JAKARTA, MettaNEWS – Unggahan Putra Mahkota Keraton Kasunanan Surakarta, KGPAA Hamengkunegoro, atau Purbaya yang berisi sindiran terhadap pemerintah, menjadi perbincangan di media sosial. Dalam akun Instagram pribadinya, ia menuliskan kalimat kontroversial: “Nyesel Gabung Republik” serta “Percuma Republik kalau hanya untuk membohongi”.
Banyak pihak yang menilai pernyataan ini mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat. Penasihat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar, Prof Dr KPA Henry Indraguna, menilai bahwa kritik tersebut lahir dari kondisi nyata yang dirasakan masyarakat.
“Kami memahami kegelisahan Putra Mahkota. Kasus korupsi Pertamina, PHK massal di Sritex akibat impor tekstil, serta skandal timah Rp 271 triliun adalah bukti bahwa rakyat benar-benar dirugikan,” kata Henry, Sabtu (8/3/2025).
Salah satu isu utama yang disorot adalah janji Daerah Istimewa Surakarta yang diberikan sejak 1946, namun hingga kini belum terwujud.
“Keraton dan warga Solo seolah ditinggalkan tanpa hak istimewa yang dijanjikan,” imbuh Henry.
Meski menuai pro dan kontra, kritik tersebut diharapkan menjadi peringatan bagi pemerintah agar kembali berpihak kepada rakyat.
“Ini bukan penolakan terhadap NKRI, melainkan seruan agar pemerintah menepati janji kemerdekaan,” tegas Henry.
Prof Henry menutup pernyataannya dengan harapan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi keresahan rakyat.
“Pengelola negara harus bertindak, karena rakyat dan kepentingan bangsa harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya.








