NASA Jajaki Kerja Sama Industri Supporting Luar Angkasa dengan Indonesia

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – National Aeronautics and Space Administration (NASA), VOYAGER SPACE, NASA HUNCH, OCCULLOSPACE untuk pertama kalinya menjajaki kerja sama dengan Indonesia berkaitan dengan produk industri luar angkasa.

Dalam hal ini, NASA memggandeng PT Ikon Aviasi Indonesia dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan ekosistem penelitian luar angkasa. Dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang produk-produk luar angkasa di Indonesia.

NASA mensosialisasikan perkembangan induatri luar angkasa ini dalam seminar Antariksa dengan tema : Igniting ASEAN’S Space Exploration Oddyssey di Solo Techno Park, Minggu (5/5/2024).

Acara ini disponsori oleh Pertamina (persero) sebagai BUMN terbaik dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Founder OculloSpace, Dr Franco Gan mengatakan Indonesia dipilih sebagai negara pertama dalam roadshow yang digelar oleh NASA.

“NASA melihat Indonesia memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan antartika. Lokasi tempatnya juga sangat bagus untuk belajar space dan produk turunannya. Potensi di Indonesia tidak hanya satu bidang, tetapi bisa membentuk sebuah ekosistem industri space. Seperti mulai dari pabrik, sperpart, dan semua komponen di Indonesia sudah menyediakan. Dan ini bisa berjalan dalam jangka panjang,” jelas Dr. Franco usai seminar.

Namun Franco mengingatkan untuk memulai industri luar angkasa butuh proses yang panjang. Dengan demikian Indonesia harus mempersiapkan mulai sekarang. Dengan mengenalkan secara kontinue lewat jalur pendidikan. Mulai usia dini hingga perguruan tinggi.

“Kita bangun dari sekarang mulai dari NASA HUNCH project dan OCCULLOSPACE. Memulainya dari dunia pendidikan, semua siswa mulai dari TK hingga perguruan tinggi yang membicakan soal antariksa. Kita mulai dengan berjalan step by step,” terangnya.

Vice President of NASA HUNCH (USA) Program, Scott Rodriguez menyampaikan misi NASA HUNCH. Yakni untuk memberdayakan dan menginspirasi siswa melalui program ‘Pembelajaran Berbasis Proyek’.

“Program tersebut memberi kersempatan siswa sekolah mengembangkan keterampilan dan memiliki kesempatan untuk meluncurkan aplikasi mereka melalui partisipasi dalam desain dan pembuatan produk bernilai dunia nyata untuk NASA,” kata Scott.

Untuk memulai itu, lanjutnya, harus menambah sistem edukasi di Indonesia tentang antariksa saat ini.

“Langkah sederhana yang bisa diambil adalah dengan meningkatkan ketertarikan para siswa di sekolah menengah. Tentang space industri sebelum nantinya mereka dapat mengimplementasikan di jenjang perguruan tinggi,” tandasnya.

NASA HUNCH sendiri saat ini telah memiliki kurang lebih 500 program di 190 Sekolah Menengah Atas, dengan jumlah siswa 3.200 di 5 pusat NASA. Program tersebut tersebar di 37 negara bagian di Amerika Serikat. Mereka merancang, mengembangkan, dan memberikan penerbangan luar angkasa, pelatihan, dan produk informasi kepada NASA, dan telah berjalan sejak tahun 2003.

Ada 8 bidang fokus utama yang dikembangkan oleh NASA HUNCH yakni.
• Perangkat Keras (Pemesinan Presisi)
Softgoods (Artikel Penerbangan)
• Desain & Prototipe
• Konfigurasi Penerbangan
• Kuliner (Ilmu Pangan)
• Video & Media
• Perangkat lunak
• Ilmu biomedis

Saat ini terdapat lebih dari 1500 item diproduksi untuk penerbangan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, mewakili sekitar 30.000 penerbangan individu.

Sementara itu, Dewan Pengarah BRIN Prof Dr Ir Marsudi Wahyu Kisworo berharap potensi sumber daya angkasa di Indonesia sebagai salah satu sumber ekonomi yang disebut dengan space ekonomi.

“BRIN kedepan harus meng eksplorasi sumber daya angkasa ini. Kalau kita bicara space ekonomi itu bukan hanya bicara mengenai roket. Ternyata ada industri sporting mulai dari makanan, baju astronot, obat (medis) itu sebenarnya bisa diproduksi di indonesia. Jadi industri itu yang harus di bangkitkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan luar angkasa,” bebernya.

Marsudi mengatakan kedepan pemetintah akan melibatkan universitas untuk melakukan penelitian dan mewujudkan industri space di Indonesia.

“Ini yang pertama jadi tadi saya sempat terkejut ternyata kalau bicara soal industri space itu tidak hanya bicara soal satelit dan roket, bahkan sederhana mulai dari tas nya astronot, sepatunya astronot, makanannya,” ujarnya.

Sementara itu, mewakili universitas di Solo, Rektor UNSA Astrid Widayani yang dalam seminar tersebut menjadi salah satu pemateri menambahkan ada 4 negara yang akan dikunjungi NASA.

“Industri ini tidak hanya sekadar aero space tetapi juga ilmu teknik secara umum industri yang lain. Kalau dulu kita tidak sampai berpikir ke sana kayaknya Indonesia tidak pernah punya Astronot. Tapi ternyata yang disampaikan hari ini oleh NASA banyak industri yang bisa kita kerjakan. Mulai perlengkapan, peralatan bahkan sampai katering makanan untuk astronot. Banyak sekali yang bisa dikolaborasikan dengan perguruan tinggi,” pungkasnya.