SOLO, MettaNEWS – Berawal dari komisi Rp24 ribu pada bulan pertama, Risyab kini mampu meraup penghasilan hingga jutaan rupiah dari bisnis afiliasi atau affiliate. Santri berusia 21 tahun itu membuktikan bahwa telepon genggam tak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk membangun usaha.
Risyab merupakan pengurus Pondok Pesantren Menara Quran yang mulai memasarkan berbagai produk fesyen, mulai dari parfum, pakaian, hingga sepatu melalui Instagram, WhatsApp, dan Twitter. Selain menjadi afiliator, ia juga menjajal bisnis jual beli telepon genggam melalui platform daring.
Dengan memanfaatkan WhatsApp Story untuk memasarkan produk, Risyab berhasil mencatatkan penjualan pertamanya hingga Rp14 juta. Pengalaman tersebut membuatnya semakin tertarik mengembangkan bisnis digital secara lebih serius.
“Aku juga sudah mulai jadi affiliate, tapi baru empat bulan,” ujarnya.
Ke depan, Risyab berencana membangun tim kecil untuk membantunya mengembangkan konsep konten hingga penyuntingan video. Ia ingin bisnis yang dirintisnya tidak berhenti sebagai usaha sampingan, tetapi berkembang menjadi usaha yang lebih terstruktur.
Kisah Risyab menjadi salah satu cerita yang muncul dalam pelatihan Santri Matic (Santri Melek Teknologi) yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Sabtu (31/10/2026).
Sekitar 200 peserta dari berbagai pesantren dan lembaga pendidikan di Solo Raya mengikuti pelatihan yang membahas pembuatan konten, pemasaran produk secara digital, hingga peluang penghasilan sebagai kreator konten, penjual daring, dan afiliator.
Santri Belajar Mengubah Konten Menjadi Penghasilan
Antusiasme peserta terlihat saat Salmah Haddad, ibu rumah tangga yang berhasil menjadi kreator Golden Tick pada 2024, membagikan pengalamannya. Ia menceritakan penghasilan yang bisa mencapai sekitar 10 kali upah minimum regional (UMR) Solo dari aktivitasnya sebagai kreator konten.
Pengalaman tersebut menarik perhatian para santri. Telepon genggam yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk berkomunikasi dan mengakses media sosial mulai dilihat sebagai perangkat untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membuka peluang usaha.
Selain Risyab, ada Rohmat Ibnu Albazzar yang kembali tertarik menekuni bisnis digital setelah mengikuti pelatihan tersebut.
Rohmat sebelumnya pernah mencoba menjadi afiliator dan memperoleh komisi hingga puluhan ribu rupiah. Namun, aktivitas itu terhenti karena kesibukannya sebagai pengurus pondok pesantren.
Kini, ia berencana kembali memasarkan produk melalui tautan afiliasi. Menariknya, Rohmat sudah memiliki tujuan dari penghasilan yang ingin dikumpulkannya, yakni sebagai modal membuka usaha kuliner, khususnya warung pecel lele.
Baginya, menjadi santri dan berwirausaha bukanlah dua hal yang bertentangan. Keterampilan digital justru dapat menjadi bekal untuk membangun kemandirian ekonomi sekaligus berkontribusi kepada masyarakat.
Teuku Riefky: Santri Harus Mampu Ciptakan Peluang Ekonomi
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
Indonesia saat ini memiliki lebih dari 42.000 pondok pesantren dengan sekitar 4,63 juta santri. Menurutnya, jumlah tersebut merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan melalui peningkatan keterampilan digital dan kemampuan berwirausaha.
“Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, kita perlu memastikan bahwa para santri tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk berkarya, berwirausaha, dan menciptakan peluang ekonomi,” ujar Riefky.
Ia menjelaskan, ekonomi kreatif sebagai The New Engine of Growth atau mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional perlu memberikan manfaat yang dapat dirasakan berbagai lapisan masyarakat, termasuk santri dan pelaku usaha di lingkungan pesantren.
Melalui Santri Matic, peserta memperoleh pelatihan langsung dari para praktisi mengenai pembuatan video, pemasaran produk secara digital, serta pengenalan peluang penghasilan sebagai kreator konten, penjual daring, dan afiliator.
Riefky menegaskan, memulai usaha di era digital tidak selalu membutuhkan modal besar. Kreativitas, keterampilan, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal penting untuk membuka peluang.
“Dengan kreativitas, keterampilan, dan kemauan untuk terus belajar, sebuah telepon genggam pun dapat menjadi sarana untuk membuka peluang ekonomi,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pemanfaatan teknologi tetap berlandaskan nilai-nilai pesantren, seperti kejujuran, amanah, kerja keras, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Ke depan, program Santri Matic juga akan didorong untuk membentuk Komunitas Alumni Santri Matic Solo Raya. Komunitas tersebut diharapkan menjadi ruang bagi para santri untuk terus belajar, berkolaborasi, menghasilkan konten positif, serta memperluas pemasaran produk-produk pesantren.
Melalui program ini, santri diharapkan tidak hanya menjadi konsumen di ruang digital, tetapi juga mampu menciptakan karya, merintis usaha, dan membangun kemandirian ekonomi dengan tetap memegang teguh nilai-nilai yang dipelajari di pesantren.








