SRAGEN, Metta NEWS – Salah seorang warga asal Dukuh Bunder RT 15, Kelurahan Kedungwaduk, Kecamatan Karangmalang, Sragen sudah sejak lama memanfaatkan biji kapuk (klenteng) untuk dijadikan minyak goreng melalui home industri miliknya.
Ia adalah Sukarno, pemilik home industri yang dapat memanfaatkan apa yang ada pada pohon randu untuk diubah menjadi produk yang bermanfaat. Pada pohon randu terdapat buah yang berisi kapuk. Di dalam kapuk ini terdapat biji yang biasa disebut dengan nama klenteng. dari klenteng ini, Sukarno mengolahnya menjadi minyak goreng.
“Saya mencoba membuat minyak goreng dari klenteng ini sejak 10 tahun yang lalu,” kata Sukarno ketika ditemui di home industri miliknya di Karangmalang, Sragen, Sabtu (19/03/2022).
Proses pembuatan minyak goreng biji klenteng ini cukup panjang. Pada proses pertama kapuk dijemur selama 2 hingga 3 jam, lalu dimasukkan ke dalam blower untuk dipisahkan biji dengan kapuknya, kemudian kapuk akan dibawa menuju gudang sortir kualitas, dimana kapuk yang bagus dengan kualitas super akan masuk ke tempat pengumpulan kapuk, sementara kapuk dengan kualitas kurang baik (minus) akan jatuh ke bawah untuk kemudian diproses sortir kembali.
Kemudian biji klenteng akan diayak sebanyak 2 kali untuk diproses mendapatkan biji yang bagus untuk minyak goreng. Biji klenteng yang dapat digunakan adalah biji yang masih baru. Untuk biji klenteng yang berusia lama maka tidak akan dipakai karena sudah keropos.

Menggunakan 2 mesin dengan delapan pekerja, Sukarno menuturkan dari 2 ton biji klenteng bisa menghasilkan 200 kilogram minyak goreng.
“Hasil produksi minyak goreng ini belum bisa digunakan langsung. Harus disuling dulu oleh mitra home industri kami untuk kemudian dikemas baru bisa diedarkan ke seluruh pedagang,” urainya.
Selama mengelola home industri minyak goreng biji klenteng tersebut, Sukarno mengaku belum ada tawaran kerjasama dengan Pemerintah Sragen dalam hal penyediaan minyak goreng.
Pada awal usaha, Sukarno mengatakan pernah mengajukan kerjasama melalui Dinas Perindustrian Sragen namun hingga saat ini belum mendapatkan tanggapan.
Sementara itu usaha yang ia geluti pernah dilakukan uji kualitas melalui salah satu laboratorium Universitas Sebelas Maret (UNS). Namun karena kondisi Sukarno yang kala itu sakit, uji kualitas belum selesai hingga saat ini.
Selain menjadi minyak goreng, home industri tersebut tidak hanya memanfaatkan biji kapuk (klenteng) saja. Berbagai hasil produksi dari pohon randu dapat dimanfaatkan oleh tangan kreatif warga Sragen tersebut.
Sisa hasil olahan produk atau ampas pada biji klenteng yang disebut bungkil dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak kambing dan sapi. Sukarno menyebut bungkil tersebut sudah bekerjasama dengan salah satu pabrik di Klaten sejak lama. Selain itu, kapuk yang tersisa dari penyortiran akan dibeli oleh sales untuk membuat kasur.
“Kami sudah kerja sama dengan pabrik, bungkilnya kalau sudah siap langsung kami kirim. Sisa dari pembakaran kulit randu bisa dimanfaatkan jadi arang untuk pembakaran genteng sama bahan pestisida. Kalau ampas minyak biji klenteng bisa dijadikan pupuk blotong,” jelas Sukarno.









