RS JIH Solo Jadi RS Swasta Pertama di Jateng-DIY Layani Implan Koklea Anak

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – RS JIH Solo mencatatkan capaian baru dalam pengembangan layanan kesehatan dengan melakukan tindakan implan koklea pada pasien anak.

Layanan tersebut sekaligus menjadikan RS JIH Solo sebagai rumah sakit swasta pertama di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menghadirkan layanan implan koklea.

Implan koklea merupakan perangkat elektronik yang digunakan untuk membantu pasien dengan gangguan pendengaran sensorineural berat hingga sangat berat yang tidak mendapatkan manfaat optimal dari alat bantu dengar konvensional.

Kehadiran layanan ini di RS JIH Solo diharapkan dapat memperluas akses masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, terhadap penanganan gangguan pendengaran secara lebih komprehensif.

Direktur Medik & Keperawatan RS JIH Solo, dr. Wisnu Prima Putra, M.Kes, mengatakan pengembangan layanan implan koklea menjadi bagian dari komitmen rumah sakit untuk menghadirkan layanan unggulan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Hadirmya layanan Implan Koklea di RS JIH Solo merupakan bentuk komitmen kami untuk terus mengembangkan layanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kami berharap layanan ini dapat memberikan pilihan penanganan yang lebih dekat dan komprehensif bagi pasien dengan gangguan pendengaran berat hingga sangat berat di Jawa Tengah,” papar dr. Wisnu, Sabtu (8/8/2026) di RS JIH Solo.

Dokter Wisnu menyampaikan, kehadiran teknologi dan layanan medis tersebut diharapkan tidak hanya memberikan alternatif pengobatan, tetapi juga mempermudah masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan yang sebelumnya lebih terbatas aksesnya.

Tak Sekadar Alat Bantu Dengar

Dokter Spesialis THT-KL RS JIH Solo, dr. Dimas, menjelaskan implan koklea bukan sekadar alat bantu dengar biasa. Perangkat tersebut bekerja dengan memberikan stimulasi listrik secara langsung pada saraf pendengaran.

Sebelum menjalani tindakan, pasien harus melalui serangkaian pemeriksaan dan evaluasi secara menyeluruh untuk memastikan adanya indikasi medis yang sesuai.

“Implan koklea bukan sekadar alat bantu dengar. Perangkat ini memberikan stimulasi listrik pada saraf pendengaran. Pada anak, deteksi dan intervensi sedini mungkin menjadi sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan kemampuan mendengar, bahasa, dan komunikasi,” jelas dr. Dimas.

Meski demikian, ia menegaskan keputusan melakukan implan koklea tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Setiap pasien harus mendapatkan evaluasi sesuai kondisi medis masing-masing.

“Namun, keputusan untuk melakukan implan tetap harus berdasarkan evaluasi dan indikasi medis masing-masing pasien,” tambahnya.

Pasien pertama yang menjalani tindakan implan koklea di RS JIH Solo merupakan seorang anak berusia 12 tahun. Setelah operasi, perjalanan pengobatan pasien masih berlanjut karena perangkat yang telah ditanamkan membutuhkan proses aktivasi dan penyesuaian.

Tahapan berikutnya meliputi aktivasi perangkat, mapping, rehabilitasi pendengaran, hingga terapi wicara yang dilakukan secara bertahap.

Teknologi Harus Diikuti Rehabilitasi

Pelaksanaan tindakan implan koklea di RS JIH Solo juga mendapat dukungan dari PT Nobel, terutama dalam aspek teknologi dan kolaborasi layanan.

Perwakilan PT Nobel, Loewis, mengatakan keberhasilan penggunaan teknologi implan koklea tidak hanya ditentukan oleh tindakan operasi. Proses pemulihan dan adaptasi pasien membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tim medis hingga keluarga.

“Teknologi merupakan salah satu bagian dari perjalanan pasien. Yang tidak kalah penting adalah kolaborasi antara tim medis, proses rehabilitasi, dan dukungan keluarga,” kata Loewis.

Ia mengapresiasi langkah RS JIH Solo dalam menghadirkan layanan implan koklea sehingga masyarakat memiliki akses yang lebih dekat terhadap teknologi tersebut.

“Kami mengapresiasi RS JIH Solo yang telah menghadirkan layanan ini sehingga masyarakat memiliki akses yang lebih dekat terhadap teknologi implan koklea,” imbuhnya.

Keluarga Jadi Bagian Penting

Sementara itu, Public Relations RS JIH Solo, Adil Erdita Ayu Marta, menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam setiap tahapan perjalanan pengobatan pasien.

Menurutnya, keluarga tidak hanya berperan dalam memberikan dukungan selama proses perawatan, tetapi juga perlu memahami tahapan yang akan dijalani pasien setelah tindakan operasi.

“Kami ingin keluarga memahami proses yang dijalani pasien dengan mendapatkan informasi yang jelas dan pengalaman pelayanan yang transparan. Bagi kami, keluarga merupakan bagian penting dalam perjalanan pengobatan pasien, termasuk dalam proses setelah operasi,” ujar Adil.

RS JIH Solo juga memperhatikan aspek keterbukaan informasi kepada keluarga pasien, termasuk kemampuan menghadirkan live operation dengan tetap memperhatikan keselamatan dan privasi pasien.

Hadirnya layanan implan koklea tersebut diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini gangguan pendengaran, terutama pada anak.

Deteksi dan penanganan yang dilakukan lebih awal memungkinkan pasien mendapatkan intervensi sesuai indikasi medis dan kebutuhan tumbuh kembangnya.

RS JIH Solo berharap layanan tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat dengan gangguan pendengaran berat hingga sangat berat sekaligus memperkuat ekosistem layanan yang mencakup pemeriksaan, tindakan medis, aktivasi perangkat, rehabilitasi pendengaran, hingga terapi wicara.

Sebab, bagi setiap anak, kemampuan mendengar dan berkomunikasi bukan sekadar bagian dari kesehatan, tetapi juga menjadi bekal penting untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik.