SOLO, MettaNEWS – Dua gamelan pusaka Keraton Surakarta, yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari diarak ke Masjid Agung Surakarta, Sabtu (1/10). Kedua gamelan tersebut kini berada di Bangsal Pradangga Selatan dan Utara di halaman Masjid Agung Keraton Surakarta.
Setelah salat zuhur ditunaikan, sekira pukul 14.18 WIB kedua gamelan ditabuh. Acara ini jadi pertanda puncak perayaan Sekaten dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW atau Grebeg Maulud. Juga sebagai puncak kegiatan pasar malam yang dihelat dua pekan lebih awal.
Ketua Takmir Masjid Agung Keraton Surakarta, KRT. Moh. Muhtarom mengatakan tradisi ini menjadi yang kali pertama digelar setelah badai pandemi Covid-19 sempat melanda selama 2 tahun, yakni pada tahun 2020 dan 2021.
“Dua tahun lalu hanya berlangsung di pusat keraton tidak sampai dibawa ke Masjid Agung karena kerumunan, Alhamdulillah tahun ini sudah bisa kembali dan jadi event tahunan keraton dan Masjid Agung,” kata Muhtarom.
Sekaten merupakan warisan budaya islam yang digagas oleh para walisanga di Demak Mataram dan Surakarta. Hingga saat ini makna syahadat tain Sekaten kalimat syahadat kalimasada menjadi sebuah upacara adat dan tradisi yang kental dengan perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW.

“Gamelan alat musik tradisional yang termasuk dakwah para wali dalam perspektif Jawa, memiliki makna bahwa hidup berpasang-pasangan baik laki-laki perempuan siang malam sehat sakit, ini melambangkan Hidup ini tidak bisa lepas dari dua sisi tersebut,” terangnya.
Muhtarom menuturkan, gamelan Guntur Sari dan Guntur Madu akan dipukul secara bergantian. Kedua gamelan ini tidak dipukul secara bersamaan memiliki makna
bahwa hidup harus tepa seliro.
“Kalau dalam musyawarah misalnya ya harus berbicara ya harus diam didengarkan kemudian ketika sudah selesai baru berbicara. Jadi ora saur manuk, kita harus demokratis ya demokratisnya seperti itu,@ jelasnya.
Dua gamelan yang diletakkan di Bangsal Pradongga Selatan dan Utara membuat masyarakat berlarian untuk datang menyaksikan penabuhan ini diartikan sebagai Sai dari bukit Sofa ke Marwah.
“Artinya Sa’i hidup ini harus dinamis hidup ini harus produktif harus dinamis Sai itu usaha orang mau berhasil harus bergerak itu berat usaha Jangan sampai kita ini hidup statis,” tutur Muhtarom.
Penabuhan gamelan akan berjalan selama 7 hari terhitung hari ini, Sabtu (1/10) hingga Jumat (7/10). Dimulai pukul 10.00 WIB hingga waktu zuhur. Sekira jam 13.00 WIB gamelan kembali ditabuh hingga menjelang waktu asar.
“Ya nanti kalau hari-hari biasa itu pagi Biasanya jam 10.00 sampai dengan menjelang zuhur istirahat pokoknya salat lima waktu itu istirahat kemudian setelah salat zuhur itu dipukul lagi sampai asar.
“Asar Kemudian istirahat lagi sampai maghrib kecuali maghrib istirahat sampai dengan isya baru ba’da isya m ditabuh lagi sampai dengan tengah malam. Penabuhannya berjalan sepekan kemudian ditutup dengan acara Grebeg Maulid,” terang Muhtarom.
Saat gamelan dibunyikan, warga mulai berbeut janur yang dipasang di dua Bangsal. Sembari menginang, dua tradisi ini dipercayai sebagai ngalap berkah. Ngalap berkah meruapakan kepercayaan masyarakat dengan meminta doa melalui perantara mereka untuk mencari suatu kebaikan dan manfaat dalam kehidupan.









