SOLO, MettaNEWS – Kasus kanker terus meningkat di Indonesia dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi. Di tengah kebutuhan deteksi dini yang semakin mendesak, RS Indriati Solo Baru kini menghadirkan layanan Positron Emission Tomography Scan (PET scan)—salah satu teknologi pencitraan kanker paling sensitif di dunia. Layanan ini diklaim menjadi yang pertama dan satu-satunya di Jawa Tengah dan DIY, memberikan akses lebih dekat bagi pasien yang sebelumnya harus pergi ke Jakarta atau luar negeri.
Dalam wawancara mettanews.id bersama dr. Lim Andreas, SpKNTM, Subsp. Onk. (K), FANMB, Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir konsultan onkologi RS Indriati, ia menjelaskan bahwa PET scan merupakan lompatan besar dalam layanan kanker, terutama dalam deteksi dini, penentuan stadium, hingga evaluasi keberhasilan terapi.
Kanker Masih Mengintai: Payudara hingga Prostat Mendominasi
Menurut dr. Andreas, kasus kanker di Indonesia masih didominasi oleh lima jenis utama. Pada perempuan, kanker payudara dan serviks menjadi yang paling sering ditemukan. Sementara pada laki-laki, jenis yang banyak dijumpai adalah kanker paru, kanker kolorektal, dan kanker prostat.
“Faktor risikonya banyak, mulai dari gaya hidup, paparan lingkungan, hingga faktor genetik,” jelasnya.
Namun tantangan terbesar bukan hanya pada penyebabnya, melainkan bagaimana kanker tersebut dapat ditemukan sedini mungkin.
Kesadaran deteksi dini masyarakat Indonesia menurutnya masih rendah. Banyak pasien gagal menemukan kanker pada stadium awal karena tidak rutin menjalani medical check-up (MCU).
“Masyarakat kita masih takut diperiksa. Takut ketemu masalah. Padahal semakin cepat ditemukan, peluang sembuh justru semakin besar,” ujarnya.
Keterbatasan Alat Konvensional: Ketika Tumor Masih Terlalu Kecil untuk Dilihat
Alat diagnostik konvensional seperti USG, CT scan, dan MRI selama ini menjadi rujukan utama untuk mengevaluasi adanya tumor. Namun, menurut dr. Andreas, alat tersebut bekerja dengan melihat struktur fisik dari tumor.
“CT atau MRI baru bisa melihat kalau sel kanker kalau sudah cukup banyak sel kanker yang berkumpul membentuk massa tumor.” terangnya.
Inilah yang sering menjadi hambatan. Pada stadium awal, sel kanker belum membentuk massa tumor yang signifikan sehingga sulit dideteksi.
Di sinilah PET Scan mengambil peran.

PET Scan: Menangkap “Sinyal Metabolik” bahkan sebelum Kanker Terlihat Secara Struktur
Berbeda dengan CT atau MRI, PET Scan tidak melihat struktur tumor, tetapi melihat metabolisme dari sel kanker. Sel kanker memiliki laju metabolisme gula yang jauh lebih tinggi dibandingkan sel normal.
Zat radioaktif berupa gula buatan bernama FDG (Fluorodeoxyglucose) akan diserap oleh sel kanker yang “rakus”. Sel kanker yang menyerap gula ini akan memendarkan radiasi yang ditangkap oleh PET scan—bahkan meski sel tersebut jumlahnya masih sangat sedikit dan belum membentuk tumor atau massa.
“PET scan itu menggunakan zat radioaktif yang kita sebut FDG, fluorodeoxyglucose. Zat radioaktif ini merupakan analog dari glukosa atau gula. Sel kanker akan “menangkap” gula lebih banyak dibandingkan sel normal. Secara sederhana, PET scan adalah sebuah detektor yang menangkap radiasi yang dihasilkan oleh zat radioaktif yang disuntikan ke dalam tubuh,” paparnya.
Hasil imajing dari PET scan adalah dari ujung kepala sampai ujung kaki, sehingga sangat baik untuk mendeteksi adanya sel kanker yang “menangkap” gula di tubuh pasien. Radiasinya kecil, aman, tapi informasi yang diberikan sangat detail.
“Jika CT atau MRI baru bisa melihat tumor yang sudah terbentuk, PET scan bisa mendeteksi aktivitas sel kanker jauh lebih dini sebelum terbentukan tumor,” kata dr. Lim Andreas.
Membantu 5 Kanker Paling Umum di Indonesia
Dengan sensitivitas tinggi, PET scan sangat bermanfaat untuk lima kanker yang paling sering ditemukan di Indonesia.
- Kanker payudara
- Kanker serviks
- Kanker paru
- Kanker kolorektal
- Kanker prostat
“PET scan membantu dokter menentukan stadium secara lebih akurat, mengevaluasi apakah terapi berjalan efektif, dan memantau apakah ada kekambuhan atau penyebaran baru,” jelasnya.
Bagi pasien yang tengah menjalani kemoterapi misalnya, setelah beberapa siklus terapi dilakukan, PET scan memberi petunjuk apakah obatnya bekerja sesuai harapan. Jika “tangkapan” gula pada area kanker yang terlihat pada pemeriksaan PET scan sebelum terapi sudah berkurang, maka dapat diasumsikan terapi efektif terhadap penyakit tersebut sehingga terapi dapat dilanjutkan. Jika tidak ada perubahan, dokter bisa segera mengubah regimen obat untuk meningkatkan keberhasilan terapi.
“Ini penting sekali agar tidak terjadi overtreatment atau undertreatment,” tegasnya.
Mendeteksi Kanker dari Sumber Utamanya
PET scan juga dapat digunakan untuk mendeteksi kanker dengan unknown primary tumor – yaitu kondisi ketika sel kanker ditemukan merupakan hasil dari penyeberan (metastasis), tetapi sumber awalnya tidak diketahui.
“Misalnya pasien datang karena ada benjolan di tulang. Setelah biopsi, hasilnya metastasis kanker. Tapi primernya dari mana? Di sinilah PET scan bisa menunjukkan pola penyebaran dan memprediksi sumber asalnya, misalnya dari paru atau payudara,” jelas dr. Lim Andreas.
Kemampuan melihat tubuh “dari kepala hingga kaki dalam satu pemeriksaan” membuat PET scan menjadi alat penting di dunia onkologi modern.
Kapan Seseorang Disarankan Menjalani PET Scan?
Menurut dr. Andreas, PET scan dapat dilakukan dalam dua kondisi:
- Orang yang belum terdiagnosis kanker
Jika seseorang merasa memiliki risiko tinggi atau ditemukan penanda tumor (tumor marker) yang meningkat pada MCU, PET scan dapat digunakan untuk mencari sumber kelainan.
“Karena PET scan sensitif, maka cocok dipasangkan dengan pemeriksaan darah. Kalau tumor marker naik, kita cari sumbernya pakai PET Scan,” ujarnya.
- Pasien yang sudah terdiagnosis kanker
Digunakan untuk:
✓ Menentukan stadium awal
✓ Menentukan rencana terapi
✓ Menilai keberhasilan terapi
✓ Menilai kambuh atau tidak
✓ Menemukan sumber kanker primer
Setelah pengobatan selesai, pasien disarankan menjalani PET Scan setiap 6 bulan selama dua tahun, kemudian setahun sekali untuk mencegah keterlambatan mendeteksi kekambuhan.
Prosedur PET Scan: Aman, Terkontrol, dan Dapat diikuti Pasien Gagal Ginjal
PET scan menggunakan zat radioaktif dosis kecil dengan waktu paruh hanya 110 menit. Artinya, paparan radiasi berkurang setengahnya setiap dua jam. Dalam 24 jam, radiasi praktis hilang dari tubuh.
“Karena sifatnya yang cepat hilang, PET scan aman bagi hampir semua pasien, termasuk penderita gagal ginjal,” jelas dr. Andreas.
Alur PET Scan di RS Indriati Solo Baru
- Konsultasi awal : Dokter menilai riwayat penyakit, terapi yang sudah dilakukan, dan menentukan indikasi pemeriksaan.
- Penjadwalan : Obat radioaktif harus dipesan, sehingga pemeriksaan dilakukan by appointment.
- Persiapan pasien : ganti baju RS, cek tekanan darah dan berat badan, cek gula darah (harus <200 mg/dl)
- Penyuntikan FDG : Dilakukan di ruang khusus bertimbal.
- Masa Uptake 1 jam : Pasien beristirahat sambil menunggu gula radioaktif beredar di seluruh tubuh dan “ditangkap” oleh sel – sel yang “menangkap” gula.
- Pemindaian 25–30 menit : tubuh difoto dari kepala hingga kaki.
- Pemantauan radiasi dan istirahat 30–60 menit
- Hasil keluar 2–3 hari
Total proses memakan waktu sekitar 4–5 jam.

Satu-satunya di Jawa Tengah dan Yogyakarta
Hadirnya PET Scan di RS Indriati Solo Baru memberi angin segar bagi pasien kanker di wilayah Jawa Tengah dan DIY.
“Selama ini mereka harus ke Jakarta atau luar negeri. Perjalanannya panjang, kondisi pasien kadang tidak stabil. Dengan hadirnya di Solo Baru, beban biaya dan perjalanan bisa ditekan,” ujar dr. Lim Andreas.
Menurutnya, ini bagian dari komitmen RS Indriati untuk menghadirkan pusat layanan kanker terlengkap di Jawa Tengah.
Indriati Comprehensive Cancer Center, Pusat Layanan Kanker Terpadu
RS Indriati Solo Baru telah mengembangkan Indriati Comprehensive Cancer Center, sebuah pusat layanan kanker yang menyediakan layanan terpadu dari diagnosis hingga terapi.
Fasilitas yang sudah tersedia meliputi:
- Radioterapi (LINAC)
- Kemoterapi
- Dokter spesialis bedah konsultan onkologi
- Dokter spesialis penyakit dalam konsultan onkologi
- Dokter spesialis anak konsultan onkologi
- Dokter spesialis kandungan konsultan onkologi
- Dokter spesialis Paru, THT, dan berbagai spesialis lainnya konsultan onkologi
- Layanan patologi anatomi internal
Dengan tambahan PET scan, RS Indriati menjadi rumah sakit dengan layanan kanker paling lengkap di Jawa Tengah dan DIY.
“Pasien tidak perlu pindah-pindah rumah sakit. Semua bisa dilakukan di satu tempat,” ungkapnya.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat untuk Deteksi Dini
Dokter Lim Andreas kembali menekankan pentingnya pemeriksaan rutin untuk mencegah keterlambatan deteksi kanker.
Bagi masyarakat dengan risiko lebih tinggi, misalnya memiliki riwayat keluarga atau hasil pemeriksaan genetik menunjukkan predisposisi, screening harus dilakukan rutin secara berkala.
“Tidak harus langsung PET Scan. Bisa mulai dari pemeriksaan darah, tumor marker, atau pemeriksaan khusus seperti pap smear untuk serviks dan mamografi untuk payudara,” sarannya.
RS Indriati sendiri kini memiliki mamografi digital yang lebih sensitif dan tidak terlalu menimbulkan rasa sakit.
Harapan ke Depan, Akses Lebih Mudah, Kesempatan Sembuh Lebih Besar
Bagi RS Indriati, kehadiran PET scan bukan sekadar menambah fasilitas, tetapi membuka peluang baru bagi pasien untuk mendapatkan diagnosis dan terapi yang lebih tepat.
“Harapannya masyarakat tidak lagi perlu pergi jauh hanya untuk PET scan. Kondisi pasien kanker kadang tidak kuat perjalanan panjang. Dengan adanya layanan di Solo Baru, mereka bisa mendapat layanan berkualitas tanpa harus ke ibu kota atau sampai ke luar negri,” ujar dr. Lim Andreas.
Ia berharap masyarakat semakin sadar bahwa deteksi dini adalah kunci keberhasilan terapi kanker.
“Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang sembuh. PET scan dapat membantu menemukan kanker bahkan sebelum terlihat secara struktur. Ini revolusi untuk layanan kanker di Jawa Tengah,” pungkas dr. Lim Andreas.









