Hari Jadi ke-81 Jateng, Dari Sawah Jawa Tengah, Pangan untuk Meja Makan Indonesia

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Mesin panen bergerak menyusuri hamparan sawah di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Di lahan sekitar 264 hektare tersebut, lebih dari 100 petani yang tergabung dalam Gapoktan Sari Tani menggantungkan penghidupan.

Pada musim tanam kedua 2026, para petani mampu menghasilkan lebih dari enam ton padi per hektare. Bagi mereka, panen raya bukan sekadar momentum menikmati hasil kerja selama berbulan-bulan, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan kebutuhan petani secara langsung kepada pemerintah.

Ketua Gapoktan Desa Gentan Joko Mursito mengatakan, sejumlah kebutuhan yang disampaikan antara lain ketersediaan air untuk musim tanam ketiga, jaringan listrik untuk sumur pertanian, tambahan mesin panen, hingga perbaikan jalan usaha tani.

“Alhamdulillah petani Desa Gentan senang, karena aspirasi kami langsung ditangkap Pak Gubernur. Kami merasa diperhatikan dan nyaman,” kata Joko pada 24 Juni 2026.

Menjelang Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, sektor pertanian menjadi salah satu fokus pembangunan di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

Kebijakan pertanian tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Jawa Tengah, tetapi juga memperkuat posisi provinsi tersebut sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Produksi Padi Jateng Tembus 9,39 Juta Ton

Pada 2025, produksi padi Jawa Tengah mencapai 9,39 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut meningkat sekitar 493.684 ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Produksi tersebut berasal dari luas panen sekitar 1,67 juta hektare. Dengan capaian itu, Jawa Tengah berkontribusi sekitar 15 persen terhadap produksi pangan nasional.

Artinya, padi yang dipanen petani Jawa Tengah tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah. Sebagian hasil panen bergerak ke berbagai wilayah Indonesia dan menjadi beras yang tersaji di meja makan masyarakat di luar Jawa Tengah.

Kontribusi tersebut terus dikejar pada 2026. Pemprov Jateng menetapkan target produksi padi sebesar 10.559.679 ton GKG.

Hingga periode Januari-Juli 2026, produksi padi diproyeksikan mencapai 6,74 juta ton GKG atau sekitar 63,43 persen dari target tahunan.

Gubernur Ahmad Luthfi menilai capaian tersebut tidak terlepas dari kerja keras petani serta kolaborasi pemerintah dalam menjaga lahan pertanian, irigasi, sarana produksi, hingga pemanfaatan teknologi.

“Petani bukan sekadar penanam, tetapi penjaga masa depan bangsa,” ujar Luthfi.

Bantuan Pertanian dari Benih hingga Alat Mesin

Untuk mengejar target produksi, dukungan diberikan mulai dari hulu hingga hilir.

Pada 2026, Pemprov Jateng menyiapkan bantuan benih dan sarana produksi padi untuk lahan seluas 47.200 hektare.

Bantuan juga diberikan untuk pengembangan jagung seluas 3.200 hektare, kedelai 3.000 hektare, cabai 310 hektare, serta bawang merah menggunakan benih biji atau true shallot seed seluas 25 hektare.

Selain sarana produksi, pemerintah memperkuat perlindungan lahan pertanian. Ahmad Luthfi mengatakan, sebanyak 26 kabupaten/kota di Jawa Tengah telah memenuhi target perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebesar 87 persen.

Menurutnya, perlindungan lahan menjadi bagian penting untuk mempertahankan Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Irigasi Bikin Petani Rembang Bisa Panen Tiga Kali

Dampak dukungan pemerintah dirasakan langsung petani di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang.

Kelompok Tani Budi Luhur yang beranggotakan 80 petani mengelola lahan sekitar 35 hektare. Sebelum mendapatkan dukungan irigasi perpompaan dan alat mesin pertanian, lahan tersebut hanya mampu ditanami padi sekali dalam setahun.

Kini, petani dapat meningkatkan frekuensi tanam hingga tiga kali dalam setahun dengan produksi sekitar 7-7,5 ton per hektare.

Anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono, mengatakan bantuan irigasi membuat petani lebih berani mengolah lahan meski menghadapi ancaman kemarau panjang.

“Sejak mendapat bantuan irpom, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” ujarnya.

Sistem Sepur Percepat Proses Bertani

Modernisasi pertanian juga terus diperluas melalui mekanisasi terintegrasi yang dikenal sebagai “sistem sepur”.

Dalam sistem tersebut, mesin panen, pengolah tanah, penyemprot dekomposer, dan mesin tanam bekerja secara berurutan. Dengan demikian, lahan dapat segera kembali ditanami setelah proses panen selesai.

Untuk lahan seluas dua hektare, pekerjaan yang secara manual membutuhkan waktu hingga 10 hari dapat diselesaikan hanya dalam satu hari.

Percepatan tersebut membuka peluang meningkatkan indeks pertanaman sekaligus menghemat waktu dan tenaga petani.

Penguatan infrastruktur pertanian juga dilakukan melalui rehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier dan pembangunan 75 paket irigasi perpipaan.

Pemprov Jateng juga mendistribusikan berbagai alat mesin pertanian, antara lain 100 unit mesin penanam padi, 86 traktor crawler, 30 traktor roda empat, 100 pompa air, dan 10 combine harvester, ditambah puluhan cultivator serta traktor tangan.

Petani Juga Diberi Perlindungan Risiko

Pemerintah tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga menyiapkan perlindungan terhadap risiko usaha tani.

Pemprov Jateng mengalokasikan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk lahan seluas 10.449 hektare. Selain itu, subsidi suku bunga disiapkan untuk 800 paket pembiayaan petani.

Perlindungan tersebut penting agar petani tidak menanggung seluruh risiko kerugian ketika lahan terdampak bencana atau mengalami gagal panen.

Ahmad Luthfi menegaskan, peningkatan produksi pangan membutuhkan keterlibatan seluruh kabupaten dan kota, terutama dalam menjaga lahan pertanian, memperkuat mekanisasi, dan mendampingi kelompok tani.

“Gapoktan kita openi, dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen,” kata Luthfi.

Hadapi Kekeringan hingga Distribusi Hasil Panen

Tantangan sektor pertanian Jawa Tengah masih cukup besar. Perubahan musim, ancaman kekeringan, alih fungsi lahan, hingga distribusi hasil panen menjadi persoalan yang harus terus diantisipasi.

Karena itu, pemerintah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, pipanisasi, sumurisasi, pemanfaatan sumber air baku, serta penyaluran pompa.

Jawa Tengah juga telah menerima sekitar 17 ribu pompa untuk didistribusikan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

Namun, produksi yang meningkat harus diikuti dengan distribusi yang merata.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, surplus produksi perlu dikelola agar memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga pangan.

“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi, agar surplus ini bisa merata dan menjaga stabilitas harga,” katanya.

Memasuki usia ke-81, Jawa Tengah tidak hanya mengejar angka produksi. Di balik setiap ton gabah terdapat kerja keras petani, hamparan sawah yang harus dilindungi, irigasi yang harus dijaga, serta teknologi yang terus dikembangkan.

Dari sawah-sawah di Sukoharjo, Rembang, dan berbagai daerah lainnya, hasil pertanian Jawa Tengah terus bergerak memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Jawa Tengah pun meneguhkan perannya sebagai salah satu lumbung pangan negeri: merawat petani, menjaga sawah, meningkatkan produksi, dan memastikan hasilnya sampai ke meja makan Indonesia.