Harga Daging Ayam Naik di 2 Pasar Solo, Pemasok Belum Panen Jadi Penyebabnya

oleh
harga sembako Solo
Penjual daging ayam di Pasar Gede saat melayani pembeli, Selasa (08/03/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Daging ayam alami kenaikan di Pasar Legi pada Selasa (08/03/2022). Saat ini harga daging ayam mencapai Rp 33.000/per kilogram. Kenaikan harga bahan pokok makanan diperkirakan akan terus terjadi hingga menjelang bulan Puasa.

Pedagang daging ayam Pasar Legi, Endang menuturkan harga daging ayam alami kenaikan tidak menentu sejak awal tahun 2022. Kenaikan terjadi di awal bulan dan kembali turun dipertengahan bulan. Kenaikan tertinggi terjadi pada waktu Desember tahun lalu yakni harga daging ayam mencapai Rp 38.000/kilogram. Hal ini terjadi karena tidak adanya stok ayam dari supplier (pemasok).

Kenaikan tertinggi akan terjadi pada awal bulan April bertepatan dengan waktu puasa. diperkirakan kenaikan akan terjadi sebanyak Rp 34.000 hingga Rp 35.000. Endang menuturkan kenaikan menjelang lebarang akan terjadi sebesar 5 ribu hingga 6 ribu. Ia mengaku selama alami kenaikan harga, pembeli tidak merasa keberatan karena sudah mengetahui harga daging pada waktu yang telah ditentukan akan naik.

“Nanti akan naik terus pelan-pelan. Sementara ini pas naik pembeli nggak komplain, sudah maklum. Jadi tetep beli kan kebutuhan jadi ya sudah biasa. Apalagi nanti mendekati lebaran harganya bisa 40 ribu per kilogram. Mereka itu sudah hafal pas mau puasa harganya segini. Jadi nggak ada pengurangan pembeli,” tutur Endang saat ditemui di Pasar Legi.

Kenaikan harga daging ayam dirasakan Endang justru mengalami pendapatan yang banyak. Namun mengenai laba, ia mengaku tidak mendapatkan laba yang ia peroleh naik sehingga sejauh ini laba yang ia peroleh tetap. Pasalnya semakin harga naik maka laba yang ia peroleh semakin kecil. Hal ini karena ia membeli ayam hidup sehingga ia perlu melakukan pemotongan dan pembersihan. Harga ayam hidup Rp 21.000/ekor.

“Ayam hidupnya itu misal naik seribu dijualnya tetep naik seribu juga. Ayam yang hidup itu beratnya 2 kilogram kalau sudah dibersihkan tinggal 1 kilogram 4 ons. Harusnya sini naiknya 2 ribu kan buat biaya pemotongan sama pembersihan, terlebih beratnya juga berkurang. Buat naik 2 ribu itu susah pasti ada pembeli yang komplain terus membandingkan antara pedagang. Jadi kita harus kompak kasih harganya,” tuturnya.

Endang mengungkapkan para pedagang ayam di Pasar Legi tidak berani menaikkan harga sampai 2 ribu. Ia menuturkan kenaikan harga daging ayam hanya bisa mencapai angka seribu saja.  Ketakutan akan kehilangan pembeli menjadi alasan Endang tidak menaikkan harga meskipun laba minim. Endang menambahkan, pembeli akan mencari barang yang memiliki selisih harga meskipun kecil.

Sebagai penjual daging ayam ia mengungkapkan kesulitannya dalam mendapatkan laba saat harga naik. Selain itu, persiapan bulan puasa akan menjadi momentum kenaikan harga daging ayam.

“Nanti naik lagi pas menjelang dua sampai tiga hari puasa. Paling mahalnya nanti pas lebaran,” tambahnya.

Selama waktu tiga hari, Endang menuturkan alami kenaikan sebanyak 3 ribu. Setiap harinya ia menjual daging segar yang ia peroleh dari pemasok dengan kenaikan secara berkala sebesar seribu. Endang menjelaskan harga daging ayam akan sama dan tidak mengalami kenaikan jika tanggal merah. Hal ini karena dari pemasok yang tidak membuka pendistribusian sehingga harga akan tetap sama. Kenaikan akan kembali terjadi paska libur atau tanggal merah.

“Harga ayamnya itu mahal kalau dari PT nya nggak panen. Pernah juga dulu itu nggak ada momen apa-apa tapi harga ayamnya naik,” ucapnya.

Kenaikan harga daging ayam terjadi karena pemasok kekurangan stok sehingga harus pergi ke pemasok yang lain. Jarak yang ditempuh pemasok untuk mendapatkan ayam menjadi penyebab harga ayam mahal.

Selain itu, Endang mengungkapkan jika ayam terlalu besar justru tidak laku di pasaran. Ayam dengan jenis kepala dan cakar yang besar hanya dijadikan filled. Sehingga ayam semacam itu hanya dijual dengan cara dibekukan kemudian dijual dengan harga miring.

Sementara ditempat lain yakni di Pasar Kadipolo, salah satu pedagang daging ayam, Ayu menjelaskan kenaikan harga daging ayam terjadi sejak sepekan. Ia menyebut harga ayam pada awalnya Rp 32.000/kilogram, untuk saat ini mencapai harga Rp 35.000/kilogram. Ia mengungkapkan kenaikan harga daging ayam menyebabkan pengurangan pembeli eceran. Namun untuk pembeli yang sudah berlangganan tidak ada pengaruhnya.

Ayu mengungkapkan permintaan pembeli pada masa-masa puasa mengalami penuruan. Sepinya pembeli disebabkan adanya pandemi sehingga masyarakat kurang melakukan banyak kegiatan. Pedagang dagung ayam yang sudah berjualan sejak 2003 ini mengaku meskipun pandemi sudah tidak banyak aturan seperti dulu, ia menyebut pendapatan tetap turun. Ia menuturkan ayam yang ia dapatkan dari supplier setiap harinya disesuaikan dengan permintaan pembeli.