SOLO, MettaNEWS – SDN Sondakan menjadi sekolah penggerak angkatan pertama di Solo yang lolos seleksi Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Sekolah Penggerak ini sejatinya merupakan ikhtiar Kemendikbud dalam melakukan transformasi sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik. Seleksi panjang harus dilalui sang kepala sekolah yang menjadi penentu suatu sekolah dapat menjadi Sekolah Penggerak atau tidak.
“Dari 15 ribu kemudian di Kota Solo itu hanya ada 5 Sekolah Penggerak. Di Solo salah satunya yang lolos seleksi SDN Sondakan. Proses seleksi itu dimulai dari administrasi, mengisi esai, simulasi mengajar, tes wawancara, tes skolastik. Jadi tahapan-tahapannya itu dimulai dari awal sampai akhir masuk lolos seleksi sebagai kepala Sekolah Penggerak jika kepala sekolah itu lolos dalam tes seleksi maka sekolah yang dibimbingnya otomatis menjadi sekolah penggerak. Jadi tidak asal itu jadi sekolah penggerak.” ucap Prapti Handayani, Kepala Sekolah saat ditemui MettaNEWS, Kamis (16/6/2022).
Sebagai Sekolah Penggerak, SDN Sondakan telah beralih dari Kurikulum 13 menjadi Kurikulum Operasional Sekolah (KOS). Ditambah program ini juga menerapkan profil pelajar Pancasila yang merupakan projek luar pembelajaran.
“Kemudian setelah mengimplementasikan profil pelajar Pancasila karena dari dulu itu di sekolah penggerak ini sudah mulai berubah dari kurikulum 13 itu adanya RPP KID. Kalau kita di sekolah penggerak ini ada modul, ATP dan JP. Kemudian kurikulum kegiatannya yang lain itu projek di luar pembelajaran sekolah. Di luar projek pembelajaran yang dilakukan satu minggu satu kali di hari Jumat,” jelasnya.
Sekolah Penggerak ini merubah pola pikir lama akan suatu pembelajaran, Prapti menjelaskan kehadiran program ini mampu menghasilkan paradigm baru. Sistem pembelajaran Sekolah Penggerak yang lebih mengarah ke siswa ini dijharapkan mampu menciptakan situasi belajar yang sesuai.
“Ini pembelajaran berpusat pada siswa sehingga pembelajaran jadi bermakna jadi anak-anak senang. Gurunya di sini metode yang digunakan metode eksperimen metode inovasi tidak hanya di dalam kelas diajak keluar kelas. Lingkungan sekolah ini kita sebagai kaki tangan sumber belajar. Harus ada pembelajaran yang benar-benar tau maunya anak itu seperti apa sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa. Kita pun supaya pembelajaran tidak membosankan guru harus melakukan assasment yang pertama adalah assasment diagnostik, bisa dari non kognitif maupun kognitif,” terang Prapti.
Tak lagi berpusat pada guru, system pembelajaran yang diberikan program Sekolah Penggerak memiliki system yang tak membosankan. Di mana para siswa diajak untuk lebih kreatif tak hanya melalui pembelajaran dalam ruangan namun di luar dari itu.
“Dari situ anak guru akan mengetahui anak ini cara belajarnya dengan gimana, verbal, kinestetik, auditorik. Dari situ guru mengajarkan apa yg sudah disesuaikan dengan kemampuan dan yg dibutuhkan anak. Akhirnya anak2 lebih senang pembelajarannya dia yg tadinya sekolah itu males2an jadi semangat juga digitalisasi dimasukkan ke dalam sistem belajar. Di dalam kelas ada komuniakadi yg positif aktif kreatif dan inovatif,” pungkasnya.








