SEMARANG, MettaNEWS – Jawa Tengah menjadi provinsi pertama yang dikunjungi dalam rangkaian penilaian pariwisata ramah Muslim oleh Enhaii Halal Tourism Center (EHTC) Politeknik Pariwisata NHI Bandung tahun 2026.
Penilaian tersebut merupakan bagian dari rangkaian visitasi EHTC di 15 provinsi di Indonesia untuk melihat kesiapan sekaligus mendorong pengembangan ekosistem pariwisata yang semakin ramah bagi wisatawan Muslim.
Ketua EHTC Poltekpar NHI Bandung, Sumariadi, mengatakan Jawa Tengah memiliki potensi pariwisata yang besar, baik untuk wisatawan domestik maupun mancanegara. Segmen wisatawan Muslim juga dinilai memiliki peluang yang signifikan.
“Sangat penting bagi Jawa Tengah untuk terus meningkatkan kualitas layanannya agar wisatawan Muslim merasa nyaman dan tenang saat berwisata. Ketika kebutuhan mereka, mulai dari kemudahan menemukan makanan halal, sarana beribadah, hingga daya tarik bernuansa Muslim terlayani dengan baik, tingkat kepuasan wisatawan tentu akan meningkat,” ujar Sumariadi usai audiensi dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di Semarang, Rabu (12/8/2026).
Menurut Sumariadi, keberhasilan pengembangan pariwisata sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah. Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin yang dinilai memiliki komitmen kuat terhadap pengembangan pariwisata ramah Muslim yang inklusif.
Salah satu fokus yang tengah didorong Pemprov Jateng adalah membangun ekosistem pariwisata yang mendukung seluruh rantai nilai halal atau halal value chain.
Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui percepatan sertifikasi halal bagi Rumah Potong Hewan (RPH), Rumah Potong Unggas (RPU), dan Rumah Potong Ayam (RPA), termasuk pelaku usaha pariwisata dan UMKM yang berada di sekitar destinasi wisata.
Sumariadi menilai tujuh bulan menjelang 2027 harus dimanfaatkan secara maksimal untuk melakukan sosialisasi sekaligus mempersiapkan infrastruktur pendukung.
“Waktu tujuh bulan ini adalah masa persiapan yang sangat krusial. Harapannya, proses sosialisasi secara internal berjalan optimal sehingga pada tahun 2027 mendatang, Jawa Tengah benar-benar siap dan matang dalam menyambut kedatangan wisatawan Muslim, baik nusantara maupun mancanegara,” katanya.
Jateng Siapkan Ekosistem Wisata Ramah Muslim
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan Pemprov Jateng terus memperkuat pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan mendorong ekosistem wisata ramah Muslim yang terintegrasi dengan ekonomi syariah dan UMKM.
“Prinsipnya kita menyongsong tahun 2027, yaitu pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah, termasuk adanya pariwisata yang ramah Muslim,” kata Taj Yasin.
Ia menegaskan, pengembangan wisata ramah Muslim tidak dapat dilakukan pemerintah secara sendiri. Diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari Bank Indonesia (BI), Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), pelaku usaha, asosiasi hotel dan restoran, akademisi, hingga pondok pesantren.
Kolaborasi tersebut salah satunya diarahkan untuk memperkuat rantai industri halal dari hulu hingga hilir.
Pemprov Jateng mendorong RPH, RPU, dan RPA memiliki sertifikasi halal sehingga bahan baku yang digunakan pelaku usaha, termasuk pedagang makanan, dapat terjamin kehalalannya.
“Kalau tadi dari hulunya ke hilirnya yaitu para pedagang, asosiasi bakso. Kami juga melatih kepada mereka, mengarahkan pembelian bahan bakunya dari rumah-rumah pemotongan hewan yang halal,” ujarnya.
Menurut Taj Yasin, penguatan ekosistem halal akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi UMKM dan sektor perdagangan lokal.
Pemprov Jateng juga mendorong pelaku usaha mempromosikan produk halal melalui berbagai kanal penjualan, termasuk gerai yang berada di kawasan wisata maupun jalur perjalanan masyarakat.
“Artinya itu untuk mempromosikan, mengajak kepada masyarakat peduli terhadap industri halal,” katanya.
Dorong Kawasan Industri Halal di Rembang
Selain rantai pasok halal, Pemprov Jateng juga tengah mendorong pembentukan kawasan industri halal di Kabupaten Rembang.
Taj Yasin berharap keberadaan kawasan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat keterkaitan antara industri halal dengan sektor pariwisata.
“Kalau sudah ada kawasan industri halalnya, paling tidak masyarakat semakin aware terhadap halal, termasuk halal tourism,” ujarnya.
Pengembangan ekosistem halal tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya destinasi wisata ramah Muslim di berbagai daerah di Jawa Tengah.
Perhatian juga diberikan kepada sektor perhotelan. Pemprov Jateng mengajak Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk memperhatikan kebutuhan wisatawan Muslim, termasuk menyediakan fasilitas yang menunjang kenyamanan selama menginap.
“Jangan sampai canggih tetapi tidak ramah Muslim,” tegas Taj Yasin.
Bidik Wisatawan Muslim Mancanegara
Taj Yasin mengatakan, wisata ramah Muslim memiliki peluang besar untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. Ia menyebut wisatawan dari Malaysia mulai menunjukkan ketertarikan terhadap Jawa Tengah karena kemudahan memperoleh fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan Muslim.
“Alhamdulillah, wisatawan Muslim ke Jawa Tengah ini meningkat,” katanya.
Peluang juga terbuka dari wisatawan asal Maroko yang selama ini banyak mengenal destinasi seperti Bali. Jawa Tengah dinilai dapat menjadi alternatif destinasi yang menawarkan pengalaman wisata sekaligus kemudahan dalam memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim.
Sebelumnya, Pemprov Jateng telah menetapkan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah sebagai sektor yang akan diperkuat pada 2027. Pengembangan wisata ramah Muslim menjadi salah satu strategi untuk menangkap peluang pasar wisatawan Muslim mancanegara sekaligus memperkuat ekonomi lokal melalui UMKM dan industri halal.








