Tak Hanya Pangan, Pemerintah Siapkan Bensin E10 dari Singkong dan Jagung, Ini Penjelasan Zulhas

oleh
oleh
Memdag Zulhas
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan sidak ke Pasar Malangjiwan Colomadu cek harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok, Rabu (12/7/2023) | MettaNEWS / Puspita

JAKARTA, MettaNEWS – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), memastikan kondisi ketahanan pangan Indonesia saat ini berada dalam posisi yang aman dan semakin mandiri. Di tengah situasi global yang diwarnai kebijakan sejumlah negara membatasi ekspor bahan pangan, pemerintah mengklaim Indonesia telah memiliki stok pangan pokok yang surplus sehingga tidak lagi bergantung pada impor.

Pernyataan tersebut disampaikan Zulhas saat menghadiri Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2026). Menurutnya, berbagai komoditas strategis nasional kini berada dalam kondisi yang mencukupi, mulai dari beras, jagung, gula konsumsi, telur, daging ayam hingga ikan.

“Oleh karena itu, kita mesti swasembada, terutama pangan pokok. Pangan pokok itu beras. Alhamdulillah, kita setahun sudah surplus. Jagung sudah, gula untuk konsumsi sudah, telur sudah, ayam sudah, ikan sudah,” kata Zulhas.

Ia menilai capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Menurut Zulhas, banyak negara kini lebih memilih mengamankan kebutuhan dalam negerinya dengan membatasi bahkan menghentikan ekspor bahan pangan.

Karena itu, ia menegaskan Indonesia tidak boleh bergantung pada pasokan dari luar negeri dan harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

“Tidak ada negara lain yang mau membuat kita, membantu kita. Dalam situasi dunia seperti ini, kita harus membantu diri kita sendiri,” ujarnya.

Zulhas mengatakan pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan nasional sebagai fondasi utama menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Ia menegaskan prinsip kemandirian harus menjadi pegangan Indonesia dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

“Jadi, cukup ketahanan pangan kita untuk kita mandiri, tidak tergantung pada siapa pun. Alhamdulillah, sudah kita dukung sekarang,” katanya.

Menurutnya, selain ketahanan pangan, pemerintah juga tengah mempercepat upaya membangun ketahanan energi agar Indonesia semakin kokoh menghadapi dinamika dunia.

“Jadi memang ketahanan pangan dan ketahanan energi harus betul-betul kita berdiri di atas kaki sendiri,” tegas Zulhas.

Tak hanya berhenti pada sektor pangan, pemerintah kini mulai mengembangkan energi berbasis komoditas pertanian. Setelah mendorong penggunaan biofuel untuk solar, pemerintah bersiap meluncurkan bensin dengan campuran etanol 10 persen atau E10.

Zulhas menjelaskan etanol tersebut dapat diproduksi dari berbagai komoditas lokal seperti singkong, jagung, maupun tebu. Pengembangannya akan dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.

“Sekarang lagi bergerak ke energi. Solar sudah, habis ini nanti bensin kita akan buat E10 dulu. Etanol itu bisa dari singkong, jagung, bisa dari tebu. Kita buat bertahap,” jelasnya.

Dengan kondisi stok pangan yang diklaim surplus dan rencana pengembangan energi berbasis hasil pertanian, pemerintah optimistis Indonesia mampu memperkuat kedaulatan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. Langkah tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperluas pemanfaatan komoditas lokal, serta memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.