Mengintip Aktivitas Pedagang Belehan Mobil di Kolong Jembatan Mojo

oleh

SOLO, MettaNEWS – Ada aktivitas tak biasa di bawah Jembatan Mojo Pasar Kliwon yang tengah dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Solo. Di barat bawah jembatan sepanjang 225 meter itu ada puluhan mobil berjajar.

Meski tak utuh, mobil-mobil yang sudah rusak ini nampak masih bagus. Bukan tanpa pemilik, mobil-mobil itu ternyata dijual belikan oleh sekumpulan orang. Setidaknya ada 5 pedagang yang menamai mereka dengan sebutan Pedagang Mobil Belehan Semanggi (PBMS).

MettaNEWS berhasil menemui empunya dagangan mobil-mobil itu. Ia adalah Kris Haryono, salah satu pedagang telah melewati lika liku PBMS sejak paguyuban ini ada 5 tahun lalu. Di bawah jembatan itu, Kris sering tidur di atas dipan sembari menunggu orderan sparepart dari para pelanggan.

“Kami ada aktivitas jual beli mobil belehan (pecah belah) yang sudah bekas. Aktivitasnya sejak pagi juga ada kalau tutupnya tergantung kalau ada yang butuh sini tutup jam 12 malem,” kata Kris kepada MettaNEWS, Sabtu (13/8/2022).

Berada di kawasan Semanggi RT 7 RW 5, tak jauh dari jembatan itu berada menjadi alasan para pedagang ini memilih lokasi tersebut untuk berdagang. Terlebih bagi mereka yang tak memiliki tempat bengkel mobil.

“Di sini enak penerangan juga ada, ini kan aktivitas kerja bermanfaat nggak neka-neka (macam-macam) cuma jual beli spare part. Kami ini juga yang terdampak proyek perumahan Kampung Semanggi Harmoni 6 bulan lalu. Proyek pembangunan yang dulunya rumah liar,” katanya.

Meski menempati kolong jembatan yang dekat dengan aliran Sungai Bengawan Solo, para pedagang ini tak pernah mengalami bencana. Menyinggung soal jembatan yang kerap bergoyang, Kris dan para pedagang menganggap hal ini bukan hal yang mengkhawatirkan.

“Tidak pernah kebanjiran ini juga sudah mobil rusak kalau kena banjir ya nggak apa-apa kalau yang mobil mesinnya masih bagus kan sudah dipindah. Kalau soal jembatan goyang nggak apa-apa nggak ada pengaruhnya,” katanya.

Sementara itu terkait adanya pembangunan Jembatan Mojo, para pedagang mengaku mendapat arahan untuk menggeser dagangannya sejauh 6 meter.

“Dari pihak proyek bilang kalau sudah dibangun nanti ini digeser 6 meter dari jembatan supaya tidak mengganggu, barang-barang harus dipindah. Bawah jembatan harus steril cuma waktunya belum fix pelaksanannya itu gimana,” terang Kris.

Pihaknya sempat mendapat informasi sistem buka tutup separuh jembatan saat pembangunan berlangsung. Dikatakan Kris, sejauh ini pihak DPUPR masih mengizinkan pedagang untuk beraktivitas untuk sementara waktu.

“Menurut pihak proyek buka tutup (jalan) dikerjain separuh biar lalu lintas lancar terkecuali mobil besar nggak bisa lewat. Sementara masih boleh untuk aktivitas karena nggak ganggu. Kalau sudah ada pemberitahuan nanti digeser kita santai mengikuti arahan,” tambah Kris.

Sebelumnya di tahun 2019 perbaikan Jembatan Mojo juga dilakukan dengan pengencangan sekrup dan pengecatan.

“Dulu pernah tutup total 3 tahun lalu, tapi bawah masih aktivitas nggak berpengaruh kesini (bengkel). Dari arah Sukoharjo yang ramai lalu lintasnya jadi kalau ditutup total kacau,” katanya.

Di tempat terpisah, Kepala DPUPR Nur Basuki mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan lurah setempat untuk menangani bengkel mobil tersebut.

“Nanti biar pak lurah saja, yang pasti nggak jadi ditutup setengah-setengah, nanti pas pembangunan jembatan ditutup total,” kata Basuki, Jumat (12/8/2022).