Sampah Sisa Makanan di TPA Putri Cempo, Sumber Kehidupan bagi Peternak Babi

oleh
TPA Putri Cempo
TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo, Rabu (10/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Bau, satu kata yang terlintas ketika menyebut gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Solo. Bagi sebagian orang tempat ini tentunya tidak layak untuk didatangi, kecuali bagi mereka yang bekerja di sini. Mulai dari petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pengantar sampah, pemulung dan peternak, adalah sejumlah profesi yang berkutat ditempat ini.

Bagi para pekerja yang mendapatkan keuntungan dari sampah, bau yang menusuk hidung seolah jadi hal yang biasa dihirup oleh mereka. Bergantung pada kiriman sampah yang datang setiap harinya, para pekerja akan memilah sampah yang dapat dimanfaatkan.

Seperti salah satunya Jegrik (38), peternak babi yang tinggal tak jauh dari TPA Putri Cempo. Jegrik yang sehari-harinya menghabiskan waktu di tumpukan sampah untuk mencari pakan ternak babi ini setidaknya dalam sehari ia mendapat 25 kilogram pakan.

“Lima sampai tujuh karung beratnya sekitar 25 kilogram. Untuk pakan ternak sendiri, pakan ternaknya nggak dijual. Saya cuma nyari ini (pakan babi), saya ngurus sendiri ternaknya,” tutur Jegrik saat ditemui MettaNEWS di TPA Puteri Cempo, Rabu (11/5/2022).

Sudah melakoni pekerjaan ternaknya selama 12 tahun, Jegrik menyebut ternak babi lebih menguntungkan daripada sapi atau kambing. Yang mana di tempat ini, banyak pemulung atau warga sekitar yang memilih hewan ini untuk dijadikan ternak

“Sistem ternak 6 bulan sekali dijual, kalau permintaan khusus nggak ada. Kalau kita untuk bisnis lebih cepat babi, sapi ini butuh waktu tahun-tahunan, kalau harga tergantung beratnya, umur 6 bulan kita harus jual. Pas masih kecil belinya 1 juta,” jelasnya.

Menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan, warga setempat memilih untuk menjadi peternak. Pasalnya para peternak pun bergantung pada sampah yang ada. Sehingga peternak hanya mencari sedikit tambahan untuk pakan ternaknya.

Jegrik yang mulai beraktivitas sejak pukul 08.00 pagi hingga 18.00 petang ini sudah terbiasa berjibaku dengan gunungan sampah sejak kecil. Merupakan warga asli Cempo yang bermukim di RW 36, Mojosongo, Jegrik mengaku selama melakukan aktivitas di TPA Cempo tidak ada masalah yang menimpanya.

“Dari kecil saya, sebelum sekolah SD saya sudah di sini dari tahun 1992,” sebutnya.

Disebutkan Jegrik, saat Ramadan hingga lebaran, ia mampu memperoleh pakan ternak yang lebih banyak untuk 10 babinya. Tidak bisa diliarkan di TPA Cempo, babi miliknya hanya dikandang di rumah.

“Banyak meningkat selama Ramadan dan Lebaran lebih banyak. Kalau makanan babi sisa makanan manusia pokoknya, sayuran, nasi, roti,” sebut Jegrik.