Jaranan Bocah Putra Agung Wijaya Bertransformasi Jadi Unit Ekonomi Kreatif Lewat Program Inovasi Seni Nusantara

oleh
oleh
Jaranan Bocah Putra Agung Wijaya, Kediri | MettaNEWS / Puspita

KEDIRI, MettaNEWS — Kelompok Jaranan Bocah Putra Agung Wijaya dari Desa Besowo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, tengah memasuki babak baru dalam perjalanan kreatif mereka.

Kelompok yang seluruh anggotanya merupakan anak-anak usia 7–15 tahun ini kini mendapatkan dukungan strategis dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Yang diselenggarakan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Selama ini, kelompok Jaranan Bocah Putra Agung Wijaya berkembang secara organik dan belajar secara otodidak melalui konten digital. Program PISN hadir untuk menjawab tantangan revitalisasi seni tradisi, khususnya Jaranan—salah satu identitas budaya masyarakat Kediri yang perlu diperkuat ekosistemnya agar tetap relevan.

Program ini diimplementasikan oleh tim Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang diketuai Sri Lestariningsih, M.Sn., bersama para anggota tim dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari etnomusikologi, teater, film, hingga destinasi pariwisata. Mereka juga melibatkan mahasiswa untuk mendukung pendampingan langsung di lapangan.

Melalui rangkaian pelatihan artistik-edukatif, kelompok ini berhasil menghasilkan sejumlah karya dan peningkatan kemampuan, di antaranya:

  • Penciptaan karya musik baru, seperti gending pambuka dan gending rampak jaran.
  • Pengembangan koreografi dengan pola lantai yang lebih terstruktur dan kreatif.
  • Peningkatan kapasitas pertunjukan, meliputi teknik panggung, blocking, spacing, hingga tata pentas.
  • Penguatan promosi digital, seperti pembuatan konten videografi, editing, dan pengelolaan media sosial.

Selain aspek artistik, program ini juga memperkuat pemahaman anak-anak mengenai filosofi Jaranan agar kreativitas mereka tetap berpijak pada nilai tradisi. Salah satu capaian penting lainnya adalah pembinaan tata kelola organisasi. Kelompok yang semula hanya memiliki nomor induk kini didampingi untuk menyusun draft AD/ART, menyiapkan pengajuan badan hukum, hingga mempelajari manajemen organisasi, pembukuan keuangan, strategi harga, dan pembukaan rekening kelompok.

Dukungan sarana dan prasarana juga diberikan, meliputi pengadaan gamelan, kostum, perlengkapan jaran kepang dan ganongan, properti panggung seperti gapura estetis, serta perangkat lighting untuk meningkatkan kualitas visual pertunjukan.

Rangkaian pendampingan PISN akan mencapai puncaknya pada Festival Jaranan Bocah di SDN 2 Besowo pada Sabtu (6/12). Festival ini menggabungkan edukasi, pertunjukan seni, dokumentasi, hingga pemberdayaan ekonomi lokal.

Agenda meliputi workshop filosofi Jaranan, pemutaran film dokumenter berdurasi 15 menit, pentas seni dari berbagai sekolah, serta bazar UMKM setempat.

Ketua program, Sri Lestariningsih, M.Sn., menilai bahwa keunikan kelompok Jaranan Bocah Putra Agung Wijaya bukan hanya dari usia para anggotanya, tetapi dari transformasi kreatif yang tampak nyata.

“Anak-anak memiliki semangat luar biasa untuk menjaga tradisi. Tugas kita adalah memastikan mereka tumbuh dengan kapasitas artistik, teknis, kelembagaan, dan visi yang kuat agar kesenian ini hidup dan relevan,” ujarnya.

Dengan pendampingan yang menyeluruh, kelompok Jaranan Bocah Putra Agung Wijaya diharapkan tumbuh menjadi unit seni dan ekonomi kreatif yang mandiri, profesional, dan mampu berkontribusi pada perkembangan ekosistem kesenian daerah.