IKSAN, KOREA SELATAN, MettaNEWS – Sebanyak 1.569 anggota Pramuka dari Indonesia yang mengikuti Jambore Dunia di Korea Selatan, dipindahkan ke asrama kampus Wonkwang University, Kota Iksan, 2 jam dari Seoul, Selasa (8/8/22023) petang.
“Kami semua dari Indonesia berkumpul di satu tempat dalam keadaan aman dan baik-baik saja. Evakuasi tuntas petang ini,” tutur Riptono, salah satu panitia jambore yang berasal dari Indonesia melalui telepon.
Riptono memaparkan, semua peserta jambore yang total berjumlah 39 ribu orang wajib meninggalkan lokasi perkemahan di Saemangeum, Provinsi Jeolla Utara, Korea Selatan.
Evakuasi itu karena prediksi cuaca, akan terjadi badai dahsyat di lokasi jambore yang merupakan lahan reklamasi di tepi laut. Untuk keamanan, panitia memutuskan mengubah rangkaian acara jambore yang seharusnya berakhir Sabtu (12/8) mendatang.
Riptono mengatakan belum tahu kegiatan apa di asrama kampus Wonkwang nantinya.
“Kami baru mendapat kabar, upacara penutupan Jambore Dunia akan berlangsung Jumat malam di salah satu stadion besar di Kota Seoul. Yang pasti, semua kontingen dari Indonesia dalam keadaan sehat dan selamat,” tuntasnya.
Jambore Dunia Dilanda Gelombang Panas

Sebelumnya, merebak berita tentang sejumlah kejadian di acara Jambore Dunia di Korea Selatan. Bermula dari kontingen beberapa negara memutuskan pulang di minggu pertama. Mereka berasal dari Inggris, Amerika Serikat, Israel dan Singapura. Kabarnya, mereka mengeluh karena fasilitas sanitasi yang buruk.
Berlanjut kabar suhu panas yang melanda kawasan perkemahan, sehingga ratusan peserta sakit.
Mengenai kabar tersebut, Riptono mengakui suhu udara di sana memang mengarah ke ekstrem.
“Kawasan ini sepertinya sawah, di lahan reklamasi. Tidak ada satu pun pohon. Karena itu, dengan suhu sekitar 40 derajat Celsius, sangat berat bagi semua,” ujarnya.
Tri Purwadi, warga Solo yang anaknya ikut Jambore Dunia tahun ini juga mengabarkan cerita serupa.
“Anak saya, Abilowo Manggar Cokro dalam keadaan baik-baik saja. Ada empat peserta dari Pramuka Solo, semua tidak ada yang sakit karena cuaca. Mengikuti kegiatan dengan naik, mungkin karena sudah terbiasa naik turun gunung. Saya tidak cemas, komunikasi juga lancar,” jelas Tri.








