ISU kekerasan terhadap perempuan seolah tidak ada habisnya untuk dibahas. Beberapa waktu yang lalu fokus perhatian publik terpusat pada Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret 2022. Seolah terhenti diwaktu itu saja, kepedulian terhadap kekerasan perempuan tidak lagi gencar digaungkan.
Persoalan kekerasan terhadap perempuan dan keadilan diatasnya berakibat pada penderitaan fisik, psikis, bahkan budaya. Sehingga perhatian ini seharusnya tetap ada sampai kapan pun. Tindakan kekerasan yang berujung pada bentuk pengabaian, peniadaan, penghambatan dan perampasan hak-hak perempuan harus diperhatikan dengan seksama.
Berangkat dari hal itu, sebuah komunitas yang terdiri dari aktivis perempuan bernama Jejer Wadon menginisiasi pementasan monolog, Selasa (15/03) di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah (TBTJ) Solo. Mengajak salah satu ruang diskusi Monolog Pejalan, pada pementasan monolog tersebut mengangkat tajuk Mentari Tenggelam di Tengah Hari.
Menyuarakan keberpihakan terhadap perempuan penyintas kekerasan, pementasan tersebut dikemas melalui kisah penyintas bernama Sekar. Selain itu, pementasan ini ingin menyampaikan sebuah pesan bagaimana dampak kekerasan seksual terhadap keberlangsungan hidup seorang perempuan.
Lisa, salah satu anggota Jejer Wadon yang juga advokat korban kekerasan perempuan mengatakan minimnya penanganan kasus korban kekerasan hingga bisa mendapatkan akses keadailan. Sehingga pementasan ini digelar dengan tujuan memberitahukan gambaran kisah kasus yang menimpa penyintas.
“Pementasan yang setiap tahun kita rayakan ini dipersembahkan untuk perempuan penyintas yang sudah bersuara maupun belum. Masih banyak hal yang perlu kita pikirkan bersama terkait dengan penyelesaian korban kekerasan. Menjadi tanggung jawab moral kita bersama untuk berempati dan juga memberi dukungan,” ungkap Lisa seusai acara di Teater Arena TBTJ, Selasa (15/03/2022).
Fokus acara pada bagaimana menumbuhkan empati, keberpihakan pada korban, hingga pada penghapusan stigma buruk terhadap korban kekerasan seksual.
“Kami adalah komunitas cair yang memiliki kepedulian terhadap kesetaraan dan keadilan gender. Momentum hari perempuan ini kami manfaatkan untuk mendorong perempuan korban kekerasan untuk mendapatkan akses keadilan. Melalui seklumit kisah yang disajikan, kami berharap tidak ada lagi penyudutan terhadap korban kekerasan,” ungkapnya.
Berlangsung secara dramatikal, pementasan ini membawa beberapa filosofi baik, diantaranya adalah penggunaan kentongan. Jika biasanya bunyi kentongan identik dengan kondisi darurat, pementasan ini dianalogikan kondisi darurat kekerasan terhadap perempuan. Selain itu penggunaan tali merah putih pada kentongan sebagai pertanda bahwa segala permaslahan yang ada harus ada peran negara untuk menyelesaikannya.
Sementara itu, menurut penulis naskah pementasan, Gigin Hilal mengatakan pementasan tersebut menjadi momen pijakan awal bagi komunitas Monolog Pejalan dalam peringatan Hari Perempuan Internasional dengan cara berbeda, tidak sekadar diskusi seperti yang biasa dilakukan.
“Ini langkah awal dari teman-teman Monolog Pejalan, agar kami lebih peka terhadap isu-isu di luar kami. Alasan kenapa diselenggarakan saat ini agar isu ini tetap terangkat meskipun tidak tepat waktu peringatannya. Selain itu kami yang berproses jangan sampai melakukan kekerasan itu,” ungkap Gigin.
Komunitas Monolog Pejalan yang mayoritas diisi kaum laki-laki, mencoba ikut berkampanye tentang apa yang terjadi di Indonesia dan lingkungan sekitar. Gigin menuturkan kesulitannya dalam menulis naskah.
“Susah mengambil sudut pandang sebagai perempuan tentang apa yang terjadi, apa yang dirasakan, trauma seperti apa. Hal-hal sulit itu yang coba saya tulis dengan beberapa baca jurnal. Akhirnya ketemu satu penyintas, bisa memberikan sedikit tentang apa yang terjadi. Mencoba menjadi perempuan yang menjadi penyintas kekerasan itu gimana untuk dituangkan ke naskah,” ungkapnya.
Sekaligus sebagai kegiatan sosial, pementasan ini berlangsung dengan pemberian donasi dan penjualan tiket pementasan yang disalurkan kepada perempuan penyintas kekerasan melalui komunitas Pusat Kajian Perempuan Solo (Pukaps).








