BOYOLALI, MettaNEWS – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi meningkat cukup signifikan. Sejak Rabu (9/3) hingga Kamis (10/3) malam, berkali-kali awan panas guguran meluncur dari puncak hingga jarak 5 km ke arah tenggara. Meski demikian, fenomena alam itu tidak mengusik ketenteraman warga Dusun Setabelan yang hanya berjarak sekitar 3 km dari puncak Merapi.
“Semalam kami malah tidak mendengar apa-apa, padahal warga sedang berkumpul karena ada tetangga yang sakit, Tahu-tahu hujan abu sampai siang ini,” ujar Karsono alias Kliwon (64) seorang petani yang ditemui MettaNews di rumahnya, Kamis (10/3/2022).
Rumah Karsono, terletak berbatasan dengan hutan dan tegalan di ujung selatan Dusun Setabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali. Untuk menuju Desa Tlogolele, dari jalan raya Boyolali-Magelang, belok kiri di depan SMP 2 Selo, menyusuri jalan desa yang berliku-liku menyeberangi dua jembatan. Salah satu dari jembatan itu melintasi Kali Apu yang menjadi saluran besar lahar Merapi.
Karsono menuturkan, di seberang Kali Apu hulu di ketinggian yang sama dengan Dusun Setabelan, pernah ada Dusun Pencar. Namun letusan Merapi tahun 1954 telah memusnahkan dusun yang terletak di wilayah Desa Klakah Kecamatan Selo itu. Puluhan orang tewas, dan sampai kini bekas Dusun Pencar sudah berubah menjadi tegalan dan hutan, plus hamparan sejumlah makam dari korban bencana waktu itu.
“Bapak saya menyaksikan musibah itu secara langsung. Tapi juga saat itu pun, warga Setabelan tidak mengungsi. Kami secara turun menurun diajarkan, jika Merapi mengeluarkan lahar atau awan panas, yang utama warga tidak boleh gaduh. Tetap tenang, lalu menyalakan obor di rumah masing-masing. Itu cara terbaik untuk luput dari bahaya,” ujarnya.
Sore kemarin, Karsono juga tetap tenang bersama keluarganya. Dia memberi makan lembunya yang cuma seekor, serta merawat tanaman cabai yang menjelang masa berbuah. Hujan abu yang menaburi lahannya, justru membawa berkah karena menyuburkan tanah serta menghalau bermacam hama dan penyakit tanaman.
Bertahun-tahun warga tidak terbiasa mengungsi. Karsono mengakui, ketika pemerintah sudah lebih “pandai” mengatur, warga pun tak keberatan untuk patuh.
“Sekarang kan sudah ada peralatannya, gunung mau meletus pasti diketahui. Seperti tahun 2010, sebagian warga di sini mau mengungsi dan kemudian memang terbukti dusun kami terimbas. Saat itu, yang tidak mengungsi hanya para pria yang masih muda, karena kami ini juga harus mengurusi ternak yang menjadi penghidupan sebagian besar warga,” imbuh Karsono.
Ketenangan Warga Jadi Modal
Ketenangan dan kesiapan warga asli lereng Merapi menghadapi bencana, menjadi catatan khusus aparat pemerintah. Seperti dituturkan Basuki, Koordinator Unit Siaga SAR Borobudur yang menjadi ujung tombak Badan SAR Nasional untuk Gunung Merapi di wilayah Magelang.
“Kami dari Basarnas, juga dari perangkat lain seperti Pemkab dan BPBD, punya kontijensi darurat Gunung Merapi. Di antaranya, kalau terjadi status Awas atau kejadian lainnya, ujung tombak adalah para relawan yang sudah dilatih di masing-masing desa. Dari beberapa kali simulasi, ini acara paling efektif dan aman,” ujarnya.
Basuki menilai, warga yang hidup di lereng Merapi, sesungguhnya sudah sangat paham apa yang harus dilakukan saat Merapi bergejolak. “Sehingga, kami tinggal memberikan dukungan sesuai kebutuhan di masing-masing situasi,” imbuh Basuki.








