerto, Supriyadi. Acara diikuti lebih dari 100 peserta dari berbagai perguruan tinggi, sekolah, organisasi kepemudaan, HIPMI Banyumas, hingga PDM Purwokerto.








