SOLO, MettaNEWS – Masih minimnya atlet esports di Jawa Tengah menjadi PR tersendiri. Pada sharing knowledge Digifun Festival yang menghadirkan turnamen Free Fire diikuti 100 peserta di Solo Paragon Mall, Jumat hingga Minggu (26-28/8/2022), Ketua Umum Indonesia Esports Asosiation
(IESPA) Jawa Tengah, BRM Suryo Adhityo Nuswantoro dan Ketua Harian IESPA Jateng Muhammad Zinedine Alam Ganjar menyampaikan bagaimana pesatnya perkembangan esports di dunia.
“Esports ini sudah mendunia. IESPA Jawa Tengah memberikan fasilitas dan wadah untuk para pelaku esports di Jateng. Dari event-event seperti ini menjadi ajang kualifikasi dan mengasah bakat untuk pelaku esports agar lebih serius menekuni olahraga rekreasi ini,” ujar Adhit usai talkshow.
Adhit menegaskan target Jawa Tengah adalah mempunyai atlet sendiri minimal di masing-masing cabang olahraga esports.
“Kalau target Jateng harus ada atlet di semua cabor untuk Pelatnas nanti. Kami tidak mematok jumlah cuma di setiap cabor minimal ada. Kalau kemarin di Sea Games itu dari Jateng cabor Mobile Legend, Free Fire juga ada,” ungkap Adhit.
Adhit menyebut atlet esports Jateng juga sudah menorehkan prestasi pada ajang Fornas di Palembang.
“Di Palembang kemarin ada 10 orang dibagi 3 cabor yakni PUBG Mobile, Mobile Legend dan E Football. Dan E Footbal berhasil mendapat medali emas, PUBG Mobile mendapat medali perunggu. Antar provinsi kemarin di Fornas Palembang,” terang Adhit.
Adhit menyebut turnamen selanjutnya yang akan dihadapi oleh gamer di Jawa Tengah adalah mengikuti kualifikasi dan seleksi untuk bisa menjadi bagian dalam turnamen esports dunia yang rencananya akan digelar 3-11 Desember 2022 di Bali.
“Indonesia menjadi tuan rumah Piala dunia esports yang akan digelar di Bali. Akan diikuti 120 negara. Peraih medali emas di e football Fornas Palembang, Rizal Daniarta dari tim Persis Esports Solo sangat punya potensi tinggi untuk mewakili Jawa Tengah dan Indonesia khususnya di world e sport championship,” tandasnya.

Sementara itu, putra Gubernur Jawa Tengah, Muhammad Zinedine Alam Ganjar, yang juga Ketua Harian IESPA Jawa Tengah menyebut minimnya atlet esports khususnya dari Jawa Tengah ini tidak terlepas dari stigma masyarakat.
Alam Ganjar mengungkapkan, saat ini esport masih dipandang sebelah mata di masyarakat dan belum banyak yang mengetahui bila esports masuk dalam cabang olahraga rekreasi Indonesia.
“Keluarga dan lingkungan kadang tidak mendukung. Padahal mayoritas atlet kita dari Jawa Tengah usia pelajar (SMA dan mahasiswa),” paparnya.
Meskipun begitu, Alam juga menyadari bahwa belajar menjadi prioritas utama bagi para pelajar. Namun dirinya tetap ingin mendorong perkembangan esports di Indonesia khususnya di Jawa Tengah.
“Sebenarnya kami ingin mengusulkan agar esports bisa jadi ekstrakurikuler di sekolah.
Karena esports ini sudah jadi industri besar
Ini jadi tugas kita buat mengembangkan agar para pegiat esport juga terjamin,” ungkap penyuka game PUBG Mobile dan Mobile Legend ini.
Jelang turnamen piala dunia esports di Bali nanti, Alam Ganjar berharap ada atlet yang mewakili Jawa Tengah dan berhasil berprestasi pada ajang ini.
“Harapannya banyak atlet Jateng yang ikut seleksi dan masuk kualifikasi. Karena eman-eman aja dari Jawa Tengah potensinya segede itu tapi ga bisa berkontribusi. Karena memang terkendala birokrasi, administrasi, atau sebatas informasi yang tidak tersampaikan,” pungkas Alam Ganjar.








