Dorong Pesantren Mandiri Ekonomi, Bank Indonesia Solo Kenalkan Infratani Green House

oleh
oleh
panen melon
Panen melon perdana Pondok Pesantren Takmirul Islam | Metta News / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Kemandirian ekonomi pesantren memiliki peran yang sangat penting untuk membangun basis ekonomi nasional yang kuat dan menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia dalam mewujudkan pertumbuhan yang inklusif. 

Bank Indonesia telah menyertakan peran pesantren dalam salah satu pilar cetak biru pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yaitu penguatan ekonomi syariah melalui program peningkatan kelembagaan yang salah satunya melalui kemandirian ekonomi pesantren.

Pondok pesantren kini diupayakan tidak hanya sebagai pusat kegiatan pendidikan ilmu agama, namun dapat menjadi pusat kegiatan wirausaha. Pengembangan usaha dilakukan oleh pesantren untuk membangun karakter entrepreneurship atau kewirausahaan tangguh bagi santrinya dan masyarakat sekitar. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo, Nugroho Joko Prastowo di kegiatan panen melon perdana hasil dari Program Infratani (Integrated Farming with Technology and Information) greenhouse HEBITREN Solo Raya di Ponpes Takmirul Islam, menjelaskan pondok pesantren mempunyai tiga syarat kemajuan bisnis ekonomi yakni keuletan dan daya tahan, jaringan dan produk halal. 

“Bank Indonesia berpartner dengan pesantren karena secara natural pesantren mempunyai karakter ulet, jaringan yang luas yang bisa menjadi pangsa pasar. Itu semua adalah modal bisnis,” ungkap Joko usai melakukan panen perdana bersama beberapa tokoh masyarakat dan ulama.

Di wilayah Solo Raya, lanjut Joko program Infratani komoditas melon telah diimplementasikan di 5 (lima) pondok pesantren di wilayah Solo Raya, yaitu Ponpes Ta’mirul Islam Surakarta, Darul Qur’an Sragen, Kyai Ageng Selo Klaten, Darul Hasan Sukoharjo dan Ar Ruqoyah Wonogiri. Budidaya melon di lima pondok pesantren ini telah menunjukkan peningkatan kualitas tanaman yang baik, sebagaimana hasil panen di Ponpes Kyai Ageng Selo Kec. Tulung, Kab. Klaten pada tanggal 24 Mei 2022. Panen melon mencapai ±1 ton untuk lahan seluas ±500m2 dengan populasi tanaman 1.000 batang dan usia tanaman 72 hari setelah tanam (HST).

Sebelumnya Ponpes Takmirul Islam mengembangkan usaha pertanian hortikultura sejak tahun 2015 di lahan persawahan yang lokasinya di luar wilayah Kota Surakarta, sehingga Bank Indonesia mendorong ponpes Takmirul Islam untuk mengembangkan pertanian modern dalam lingkungan pondok pesantren yang berada di dalam kota. 

“Greenhouse Program Infratani HEBITREN Solo Raya di Ponpes Takmirul Islam ini sekaligus mengusung konsep urban farming yang selanjutnya diharapkan menjadi percontohan untuk mengoptimalkan lahan perkotaan,” tutur Joko.

Menurut Joko, Hebitren di Solo Raya paling aktif di Jawa Tengah. Joko menyebut bila program ini bisa diadaptasi di seluruh Indonesia akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

“Meski secara makro dampaknya belum terlihat tetapi secara mikro ponpes sudah memiliki pendapatan dari kemandirian ekonomi yang dijalankan. Kalau ini bisa diadaptasi di seluruh Indonesia dan berhasil, pertumbuhan ekonomi bisa naik menjadi 6-7 persen,” tegasnya.

Wakil Walikota Solo, Teguh Prakosa menyampaikan kesiapan Pemkot Solo untuk mendukung pemasaran hasil panen pertanian ponpes di Solo.

“Kita bisa gunakan jaringan yang ada. Nanti kami titipkan hasil panen ponpes dinSolo ke minimarket atau supermarket atas nama Pemkot. Pondok pesantren tentu tidak bisa bekerja sendiri, jadi harus bersinergi dan didukung banyak pihak,” kata Wawali.

Panen melon perdana juga dihadiri oleh Ketua DPP Hebitren Indonesia KH Hasib Wahab Hasbullah yang mengatakan Hebitren adalah wadah bagi pesantren untuk mengembangkan usaha bagi yang sudah punya, maupun belum. 

“Kami sudah melakukan Mukernas yang salah satu hasilnya adalah  mengembangkan usaha dengan beberapa pihak termasuk BI di beberapa bidang yang salah satunya greenhouse,” kata Hasib.

Hasib menambahkan di Provinsi Jawa Barat sudah ada 70 kemitraan untuk pengembangan greenhouse. Sedangkan di Jawa Tengah ada lima dan di Jawa Timur juga akan ada lima titik yang dikembangkan dan menjalin kerjasama dengan petani.

Pengasuh Ponpes  Takmirul Islam, KH. Muhammad Halim menambahkan panen melon varietas inthanon di Ponpes Takmirul Islam tersebut menghasilkan 1.000 buah melon.  

“Ini merupakan panen perdana yang mulai penanaman pada Maret 2022 di dalam green house seluas 500 meter persegi,” jelasnya.