SMC RS Telogorejo Semarang Hadirkan Solusi Tingkatkan Kualitas Hidup Bagi Penderita Epilepsi Lewat Operasi

oleh
oleh
RS Telogorejo
Antusias pengunjung di both SMC RS Telogorejo Semarang pada pameran kesehatan di Solo Paragon Mall | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Rumah sakit (RS) Telogorejo Semarang menjadi solusi bagi para penderita penyakit epilepsi. Epilepsi adalah penyakit yang ditandai dengan berulangnya kejadian kejang dan atau kejadian bangkitan lainnya. Seperti hilang kesadaran sesaat, mulut bergumam hingga berteriak sendiri.

Epilepsi atau masyarakat awam mengenalnya dengan sebutan penyakit ayan tidak pandang bulu. Meskipun perkembangan teknologi kesehatan sudah sangat maju namun epilepsi bisa terjadi pada siapapun, usia berapapun juga baik kaya maupun miskin. Bila seseorang mempunyai penyakit epilepsi dapat mengganggu kualitas hidupnya.

Penyebab epilepsi adalah adanya gangguan listrik pada korteks cerebral (bagian otak). Faktor risiko terjadinya epilepsi karena beberapa hal. Seperti gangguan otak yang terjadi saat pembentukan dan perkembangan otak janin mulai dari 1 hingga 2 bulan pertama kehamilan. Proses persalinan sulit yang menyebabkan terganggunya pasokan zat asam ke otak bayi, memiliki Riwayat kejang demam sebelumnya. Kelainan genetic seperti sindrom Angelmann, sindrom Prader Willi.

Sebagai pelopor operasi bedah otak epilepsi, SMC RS Telogorejo Semarang terus bergerak untuk mensosialisasikan pengobatan epilepsi melalui bedah otak.

Profesor ahli bedah saraf RS Telogorejo Prof. Dr. dr. Zainal Muttaqin, Sp.BS (K), Ph.D mengatakan pengobatan epilepsi tidak hanya dengan bedah, sebagian besar dengan obat. Prof. Zainal menjelaskan ibaratnya seperti penderita hipertensi atau penyakit gula yang harus rutin minum obat untuk menormalkan tensi dan kadar gulanya.

“Penderita epilepsi minum obat dengan rutin supaya jangan kambuh. Persoalannya bahwa dari semua penderita epilepsi itu kalau dengan minum obat hanya 70% yang terkontrol. Dengan arti bisa minum obat rutin dan teratur maka tidak kambuh. Jadi misalnya dari 100 penderita itu hanya 70 orang yang bisa tidak kambuh-kambuh lagi,” jelasnya.

Profesor ahli bedah saraf SMC RS Telogorejo Semarang, Prof. Dr. dr. Zainal Muttaqin, Sp.BS (K), Ph.D tengah melayani konsultasi pasien epilepsi | MettaNEWS / Puspita

Prof. Zainal memaparkan hal tersebut saat menjadi nara sumber pada Solo Wellness Tourism and Healing Expo Central Java Region, Features : Wellness, Medical, Holistic, Beauty, and Tourism, Sabtu (9/9/2023), di Solo Paragon Mall. Prof. Zainal mengungkapkan jumlah penderita epilepsi di Indonesia ada sekira 2,5 juta orang dari total 270 juta penduduk Indonesia.

“Kalau kebetulan dia termasuk yang 70% ya selesai. Dengan minum obat teratur sudah terkontrol tidak kambuh. Persoalannya muncul pada mereka yang masih terus berulang kejangnya kambuh terus, meskipun sudah minum obat lebih dari 2 macam. Jadi tidak bisa dia kontrol dengan obat, kebal obat itu kalau dengan minum obat setidaknya minimal 2 obat atau lebih bahkan ada yang sampai 5 obat segala macam masih tetep kejang terus, kambuh,” ujarnya.

Lantas bagaimana dengan 30% penderita yang kebal obat? Prof. Zainal memaparkan mereka yang masuk 30% tersebut mempunyai dua pilihan. Yakni menerima situasi kondisinya atau memilih pengobatan lewat bedah epilepsi.

“Jadi bedah epilepsi ini bukan pengobatan yang sudah ada sejak dulu. Di Indonesia bedah epilepsi mulai ada itu tahun 2000 an. Pertama kali ada bedah epilepsi di Indonesia di RS Telogorejo. Saat ini kami sudah melakukan pembedahan pada lebih 900 orang dari seluruh Indonesia. Kebetulan yang mempelopori itu di SMC RS Telogorejo Semarang,” ungkapnya.

SMC RS Telogorejo pelopor operasi bedah penyakit epilepsi di Indonesia

Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro ini menyebut saat ini rata-rata ada 5 hingga 6 pasien epilepsi yang menjalani operasi bedah otak setiap bulannya.

“Setiap tahun antara 60 hingga 70 orang menjalani bedah epilepsi. Jadi dari yang 30% tadi yang obatnya sudah lebih dari 2 terus pilihan obatnya dan dosisnya menurut dokter sudah betul, sesuai dengan berat badan, usia. Terus kombinasinya sudah tepat, minumnya sudah teratur. Tapi tetap kambuh terus, itu masuk kategori yang kebal obat,” tuturnya.

Pakar bedah saraf ini mengatakan ada sepertiga atau 800 ribu orang dari total penderita epilepsi yang kebal obat.

“Dari 800 ribu orang itu ada 400 ribu yang bisa kita tolong dengan bedah epilepsi. Padahal kita kerja keras sudah 20 tahunan mulai tahun 2000. Yang tertolong baru 900 an orang jadi masih banyak yang bisa kita tolong,” tandasnya.

Profesor lulusan S3 filsafat ilmu kedokteran di Universitas Hiroshima ini menegaskan bila penderita epilepsi sering kambuh minimal 2 kali dalam setahun akan menyebabkan gangguan pada fungsi saraf yang lain.

“Kalau terus kambuh itu nanti yang terganggu otaknya. Seperti kemampuan berpikirnya makin lama makin kurang, daya ingat makin turun. Dan itu hanya bisa kita cegah proses penurunan fungsi itu kalau dia kejangnya bisa kita stop. Dan ternyata dengan bedah epilepsi ini ada separo dari yang kebal obat bisa kami tolong,” katanya.

Profesor yang melayani konsultasi pada expo wellness tourism di Solo Paragon Mall ini menyebut ada dua kunci pemeriksaan sebelum melakukan bedah otak.

“Jadi kuncinya adalah pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi. Pasien akan menjalani pemeriksaan bermacam-macam. Tujuannya menemukan bagian otak yang menjadi sumber kejangnya. Kalau kita bisa temukan sumber kejang itu maka bisa kita tolong dengan pembedahan. Jadi daerah otak yang rusak dalam artian bukan daerah otak normal, sepertinya terlihat normal tapi area itu ada masalah. Sehingga gambarannya seperti aktivitas listrik berlebihan gampang konslet. Kalau konslet ya kambuh kejangnya,” jelasnya.

Yang sulit lanjut Zainal adalah menemukan posisi saraf yang terganggu tersebut. Menemukan bagian otak untuk memastikan yang bermasalah itu area mana.

“Maka dari itu butuh macam-macam pemeriksaan. Kalau yang pengobatan lewat obat ga peduli sumber kerusakannya area mana obatnya sama. Kan tidak ada obat untuk otak kanan, kiri. Tapi kalau mau membedah kita harus yakin dulu asal kerusakan. Jadi bedah ini bukan proses yang sulit oeprasinya. Tapi yang sulit adalah memastikan bagian otak yang menjadi sumber kejangnya,” tandasnya lagi.

Operasi bedah epilepsi tingkatkan kualitas hidup penderita

Meskipun operasi menjadi satu-satunya cara, Zainal menyebut penderita epilepsi tetap harus minum obat secara rutin.

“Tujuannya utamanya bukan supaya ga minum obat. Tapi supaya mereka yang tadinya minum obat 4 hingga 5 macam tapi masih kambuh setelah operasi dengan 1 atau 2 macam obat ga kambuh. Jadi ada 50% pasien yang bisa lepas dari obat, tidak semua bisa lepas. Tetapi yang membuat otak rusak itu kambuhnya. Bukan obatnya. Yang mengganggu hubungan sosial dengan orang lain, di sekolah, tempat kerja itu kambuhnya kan,” ujarnya.

Prof. Zainal menyampaikan rata-rata pasien yang sudah menjalani operasi epilepsi sumber kejangnya bukan pada bagian otak yang nantinya mengganggu fungsi saraf lainnya misalnya fungsi bicara ataupun gerak.

“Rata-rata sumber kejang itu terletak pada bagian otak kita yang kalau itu komputer itu namanya disket kosong, cadangan. Bukan saraf untuk bicara, gerakin tangan atau kaki. Umumnya operasi ini aman. Ini tujuan kita mengatasi supaya jangan kejang, tidak boleh mengakibatkan gangguan lain yang tadinya tidak ada, tidak boleh,” tegasnya.

Untuk mensosialisasikan operasi bedah otak bagi penderita epilepsi, Prof. Zainal menggunakan grup WhatsApp. Menjadi forum saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar penderita epilepsi.

“Itu kita anjurkan untuk sharing dulu, ketemu dengan mereka yang sudah menjalani operasi. Wong ini bukan emergency kok, artinya ini bukan penyakit yang kalau tumor jadi tambah besar, tidak. Ditunda sebulan, dua bulan setahun tidak apa-apa. Tapi yang penting yang bersangkutan dan keluarganya itu sudah mantap dulu. Dengan ketemu pasien lain yang sudah menjalani operasi. Ya kalau perlu ketemu ajak sharing. Karena masih ada beberapa keluarga pasien yang takut dan bingung kok otak dioperasi,” bebernya.

RS telogorejo
SMC RS Telogorejo melayani pemeriksaan kesehatan gratis pada pameran kesehatan di Solo Paragon Mall | MettaNEWS / Puspita

SMC RS Telogorejo membuka both pada expo selama 3 hari pameran. RS Tegalrejo memberikan cek kolesterol, tensi, asam urat dan gula secara gratis pada pengunjung. Juga konsultasi gratis langsung dengan dokter spesialis

“Tujuan bedah epilepsi ini yaitu pasien bebas kejang. Sehingga meningkatkan kualitas hidup penderita epilepsi. Juga menurunkan angka kesakitan, menurunkan gangguan psikososial, dan meminimalkan defisit saraf fokal,” pungkasnya.