Gibran Imbau Paritrana Indonesia Kembangkan Pengobatan Tradisional

oleh
oleh
ikatan paritrana indonesia
Jumpa pers Ikatan Paritrana Indonesia di Solo, Rabu (16/3/2023) | MettaNews/Ari Kristyono

SOLO, MettaNEWS – Nyaris tanpa kehadiran pejabat, namun suasananya hangat dan bersemangat. Begitulah suasana deklarasi dan pelantikan pengurus Ikatan Paritrana Indonesia (IPI) di Gedung Wayang Orang Sriwedari Solo, Senin (20/3/2023).

Ikatan Paritrana Indonesia, semula bernama Ikatan Paranormal Indonesia, organisasi besutan  Nurullah Marzuki pada tahun 2002. Organisasi ini kemudian vakum, antara lain karena Marzuki meninggal dunia.

“Hingga dengan banyak pertimbangan, kami memutuskan bangkit lagi dengan nama baru. Paritrana kami ambil dari bahasa Sansekerta, artinya pertolongan dan perlindungan,” tutur Bagus Hartawan, Ketua Umum IPI tentang organisasi barunya.

Bagus mengakui, pergantian nama juga terkait dengan stigma buruk yang sering melekat pada paranormal. “Akan kami buktikan, kami akan membawa kebaikan, berkontribusi untuk pemerintah, masyarakat dan bangsa ini,” imbuhnya.

Hadir pada acara tersebut, penasihat IPI yakni KPAA Condrokusumo Suro Agul-agul Begug Purnomosidi. Dia adalah mantan Bupati Wonogiri yang juga terkenal sebagai tokoh paranormal. Selain itu, Sultan Suryoalam, sosok paranormal yang sering menyebut diri sebagai Sultan Pajang masa kini.

Sementara itu, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming tidak menghadiri undangan dari IPI. Namun, Gibran yang dikenal cukup sering mengabaikan undangan, kali ini menitipkan sambutan tertulis.

Paritrana Indonesia Sambut Baik Imbauan Gibran

Dalam sambutan yang dibacakan seorang staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Gibran mengajak warga Paritrana untuk turut serta memajukan kualitas kesehatan masyarakat.

Gibran menyebut, Paritrana bisa berperan dalam pengobatan tradisional yang sudah lama hadir di Indonesia dan memiliki peran untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Terhadap imbauan Wali Kota Gibran, Bagus Hartawan mengaku siap melaksanakan.

“Kami akan lebih banyak nguri-uri kebudayaan, merawat kesenian tradisional terutama yang tumbuh dari akar rumput. Juga tentunya sesuai kemampuan kami, mendukung kesejahteraan masyarakat dengan pengobatan tradisional,” janjinya.

Kepengurusan organisasi akan berpusat di Kota Solo. Dengan jaringan struktur saat ini sudah ada tiga kepengurusan wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, sudah ada 21 kepengurusan tingkat cabang di tiga provinsi tersebut.

Satu lagi, Bagus menyebut IPI tak akan menyentuh ranah politik praktis. Pilihan ini belajar dari pengalaman ketika pendahulunya, Marzuki sempat berpolitik bahkan mengikuti konvensi calon presiden pada tahun 2003.

“Bisa saja kami hadir memberikan nasihat atau masukan, namun IPI tidak akan mendukung atau memihak siapa pun,” tandasnya.