Rayakan Hari Wayang Dunia 2026, Komunikotavisual Ajak 100 Siswa SD Berkreasi Membuat Wayang Mini

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Sekitar 100 siswa kelas V dan VI SD Negeri Dadapsari, Pasar Kliwon, Surakarta, diajak mengenal seni pewayangan melalui kegiatan membuat wayang mini dengan teknik mewarnai, menggunting, dan menempel.

Kegiatan yang diprakarsai Komunikotavisual bekerja sama dengan Sanggar Omah Wayang Mas Kamto, Sukoharjo, tersebut digelar di aula SD Negeri Dadapsari, Jumat (6/11/2026), dalam rangka menyambut peringatan Hari Wayang Dunia yang jatuh setiap 7 November.

Suasana aula sekolah tampak ramai oleh aktivitas para siswa. Berbekal spidol, pensil warna, krayon, gunting, dan perekat, mereka menuangkan kreativitas dengan menghias berbagai karakter wayang, seperti Petruk, Arjuna, Werkudara, dan tokoh pewayangan lainnya.

Setelah diwarnai, gambar wayang digunting mengikuti pola, kemudian dipasangi gapit sederhana menggunakan tusuk sate. Hasil karya tersebut selanjutnya ditancapkan pada debog atau batang pohon pisang yang biasa digunakan dalam pertunjukan wayang kulit.

Pemandangan menarik terlihat ketika para siswa dengan bangga menancapkan wayang mini hasil karya mereka. Sesekali mereka tersenyum dan saling menunjukkan hasil kreasi kepada teman-temannya.

Mengenalkan Wayang Lewat Aktivitas Kreatif

Co-Founder Komunikotavisual sekaligus penggagas kegiatan, Basnendar Herry Prilosadoso, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menyambut Hari Wayang Dunia 2026 sekaligus mengenalkan seni tradisi wayang kepada generasi muda melalui pendekatan yang mudah dipahami.

Menurutnya, anak-anak perlu mendapatkan pengalaman langsung agar lebih dekat dengan warisan budaya Nusantara. Salah satunya melalui aktivitas kreatif yang memungkinkan mereka berkreasi dan berekspresi.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diperkenalkan dengan berbagai tokoh pewayangan, tetapi juga diajak membuat sendiri wayang mini mulai dari proses mewarnai, menggunting, hingga memasang gapit sederhana.

Basnendar menjelaskan, kegiatan kreatif semacam ini juga menjadi bagian dari program rutin Komunikotavisual sebagai komunitas yang memiliki perhatian terhadap edukasi masyarakat melalui beragam seni dan budaya.

Dengan melibatkan anak-anak secara langsung, pengenalan wayang diharapkan tidak berhenti sebatas pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membekas.

Belajar Tokoh Wayang Bersama Dalang

Selain praktik membuat wayang mini, para siswa juga mendapatkan edukasi mengenai dunia pewayangan dan pedalangan bersama dalang Tri Haryoko dari Sanggar Omah Wayang Mas Kamto.

Kegiatan diawali dengan mengajak siswa menyanyikan sejumlah tembang dolanan anak, seperti Menthog-Menthog dan tembang tradisional lainnya.

Suasana menjadi lebih interaktif ketika siswa mulai dikenalkan dengan berbagai tokoh wayang beserta karakter dan cerita yang melekat pada masing-masing tokoh.

Pengenalan tersebut menjadi pelengkap aktivitas membuat wayang mini. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengenal bentuk visual tokoh pewayangan, tetapi juga mengetahui nama, karakter, dan keberadaannya dalam cerita tradisional.

Tokoh Petruk, misalnya, dikenalkan sebagai salah satu anggota Punakawan. Sementara tokoh Arjuna dan Werkudara menjadi bagian dari karakter pewayangan yang memiliki kisah dan kepribadian masing-masing.

Kepala Sekolah: Anak Lebih Mengenal Wayang dari Hasil Karyanya Sendiri

Kepala SD Negeri Dadapsari, Nuning Harmini, menyambut positif kegiatan edukasi budaya tersebut. Menurutnya, penggunaan media wayang mini memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret bagi siswa.

Anak-anak dapat mengenali tokoh wayang melalui gambar yang mereka warnai dan bentuk sendiri. Proses tersebut juga memberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas dan kepekaan seni.

“Melalui kegiatan ini siswa lebih merasakan. Oh, itu wayang yang saya pegang ini namanya Petruk, salah satu tokoh Punakawan. Terus diwarnai. Mewarnai berarti ada rasa seni,” ungkap Nuning di sela-sela kegiatan.

Ia menilai aktivitas mewarnai, menggunting, dan merangkai wayang sederhana membuat siswa lebih mudah memahami materi karena mereka terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Pengalaman menancapkan wayang mini pada debog juga memberikan gambaran kepada anak-anak mengenai salah satu bagian penting dalam pertunjukan wayang kulit.

Menjaga Warisan Budaya Lewat Generasi Muda

Peringatan Hari Wayang Dunia menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali seni pewayangan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Wayang bukan sekadar karya seni pertunjukan, melainkan juga menyimpan nilai pendidikan, karakter, filosofi, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui kolaborasi Komunikotavisual dan Sanggar Omah Wayang Mas Kamto, pengenalan budaya tersebut dikemas melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak-anak.

Keterlibatan sekitar 100 siswa SD Negeri Dadapsari menunjukkan bahwa seni tradisi dapat diperkenalkan melalui pendekatan kreatif tanpa harus selalu menggunakan metode pembelajaran formal.

Dari selembar kertas, warna-warni krayon, gunting, dan tusuk sate, para siswa mendapatkan pengalaman mengenal tokoh pewayangan sekaligus belajar menghargai warisan budaya bangsa.

Upaya sederhana ini diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan anak-anak terhadap seni wayang sehingga tradisi tersebut tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.