SOLO, MettaNEWS – Dua museum besar yakni Museum Keris Nusantara Solo dan Museum Gubug Wayang Mojokerto berkolaborasi untuk mengembalikan memori kelompok lawak Srimulat tetap eksis di kota asalnya, Solo melalui sebuah Pameran Wayang Golek Srimulat Abadi bertajuk 70 Tahun Srimulat Tak Pernah Tamat.
Acara ini juga sekaligus meluncurkan sebuah buku “Berpacu Dalam Komedi dan Melodi Teguh Srimulat”. Buku yang berisikan perjalanan kelompok lawak yang dibuat oleh Raden Ayu Srimulat dan Teguh Slamet Rahardjo di Solo pada tahun 1950. Hingga bagaimana kelompok lawak ini melegenda di Indonesia.
Digelar di Museum Keris Nusantara Jalan Bhayangkara, Sriwedari, Kota Solo, pameran ini berlangsung sejak 8 Agustus hingga 8 September 2023.
“Kenapa di pilih wayang golek Srimulat ini karena Srimulat ada dan berasal dari Solo juga. Sehingga ingin memorinya dikembalikan ke Solo begitu sehingga ahkirnya ini Srimulat yang kita pilih untuk tema yang pertama di Museum Keris. nanti di bulan Oktober rencananya gantian kami yang ke Museum Gubug Wayang membawa koleksi kami,” ujar Kepala UPT Musem Keris Nusantara Solo, Bonita Rintyowati kepada MettaNEWS, Selasa (8/8/2023).
Berkembang lewat panggung Taman Balekambang Solo, kelompok Srimulat menyuguhkan pertunjukan musik dan gaya lawakan yang khas pun mampu menjadi resep ampuh untuk menarik penggemar pada masanya.
Kini Srimulat sudah menginjak usia ke 70 tahun. Waktu yang tak sebentar untuk mempertahankan sebuah kelompok lawak tetap Berjaya di era yang kian banyak berubah. Ketenaran kelompok lawak ini tak terlepas dari peran Srimulat dan Teguh. Kisah inilah yang menginisiasi ditulisnya buku “Berpacu Dalam Komedi dan Melodi Teguh Srimulat”.
“Ibu Srimulat dan pak Teguh ini adalah tokoh yang betul-betul cukup fenomenal ya kalo zaman dahulu sampai menciptakan suatu grub lawakan yang sangat membumi dan sampe sekarang sampai 70 tahun ya masih bisa bertahan ketenaranya. Walaupun mungkin bintang-bingtang nya sudah mulai sepuh tetapi sebenarnya intinya Srimulat ini pemberdayaan bumi putra kalo aku bilang,” terangnya.
Direktur Museum Gubug Wayang, Zura Nur Ja Ana menyebut ada 18 wayang golek Srimulat yang dipamerkan dalam acara ini. Namun tidak menutup kemungkinan pula pihaknya akan melakukan penambahan dan penukaran koleksi.
“Karakter utama, ibu Srimulat, pak Teguh, dan ibu Jujuk itu 3 karakter utama. Lalu ada Gepeng ini kan yang fenomenal juga sebagai batur dan sebagainya, dengan serbetnya. Kita masih lihat lagi kedepan antusiasme dari masyarakat bagaimana untuk selain wayang golek,” ujarnya.
Selain memamerkan wayang golek anggota Srimulat, pameran ini juga menyuguhkan kaset, foto-foto lama perjalanan Srimulat, penampilan Srimulat di acara pembukaan dan ada pula penampilan keroncong dan pemutaran film Srimulat.
Pameran ini merupakan misi memperkenalkan kembali Srimulat kepada masyarakat Solo. Terlebih kehadiran Srimulat di Solo kala itu menjadi hiburan utama selain ludruk, ketoprak, wayang orang, dan pentas seni lainnya.
“Dari dulu sebelum Indonesia merdeka sampai sekarang yang mencairkan suasana itu Srimulat. Meski lantaran perkembangan zaman dan personel yang mulai berkurang jadi semakin meredup. Maka ini kita hadirkan kembali,” kata dia.








