SOLO, Metta NEWS – Perkembangan penyajian kesenian terutama di zaman yang sudah berubah ini membutuhkan jalan keluar. Apalagi di zaman pandemi yang berpengaruh besar pada pertunjukan kesenian.
Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa Seni Murni FSDR Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI) mengadakan talkshow dengan tema “Seni, Birokrasi Seni”, Kamis (3/3/2022).
Talkshow yang masuk dalam rangkaian kegiatan Pameran Singsing ini mengupas bagaimana dalam perhelatan sebuah pameran seni agar persoalan kesenian yang dihadapi dapat terurai sedikit demi sedikit yang nantinya akan membawa perubahan dan perkembangan di masa mendatang.
Acara yang berlangsung dengan format santai ini dihadiri sekitar 30 an yang terdiri dari mahasiswa, dosen, seniman dan pelaku seni yang terkait di Surakarta.
Menghadirkan tiga narasumber yakni Drs. Fajar Arifin, M.M. selaku Kepala Seksi Pertunjukan dan Pameran Seni Taman Budaya Jawa Tengah, Drs. Bonyong Munhie Ardhie sebagai Seniman dan Dosen Seni Murni FSRD ISI Surakarta, serta Dr. ‘Cia’ Syamsiar SPd., M.Sn sebagai dosen Seni Murni FSRD ISI Surakarta.
Paparan oleh Drs. Bonyong Munhie Ardhi menyampaikan bahwa kesenian sekarang selayaknya merespon perkembangan zaman.
“Di mana era sekarang adalah era kontemporer, karya seni yang diciptakan seniman hendaklah merespon perkembangan kesenian sesuai masanya agar dapat hidup di tengah-tengah masyarakat jaman sekarang,” jelas Drs. Bonyong.
Gayung bersambut dengan hadirnya Kepala Seksi Pertunjukan dan Pameran Seni dari Taman Budaya Jawa Tengah, Drs. Fajar Arifin, yang menyampaikan bahwa TBTJ sebagai lembaga kesenian memiliki tugas melakukan peningkatan dan pengembangan kesenian, menyelenggarakan penyajian kesenian, melaksanakan pendokumentasian, pelestarian dan penginformasian seni budaya.
“Sebagai lembaga kesenian mendukung penuh kegiatan kesenian yang akan memanfaatkan Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta dalam aktivitas keseniannya,” jelasnya.
Fajar menambahkan, sebuah manajemen seni sejatinya membutuhkan tim yang disusun sesuai dengan kebutuhan karakter karya seni yang dihasilkan.
“Seni pertunjukan dan seni rupa adalah dua buah perhelatan seni yang berbeda dalam hal produksi seni, sehingga manajemen seninya juga tentu akan berbeda dalam beberapa hal. Dalam konteks seperti inilah lembaga kesenian didirikan, baik yang dikelola pemerintah maupun yang dikelola oleh swasta,” paparnya.
Fajar melanjutkan, keberadaan lembaga seni ini tentu sangat penting dalam mendukung keberlanjutan berbagai bentuk kesenian yang ada. Birokrasi yang di dalamnya memuat tata aturan pengelolaan seni yang diatur oleh lembaga kesenian, telah menjadi partner dalam perkembangan kesenian yang ada di dalam suatu wilayah.
“Hal ini tentu sangat menggairahkan jika dapat bersinergi lebih jauh lagi dengan pelaku kesenian/seniman dengan segala bentuk komunikasi secara terbuka agar seni lebih lekat dengan masyarakat penikmatnya,” terangnya.
Sebagai pembicara pembuka, Dr. ‘Cia’ Syamsiar, menambahkan, sumber daya manusia di kampus seni sangat besar, karena tiap tahun mahasiswa datang dari berbagai daerah menempuh studi seni, dari sana lahir berbagai karakter bentuk karya seni yang kaya akan gagasan dan teknik sebagai output dari studi yang dilakukan selama studi di lingkungan kampus.
“Bagaimana mengolah sumber daya manusia tersebut, dibutuhkan jembatan penghubung yang bernama manajemen seni yang meliputi perencanaan, pengorganisasian dan pengambilan keputusan dalam mengatur produk seni yang melimpah,” tutup Syamsiar.







