SOLO, MettaNEWS – Penyakit jantung masih menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia. Seringkali orang awam tidak menyadari akan bahaya yang mengintai dari penyakit yang disebut sillent killer ini karena tidak menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Akibatnya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki penyakit jantung sampai kondisinya sudah cukup parah atau bahkan terlambat untuk ditangani.
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Intervensi RS Premier Bintaro, dr. Beny Hartono, Sp.JP, Subsp. KI (K), FIHA, FAPSC mengatakan gangguan irama jantung bisa dideteksi secara mandiri melalui cara Menari (meraba nadi sendiri).
Menari dapat dilakukan dalam 30 detik pada dua area. Pertama adalah menghitung denyut nadi pada area pergelangan tangan yang terletak di bawah pangkal ibu jari. Area kedua adalah denyut nadi yang terletak diarea leher, tepatnya di samping tenggorokan.
“Gangguan irama jantung itu ada yang denyutnya cepat, lambat atau tidak teratur. Bila kita merasa ada keluhan jantung berdebar-debar, atau melambat, kleyengan bahkan pingsan, kita bisa memegang denyut nadi kita dengan cara Menari meraba nadi sendiri. Gampang murah tidak perlu biaya,” ujarnya dalam sesi ‘Health Talk Kenali Gangguan Irama Jantung dan Penanganan Terkini” bersama Metta Solo FM, Sabtu (12/7/2025) di Solo Paragon Hotel.
“Kita bisa raba nadi, kita nilai teratur tidak, apakah denyutnya antara 60-100 normal. Kalau tiba-tiba cepat kita raba nadi kita berarti ada yang tidak normal, kita harus periksa,” imbuhnya.
Pada kebanyakan kasus, orang awam bisa sulit membedakan antara GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dengan sakit jantung. Hal ini kerap kali menjadi kekhawatiran masyarakat akan bagaimana cara mengenali lebih spesifik gangguan irama jantung ini.
Dr. Beny menyebut, meskipun GERD dan penyakit jantung memiliki gejala yang serupa seperti nyeri dada, keduanya adalah kondisi yang berbeda dan tidak saling menyebabkan. Maka perlu diketahui ciri-ciri spesifik antara gangguan jantung atau GERD agar tidak salah kaprah.
“GERD itu ada nyeri di daerah lambung, setelah makan yang kenyang, tiduran ada gas yang naik ke atas atau rasa panas yang naik ke dada. Tapi biasanya irama jantung normal tapi ada beberapa yang terganggu juga, karena ada desakan udara dari lambung. Karena jantung dan lambung itu jaraknya berdekatan, sensasinya bisa dirasakan seperti itu,” terangnya.
Gangguan irama jantung dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal usia. Diperlukan medical check up (MCU) untuk mengetahui lebih dini dan mencegahnya.
“Risiko sama saja bisa usia muda sampai tua pria dan wanita. Usia muda lebih banyak kena gangguan irama jantung yang sifatnya genetik, yang tua ada jantung koroner sehingga terjadi gangguan irama jantung,” jelasnya.
“Perlu medical check up. Kalau punya keluarga yang punya masalah jantung di usia muda sebaiknya dilakukan medical check up lebih awal meliputi jantung, tensi, EKG. Kalau dia punya faktor risiko diabet, merokok, ideal medical check up. Untuk usia 40 tahun bisa dua tahun sekali, kalau di atas 50 setahun sekali,” ujarnya.
Dengan mengetahui lebih awal, dokter dapat lebih mudah memberikan pengobatan yang lebih awal sehingga bisa mencegah penyakit ini berkembang lebih lanjut. Tujuannya menghindari risiko tinggi gagal jantung dan gangguan aritmia.
Dalam sesi Health Talk ini, dr. Beny juga memperkenalkan layanan Heart Center RS Premier Bintaro sebagai layanan unggulan untuk menangani gangguan irama jantung.
Selain menyediakan layanan konsultasi kesehatan jantun, Heart Centre RS Premier Bintaro juga menghadirkan layanan tindakan bedah jantung yang pastinya ditunjang dengan peralatan canggih dan berkualitas.
“Heart Center dibentuk dengan tujuan memberikan pelayanan tersier pelayanan rujukan dari pasien-pasien yang memiliki gangguan jantung. Kita memberikan treatment yang lebih tepat, tenaga ahli yang mumpuni, alatnya canggih untuk penyakit jantung yang lebih spesifik,” bebernya.
Dr. Beny pun berpesan kepada 98 audience yang hadir dalam Health Talk untuk wasapada dengan menerapkan pola hidup sehat.
“Waspada dari awal tentu akan lebih baik untuk mengurangi tingkat kematian. Pola hidup sehat, olahraga, teratur, diet yang baik, kelola tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan kelola stres, tidak merokok,” tukasnya.







