SOLO, MettaNEWS – Tradisi Sekaten Keraton Surakarta akan kembali digelar. Dalam peringatannya, Sekaten Solo diwarnai dengan kegiatan pedagang yang aktif berjualan di pasar malam Alun-alun utara yang rencananya akan diadakan pada 16 September hingga 16 Oktober 2022. Jelang pelaksanaannya, sejumlah pedagang yang tergabung dalam PKL Sekaten mengeluhkan harga sewa stan maupun kavling yang diberikan event organizer (EO) Diana Ria terlampau tinggi.
Berdasarkan selebaran denah yang dikeluarkan oleh Diana Ria, pihak yang melaksanakan Sekaten tahun ini, harga yang diberikan bermacam-macam yakni stand tenda kuning oranye maupun kerucut ukuran 4×4 meter Rp 12 juta, stand tenda merah muda ukuran 4×3 m Rp 6 juta, stand tenda biru ukuran 4×3 Rp 5 juta, kavling ukuran 4×3 Rp 3,5 juta, kerucut ukuran 3×3 m Rp 5 juta, kerucut hall dome ukuran 3×3 m Rp 7,5 juta, kerucut gladag ukuran 3×3 m Rp 7 juta, stand dome 3×3 m Rp 10 juta, kerucut pagelaran 3×3 m Rp 7 juta, dan kavling grabah 3×3 m Rp 2,5 juta.
Salah satu pedagang, Wandono mengaku terpaksa membayar uang muka 50 persen agar tak kehilangan lokasi berdagang di acara Sekaten. Pihaknya mengaku terdapat harga khusus untuk pedagang lama sebesar Rp 1,8 juta menempati jalur belakang.
“Sebelum Covid ini kan yang megang Keraton Surakarta sama Pemkot cuma kena biaya Rp 800 ribu ukuran 4 meter saya jualan disebelah selatan, sekarang diborong Diana Ria untuk ukuran yang sama saya bayarnya hampir Rp 11 juta lebih, ini saya DP Rp 5.650.000,” beber Wandono saat ditemui MettaNEWS di Alun-alun utara, Selasa (23/8/2022).
Ia mengaku pihak Diana Ria mensosialisasikan denah dan harga stand pada Kamis (18/8/2022) bersama 100-an pedagang perwakilan. Dalam pertemuan itu terjadi komunikasi yang alot, lantaran tak menemui kesepakatan.
“Sebagai wong Solo ini sangat berat dan serba salah, kalau mau maju nggak kuat bayar kalau mundur kehilangan tempat diganti sama pedagang belakang dari luar akhirnya terpaksa mau nggak mau harus bayar,” katanya.
Hingga pada Selasa (23/8/2022) kemarin, denah dan harga kembali berubah hingga membuat para pedagang berkumpul di Alun-alun utara untuk berembug.
“Pedagang itu sebenarnya kalau naik ya nggak apa-apa tapi jangan terlalu tinggi, pertama kami mengajukan sekitar Rp 2 juta, tapi nggak diacc, dulu kita pernah bahas denah setuju dan sekarang berubah lagi, kami bingung denah beda,” jelasnya.
Dikatakannya pedagang mendapat informasi naikknya harga terjadi sejak event Sekaten dipegang Diana Ria. Berhembus kabar tingginya harga lantaran sudah membeli mahal dari pengelola.
“Kalau kami dengar dari bosnya Diana Ria dia belinya sudah mahal jadi jualnya juga mahal, kami ingin Pemkot bisa menengahi masalah ini,
Sebagai penjual kaps kaki yang sudah ikut di event Sekaten selama 15 tahun, pihaknya menyayangkan jika harus melepas kesempatan untuk berdagang kembali usai ditiadakan selama 2 tahun akibat pandemi Covid-19.
Salah seorang pedagang lain yang tak ingin namanya disebut menginginkan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka menyelesaikan permaslahan.
“Ini kami mengayubagya adat Sekaten biar ada terus setiap tahun, kita berharap Pemkot bisa bantu untuk menengahi, kalau bisa kita mau maju ke Mas Gibran langsung, kalau nggak diizinin ya sekalian, ini kan memberatkan pedagang, nggak masuk akal kavlingannya segini, dulu per kavling Rp 800 ribu, dulu kalau naik dari Rp 160 ribu sampai Rp 200 ribu per tahun, naikknya kecil,” katanya.
Para pedagang yang ingin nguri-uri budaya Sekaten mengaku pasrah jika jalan yang ditempuh harus meniadakan pasar malam atau aktivitas berdagang lantaran tak menemui kesepakatan.
“Sekaten ini untuk memperbaiki ekonomi UMKM warga Solo, tapi sekarang kok malah segini, katanya ekonomi rakyar kreatif tapi kok harganya memberatkan warganya. Kami kaget nggak ada konfirmasi dari sana (Diana Ria) denahnya harganya juga beda,” katanya.
Senada dengan Wandono, pihaknya nekat bayar lantaran tak ingin kehilangan tempat jualan yang sudah turun temurun diwariskan.
“Yang paling rendah Rp 1,8 juta itu untuk pedagang lama, kalau yang baru ya harus ikut yang paling rendah itu Rp 2,5 juta, kami keberatan tapi nekat bayar karena takut kehilangan tempat biar nggak hilang, kami ini sampai anak cucu sudah berjualan di sini,” tutupnya.







