SOLO, MettaNEWS – Forum on Indonesia Sustainable Rice (FISR) 2025 resmi dibuka Selasa (29/7/2025) di Hotel Alila Surakarta. Lebih dari 250 peserta dari berbagai sektor—petani, pengusaha penggilingan padi, sektor swasta, startup, akademisi, pemerintah, hingga konsumen—berkumpul untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan sistem perberasan yang berkelanjutan dan rendah emisi karbon di Indonesia.
Acara yang diselenggarakan oleh konsorsium Proyek Low Carbon Rice ini digagas oleh Preferred by Nature, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan PERPADI, dengan dukungan dari Uni Eropa melalui SWITCH-Asia Grants Programme.
Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Andriko Noto Susanto, menyampaikan bahwa sektor pertanian padi saat ini menyumbang 43% dari total emisi sektor pertanian di Indonesia.
“Forum ini menjadi ruang strategis untuk membangun komitmen bersama menuju perberasan yang tidak hanya produktif, tapi juga berkelanjutan,” tegasnya.
Forum ini menampilkan sesi diskusi seputar praktik budidaya padi rendah emisi, kebijakan pangan inklusif, serta pembangunan rantai pasok yang tangguh dan efisien. Salah satu keberhasilan proyek adalah pendampingan terhadap 150 penggilingan padi kecil, yang didorong untuk beralih dari bahan bakar diesel ke listrik, yang terbukti menurunkan emisi karbon hingga 15% dan menghemat biaya operasional hingga 45%.
“Selama ini, penggilingan padi kecil masih dominan menggunakan solar. Kami bantu transisi ke listrik agar lebih efisien dan menghasilkan beras yang lebih bersih,” jelas Sutarto Alimoeso, Ketua Umum DPP PERPADI. Ia menambahkan, dari 150 penggilingan yang didampingi, 46 telah sepenuhnya beralih ke listrik.
Di Indonesia, terdapat sekitar 169.000 penggilingan padi, dan 161.000 di antaranya berskala kecil. PERPADI terus mendorong agar mayoritas penggilingan tersebut dapat mengadopsi energi yang lebih ramah lingkungan.
Dari sisi internasional, Uni Eropa telah menggelontorkan dana hibah sebesar 2,1 juta euro untuk mendukung proyek ini.
“Proyek Low Carbon Rice adalah bukti nyata kemitraan strategis Indonesia-Uni Eropa dalam menghadapi tantangan global dan membangun masa depan pangan yang berkelanjutan,” ujar Thibaut Portevin, Head of Cooperation Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam.
Forum ini juga menjadi panggung advokasi kebijakan, baik di tingkat nasional maupun daerah. Koordinator Nasional KRKP, Said Abdullah, menyebut bahwa rekomendasi kebijakan telah disampaikan kepada Bappenas, serta pemerintah daerah di Boyolali, Klaten, Sragen, Ngawi, dan Madiun untuk mendorong regulasi yang mendukung sistem perberasan rendah karbon.
FISR 2025 akan berlanjut besok (30/7/2025) dengan kunjungan lapangan ke Boyolali dan Salatiga, di mana peserta dapat menyaksikan langsung praktik budidaya padi ramah lingkungan dan proses penggilingan padi listrik sebagai bagian dari transformasi sistem pangan nasional.








