JAKARTA, Metta NEWS – Hadirnya media sosial yang sangat masiv akhir-akhir ini mengubah pola perilaku masyarakat. Kemudahan berbagi informasi dan kebebasan mengemukaan pendapat belum dibarengi dengan sikap kedewasaan.
Belakangan ini perbedaan politik, agama, budaya, ras dan suku mulai menjadi benih-benih konflik, permusuhan, dan kebencian di antara sesama warga negara dan anak bangsa.
Dilatarbelakangi keprihatinan inilah akhirnya digagas sebuah gerakan dengan tagar #IndonesiaSerasi.
Pemrakarsa Indonesia Serasi Haddad Alwi Assegaf saat konferensi pers virtual, Kamis (19/5) menyampaikan saling menghina dan caci-maki dalam bentuk verbal maupun tulisan, sudah memenuhi ruang publik di dunia maya. Perilaku kasar dan kekerasan fisik pun sudah biasa terjadi di berbagai tempat.
“Semakin kesini semakin nyinyir, fitnah, hoax dan ujaran kebencian mudah sekali kita temui di semua platform sosial media. Padahal kita sadar beberapa tahun yang lalu bagsa Indonesia adalah bangsa yang lemah lembut. Kita ingin melakukan sesuatu agar bangsa kita menjadi lebih tenang,” ujar Haddad Alwi.

Haddad Alwi menjelaskan gerakan berskala nasional ini bertujuan untuk menanamkan sifat lembut hati, sikap moderasi, menerima adanya perbedaan agama dan keragaman budaya, serta menanamkan rasa cinta bangsa, terutama di kalangan Gen-Z.
“Gerakan ini bersifat independen, lintas suku, agama, ras, dan golongan, serta tidak berafiliasi dengan lembaga atau organisasi manapun,” tandasnya.
#IndonesiaSerasi memilih musik sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan yang dimaksudkan, karena musik bersifat universal – musik bisa diterima oleh masyarakat dari berbagai golongan, tingkat ekonomi dan pendidikan apa pun.
Untuk itu, lanjut Haddad Alwi, sudah disiapkan sejumlah lagu yang akan diviralkan satu demi satu selama sekurangnya setahun ke depan, melalui berbagai platform media sosial seperti Youtube, Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, dan lain sebagainya.
“Kami ingin mengajak pada kebaikan dan kelembutan tapi tidak menggurui. Kita ingin lewat keindahan, lewat lagu agar lebih mudah diterima untuk Gen Z. Ketika musik sudah digandrungi maka liriknya akan melekat di pikiran kita dan tanpa disadari akan mempengaruhi perilaku, behavior kita,” ungkap Haddad Alwi.
Sebagai pembuka, pada 2 April 2022 yang lalu telah dirilis lagu pertama berjudul Indonesia Serasi yang dibawakan oleh Kamasean, Abraham Kevin, dan Ebith Beat A.
Lagu ini diadaptasi dari dua lagu daerah Kalimantan Selatan, yakni Ampar-ampar Pisang dan Paris Barantai. Lagu-lagu berikutnya akan dirilis secara bergiliran di platform yang sama, dan masih diadaptasi dari lagu-lagu daerah Indonesia yang diaransemen ulang.
“Penggunaan lagu-lagu daerah itu selain dimaksudkan untuk mempopulerkan kembali karya para seniman dan komponis Indonesia, juga dimaksudkan sebagai simbol persatuan seluruh budaya Indonesia dalam bingkai NKRI,” terang Haddad Alwi.
Selain didukung oleh Kepolisian Republik Indonesia, gerakan #IndonesiaSerasi juga didukung sejumlah tokoh nasional dari berbagai kalangan, antara lain Alissa Wahid, Addie MS, Kak Seto, dan Ahmad Najib Burhani.
Kemudian ada juga dukungan dari sejumlah tokoh agama hingga artis-artis Indonesia, seperti Ustadz Das’ad Latief, Habib Husein Ja’far, Pastor Gilbert, Jessica Mila, Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Ahmad Dhani, Opick, Deddy Corbuzier, Pamela Bowie, Cici Faramida, Siti KDI, Daniel Mananta, Ammar Zoni, Melly Goeslaw, Giorgino Abraham, dan lain-lain.
Untuk lebih menggaungkan gerakan ini, ribuan remaja dan pemuda Indonesia nantinya akan dilibatkan dalam gerakan ini, dengan cara mengajak mereka membawakan lagu-lagu tersebut, membuat kreasi video clip nya, lalu mengunggah di akun media sosial mereka masing-masing. Hadiah-hadiah menarik akan diberikan kepada mereka yang karyanya dinilai paling bagus.
“Intinya kita ingin belajar bersama-sama hidup berbangsa dengan cinta. Indonesia Serasi ingin mengajak semuanya terutama kepada kita sendiri untuk melakukan apapun dengan cinta. Mari belajar berbeda pendapat tapi dengan cara yang sopan. Kalau mau mengkritik orang pakai data bukan dengan nyinyir dan amarah. Belajar untuk berbeda yakni berbeda suku, agama, ras, berbeda pilihan politik semua tidak masalah. Tujuan kita satu yaitu cinta Indonesia,” pungkas Haddad Alwi.








