SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, meninjau langsung kondisi bangunan TK Gaya Baru III di Kampung Ngoresan, Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Rabu (29/7/2026), menyusul laporan mengenai kerusakan bangunan sekolah yang dinilai membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Dalam kunjungan tersebut, Astrid mendapati sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan cukup parah. Beberapa plafon ruang kelas telah terlepas, atap bangunan tampak melengkung, kerangka atap mengalami pelapukan, hingga kuda-kuda bangunan terlihat retak. Kondisi itu dinilai berisiko apabila kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan di dalam gedung sekolah.
Astrid menegaskan, keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Surakarta. Menurutnya, setiap anak berhak memperoleh layanan pendidikan yang aman, nyaman, dan didukung sarana prasarana yang memadai.
“Yang paling utama adalah memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan dengan baik tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Anak-anak harus mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan layak karena itu merupakan hak mereka,” terang Astrid.
Untuk menjamin kelangsungan proses belajar mengajar, Pemkot Surakarta memutuskan merelokasi sementara kegiatan pembelajaran ke SD Bulu Kantil Ngoresan hingga bangunan TK Gaya Baru III dinyatakan aman untuk digunakan kembali.
“Kami ingin memastikan anak-anak tetap bisa belajar dengan nyaman. Relokasi ini merupakan langkah sementara agar proses pendidikan tetap berjalan sambil menunggu penanganan bangunan sekolah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Astrid juga menyempatkan diri menyapa para siswa yang sedang mengikuti kegiatan belajar di lokasi sementara. Ia berbincang dengan anak-anak, menanyakan aktivitas mereka di sekolah, sekaligus memberikan motivasi agar tetap semangat belajar meski harus berpindah tempat.
“Terus semangat belajar ya. Tetap rajin ke sekolah dan dengarkan bapak ibu guru. Kalian adalah generasi penerus Kota Surakarta yang harus terus belajar dan meraih cita-cita,” pesannya kepada para siswa.
Astrid memastikan Pemerintah Kota Surakarta akan segera berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait untuk melakukan asesmen teknis terhadap kondisi bangunan. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.
“Kami akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melihat kondisi bangunan secara menyeluruh sehingga penanganannya bisa segera dilakukan sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala TK Gaya Baru III, Nanik Santoso, mengatakan kerusakan bangunan sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Awalnya hanya terjadi pada bagian plafon, namun lambat laun kerusakan semakin meluas meskipun sekolah sempat melakukan perbaikan sederhana.
“Awalnya cuma bagian atap. Plafonnya pernah jatuh sendiri, sempat diganti, tetapi sekarang kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi,” ungkap Nanik.
Ia mengungkapkan, beberapa tahun lalu plafon salah satu ruang kelas bahkan pernah ambruk dan menimpa seorang guru. Setelah kejadian tersebut dilakukan penggantian plafon, namun kerusakan kembali muncul hingga kini kondisinya semakin mengkhawatirkan.
Menurut Nanik, TK Gaya Baru III telah berdiri sejak 1980 dengan luas bangunan sekitar 90 meter persegi. Tanda-tanda kerusakan mulai terlihat sejak 2018 dan terus berkembang hingga menyebabkan atap bocor di sejumlah titik.
Saat musim hujan, air kerap masuk ke dalam ruang kelas sehingga mengganggu proses belajar mengajar. Para siswa bahkan harus menunggu lantai mengering sebelum dapat memasuki ruang kelas.
Selama ini, sekolah hanya mengandalkan dana Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sebesar Rp90.000 per bulan dan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) untuk melakukan perbaikan. Namun keterbatasan anggaran diperparah dengan masih adanya tunggakan pembayaran dari sebagian wali murid.
TK Gaya Baru III berdiri di atas lahan seluas 108 meter persegi milik Pemerintah Kota Surakarta dengan izin operasional di bawah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Jebres. Saat ini sekolah tersebut melayani 28 siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga menengah ke bawah.
Melalui peninjauan ini, Pemerintah Kota Surakarta menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan yang berkualitas dengan dukungan fasilitas belajar yang aman, nyaman, dan layak. Langkah relokasi sementara hingga asesmen teknis diharapkan menjadi solusi agar proses belajar mengajar tetap berlangsung optimal sembari menunggu perbaikan bangunan sekolah.








