SOLO, MettaNEWS – Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2023/2024 Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Kota Solo dimulai secara perdana di SMPN 1 Solo.
“Sudah (buka), tahun ini kita SKO bukan KKO (Kelas Khusus Olahraga-red). Sementara masih ikut di SMPN 1 kalau akhir semester mungkin Januari kita akan pindah ke gedung baru di depan bekas SMPN 3 Solo,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo Dian Rineta, Rabu (7/6/2023).
Dinas Pendidikan Kota Solo telah merubah program KKO di SMPN 1 Solo menjadi SKO. Tahun 2024 SKO ini akan berpusat di eks SMPN 3 Solo.
“Progresnya jalan, bagus, lancar. Targetnya memang selesai lelangan langsung sesuai kontraknya memang akhir November nanti persiapan dan uji coba. Kita targetkan akhir tahun sesuai pembayaran selesai nanti awal tahun kita pindah ke sana,” terangnya.
Menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Solo, revitalisasi tidak sampai Rp 5 miliar.
“Pembangunan SKO di bawah Rp5 miliar karena bukan pembangunan ya, revitalsiasi. Jadi sebagian (gedung) yang tidak kita perlukan kita buang, yang perlu kita perbaiki tengahnya kita buat lapangan,” katanya.
Dian mengatakan bahwa pada tahap pertama SKO ini pihaknya menyediakan kuota pendaftaran untuk 64 siswa. Seleksi masuk SKO, kita samakan dengan prosedur kelas khusus olahraga (KKO).
“Masih tetepa sama, 64 (kuota siswa),” pungkasnya.
Serangkaian Tes Sekolah Khusus Olahraga
Panitia PPDB SKO dari Dinas Pemuda dan Olahraga Solo, Sugeng Haryadi mengatakan calon peserta didik harus mengikuti beberapa tes seperti tes psikologi, tes kesehatan, tes kemampuan khusus untuk cabang olahraga yang dipilih.
Maupun tes fisik umum seperti kekuatan, kelincahan, kecepatan dan ketahan fisik. Serta pemeriksaan antommetri atau bentuk tubuh untuk memprediksi perkembangan anatomi fisik siswa. Mental para calon peserta didik pun akan teruji dalam beberap tes seleksi tersebut.
Hasil tes tersebut merupakan dasar penentu apakah peserta didik tersebut diterima atau tidak sebagai siswa di SKO.
“Yang bisa membuat nilai itu sendiri saat tes. Paling banyak anak itu jatuh pas tes fisik umum. Kalau tes cabor kan pelaksanannya setiap hari tetapi jangan salah misalnya yang tes cabor voli kebetulan pas penilaian smash-nya lemah juga ada kan. Makanya tes fisik umum itu harus jadi yang paling diperhatikan para peserta,” ujarnya.
“Saya sampaikan ke orangtua pokoknya harus yang terbaik. Kalau lari harus paling cepat, kalau tes kekuatan juga harus paling kuat. Jadi yang membuat nilai itu anak itu sendiri. Hasil tes itu ukuran keberhasilan,” sambungnya.







