Indonesia Bakal Stop Ekspor Bauksit, Timah dan Listrik EBT ke Dunia

oleh
oleh
Pertemuan G20 batch 2 di Solo diikuti sebanyak 14 negara anggota presidensi G20 | dok Humas Pemkot Solo

SOLO, MettaNEWS – Dalam pertemuan Presidensi G20 Trade, Investment, and Industry Working Group batch 2 di Solo, Rabu (6/7/2022), Menteri Investasi / Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyampaikan sikap tegas negara Indonesia dalam melakukan investasi tahun-tahun kedepan.  

“Indonesia dalam melakukan investasi kedepan khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam kita melakukan hilirisasi dalam rangka memberikan penciptaan nilai tambah,” jelas Menteri Bahlil usai pembukaan Trade, Investment, and Industry Working Group G20 di Alila Hotel Solo, Rabu (6/7/2022). 

Bahlil menegaskan hal tersebut sejalan dengan visi besar Presiden Joko Widodo dalam bidang transformasi ekonomi seperti yang tengah berjalan yakni hilirisasi bahan mentah nikel. 

Bahlil menekankan investasi harus berkontribusi terhadap hilirisasi sehingga butuh investasi yang berkelanjutan, ramah lingkungan dan inklusif. 

“Hilirisasi mempunyai peran penting mengakhiri siklus ketergantungan negara berkembang terhadap komoditas mentah, sembari mengurangi dampak perubahan iklim. Hal ini penting karena dari 3 negara berkembang di dunia memiliki ketergantungan terhadap komoditas mentah,” papar Bahlil. 

Menteri Bahlil mencontohkan bagaimana negara Indonesia terus berusaha membangun industri ramah lingkungan salah satu langkahnya adalah menyetop ekspor nikel dan membangun hilirisasi pabrik baterai mobil dengan green energi. Karena pengelolaan nikel yang tidak dikelola baik akan berdampak pada lingkungan.

Namun kebijakan ini lanjut Bahlil tidak disetujui beberapa negara yang berkepentingan akan bahan mentah nikel yang mereka dapat dari Indonesia dan membawa masalah ini ke WTO. 

“Menurut saya sudah saatnya untuk semua negara menghargai kebijakan masing-masing negara karena mereka yang tahu tentang arah kebijakan negaranya sendiri. Tadi di forum juga saya sampaikan harus ada kesamaan pandangan bahwa berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Selama asas keadilan, keterbukaan dan kontribusi kepada dunia juga tetap dijaga dengan baik,” tegas Bahlil. 

Selain nikel, Bahlil mengungkapkan tahun ini Indonesia akan menyetop espor bauksit sedangkan tahun depan juga akan menghentikan ekspor timah. 

“Tahun depan kita melarang ekspor timah. Di dunia dua negara penghasil timah terbesar adalah China yang kedua Indonesia. Tapi untuk ekspor timah terbesar di dunia itu Indonesia. Nanti kita atur hilirisasi harusnya tidak lebih dari 5%,” ujarnya. 

Menurut Bahlil dengan menghentikan ekspor bahan mentah akan turut menjaga lingkungan dan mengurangi penambangan liar yang terus terjadi. 

“Penambangan liar ini tidak bisa mengukur volume kapasitas produksi kita, ini bahaya,” tandasnya lagi. 

Dengan mengolah bahan mentah menjadi produk jadi dan baru di ekspor, Bahlil menyebut selain dapat mewujudkan industri ramah lingkungan memakai energi terbarukan ada nilai tambah yakni dapat menciptakan lapangan kerja serta menjaga pendapatan negara agar mendapatkan hasil yang maksimal. 

“Jadi negara besar itu kalau mau punya produk dari bahan mentah tersebut silahkan investasi di Indonesia, bangun pabrik di sini. Kita pengen ada kolaborasi positif yang saling menguntungkan tanpa berat sebelah kepada semua negara,” kata Bahlil. 

Selain stop ekspor beberapa bahan mentah, Bahlil mengatakan Indonesia juga akan menghentikan ekspor listrik memakai EBT (energi baru terbarukan) ke dunia. 

“Indonesia tahun 2025 sebanyak 24% listriknya harus memakai EBT kitakan belum siap. Kita belum cukup ngapain ekspor ke negara lain. Silahkan negara lain investasi di Indonesia tapi listriknya dipakai untuk Indonesia. Jadi jangan ambil bahan baku saja di Indonesia,” tutup Bahlil.