KARANGANYAR, MettaNEWS – Nama Sekolah Luar Biasa (SLB) B Pawestri di Kabupaten Karanganyar sudah tak asing lagi bagi para orangtua penyandang disabilitas tunarungu di Solo dan sekitarnya. Berdiri sejak tahun 2005, sekolah ini telah banyak melahirkan siswa yang mandiri dan berprestasi.
SLB B Pawestri lahir dari pasangan yang mengabdikan diri untuk mewujudkan mimpi anak-anak tunarungu. Mereka adalah Sigit Haryanto dan Murni Ningsih. Yang secara sukarela membangun SLB B Pawestri dengan dana pribadinya. Mengubah tanah sawah menjadi bangunan SLB B Pawestri yang nyaman dan memadai.
Ditemui saat Gelar Karya dan Pentas Siswa, Murni Ningsih menuturkan kisah manis perjuangannya membangun SLB B Pawestri. Berawal dari surat yang ia sampaikan ke sang suami, Sigit Haryanto tentang keinginannya untuk mewujudkan cita-cita anak difabel.
Siapa sangka niat mulia itu disambut baik oleh Sigit Haryanto. Keduanya kemudian mendedikasikan seluruh harta benda yang mereka miliki untuk membangun SLB B Pawestri.
Kenang Buah Hati, Pawestri

Hadirnya SLB B ini pun menjadi cara Murni dan Sigit untuk mengenang buah hati mereka yang telah berpulang. Ia adalah Pawestri. Nama yang kini tersemat menjadi sebuah sekolah bagi tunarungu.
Semasa hidup, Pawestri dikenal sebagai sosok yang miliki jiwa sosial tinggi. Besar harapan Murni, SLB B Pawestri dapat menjadi aksi sosial kemanusiaan Pawestri yang akan terus berjalan.
“Pada suatu saat sudah diatur oleh Tuhan anak saya empat, tapi meninggal semua. Awalnya meninggal 3 tinggal satu, dan yang satu ini sudah takdirnya diambil juga oleh yang maha kuasa. Sejak saat itulah suami saya membuka surat itu, bahwa harta apa yang ada saya dedikasikan untuk berdirinya sekolah ini,” kata Murni kepada MettaNEWS, Rabu (21/6/2023).
“Inspirasi itu jauh datang dari anak saya, anak saya punya jiwa sosial yang sangat tinggi sehingga karena dia saya bisa disupport secara moral dari anak saya yang sudah tiada. Itu adalah spirit saya untuk mendirikan sekolah ini. Karena nggak ada lagi yang saya urus dan saya hanya tinggal dengan suami saya kemudian semua harta yang saya miliki saya jual saya wujudkan tanah ini,” kata Murni.
Pawestri pun menjadi simbol sekolah luar biasa bagi tunarungu ini. Bak telinga yang memegang bunga melati, menjadikan nama Pawestri tetap abadi dan membersamai anak-anak tunarungu yang mengenyam pendidikan di SLB B Pawestri.
“Nama anak saya, simbol dari sekolah itu adalah seperti telinga yang memegang bunga melati. Dari sekolah ini seperti ini dari telinga yang memegang melati kita membina anak-anak yang tunarungu kemudian melati adalah pesan dari anak saya supaya semua jadi harum,” terangnya.
Murni kini hanya seorang diri melanjutkan SLB B Pawestri setelah Sigit meninggal dunia di tahun 2013. Untuk melanjutkan Amanah dari suaminya, Murni sekuat tenaga memperjuangkan SLB B Pawestri.
“Untuk itu karena ini amanah suami saya saya harus meneruskan. Dananya awal kira ngontrak di sebuah bekas pendapa, dari situ kita punya rezeki semua yang saya punya saya jual saya dedikasikan sehingga ini semuanya untuk pembangunan ini murni dari pribadi,” ujarnya.
Kini SLB B Pawestri telah miliki 63 siswa dari jenjang Pra Sekolah, TK, SD, SMP dan SMA. Sekolah ini pun menjadi secercah harapan bagi para orangtua penyandang disabilitas tunarungu. Murni pun berharap ia diberikan umur panjang untuk terus menghidupkan harapan lewat SLB B Pawestri.
“Walaupun tidak besar tapi saya turun tangan mendanai sekolah ini seperti kalau bangunan tanggung jawab saya sepenuhnya. Ada apapun karena ini tanah dan bangunan saya pribadi yang menyediakan. Tapi kalau untuk tenaga pendidikan nanti barangkali saya sudah tidak mampu. Saya berharap ada yang bisa melanjutkan. Sampai sekarang saya belum kaderisasi siapa yang akan melanjutkan semoga Tuhan memberikan umur panjang saya memberi rezeki sehingga bisa langgeng sekolah ini,” pungkasnya.








