Sabar Gorky Bersiap ke Amerika Serikat, Kampanye Perubahan Iklim di Yosemite National Park

oleh
oleh
Sabar Gorky
Sabar Gorky | dok pribadi

SOLO, MettaNEWS – Pemanjat tebing difabel asal Solo, Sabar Gorky (55) belum juga ingin beristirahat di usianya telah melewati setengah abad. Pertengahan Juni ini, dia bersama sejumlah atlet pemanjat dan pendaki lainnya bakal bertolak ke Amerika Serikat untuk ekspedisi panjat di kawasan Yosemite National Park.

“Berangkat tanggal 14 Juni, kira-kira selama sebulan. Saya bersama lima atlet lain. Misinya, ekspedisi memanjat beberapa tebing di kawasan Taman Nasional Yosemite di California, Amerika Serikat, dalam rangka kampanye perubahan iklim,” tutur Sabar, Selasa (6/6/2023).

Sabar membeberkan, penyelenggara ekspedisi ini Dilans Indonesia dan Ibex, dua organisasi komunitas yang eksis di Kota Bandung. Dilans bergerak menangani kaum penyandang disabilitas dan lanjut usia. Sedangkan Ibex (Indonesia Big Wall Expedition), menghimpun para penggemar olah raga panjat tebing.

Bagi Wong Solo dan siapa pun yang hobi mendaki gunung, nama Sabar Gorky cukup familiar. Pria berkaki satu, namun mampu mendaki gunung-gunung tinggi di berbagai belahan bumi.

Sabar pernah menginjakkan kaki di tiga dari tujuh puncak dunia yang kondang dengan sebutan Seven Summit. Tiga gunung itu Jayawijaya (Cartenz-Papua), Elbrus (Rusia) dan Kilimanjaro (Tanzania).

Selain itu, Sabar pernah berupaya mendaki ke puncak gunung Aconcagua di Argentina. Gunung yang merenggut nyawa pendaki legendaris Indonesia, Norman Edwin di tahun 1992. Sayang, upaya itu gagal karena cuaca ekstrem.

Sabar Gorky, Perjuangan yang Pahit

Saat menapaki puncak Elbrus bertepatan dengan hari kemerdekaan ke-66 Indonesia tanggal 17 Agustus 2011, Sabar memecahkan sejumlah rekor. Dia menjadi orang Asia pertama yang menginjakkan kaki di puncak Elbrus.

Juga dia menjadi tunadaksa kaki satu pertama yang mencapai puncak Elbrus dari sisi utara.

“Waktu itu cuaca buruk, dan ada hambatan lain sehingga kami harus memutar lewat jalur utara yang tiga kali lipat jauhnya dari jalur selatan,” tutur Sabar.

Karena pencapaian itu, salah seorang staf KBRI di Moskow menambahkan nama Gorky di belakang nama Sabar. Nama itu berasal dari Maxim Gorky, sastrawan Rusia. Gorky secara leksikal berarti pahit, dan dia pernah menulis “When everything is easy, one quickly gets stupid.”

“Maksud pemberian nama itu adalah proses kepahitan yang berubah menjadi manis karena kerja keras. Saya gembira dapat nama itu, sehingga mengajukan ke pengadilan di Solo agar tercatat sebagai nama resmi. Kebetulan, sebelumnya saya sering kerepotan saat mengisi dokumen imigrasi. Karena nama saya cuma satu kata saja,” ringkas Sabar.

Mengenai rencana ekspedisi ke Amerika Serikat, Sabar menyebut dirinya menerima ajakan dari Ibex dan Dilans Indonesia. Dalam tim tersebut, dia menjadi satu-satunya penyandang disabilitas.

Pemimpin rombongan adalah Taru J Wisnu, dengan tim pemanjat Freden Sembiring, Deden Wahyudin, Yogi Sugiantoro, Sabar Gorky dan Iqbal Kamal. Sedangkan tim pendukung adalah Sofyan Arief Fesa dan Tatang.

“Persiapan teknis sudah siap. Kemarin kami berlatih di Parang, Purwakarta. Doakan saja tidak ada aral melintang, kami bisa berangkat,” pungkasnya.