Belum Direlokasi, Pedagang Pasar Joglo yang Terdampak Proyek Rel Layang Ngaku Sepi Pembeli

oleh
Pasar Joglo
Pasar Joglo, Nusukan belum direlokasi ke pasar darurat sebagai imbas pembangunan proyek rel layang, Minggu (12/6/2022) | MettaNEWS / Adinda Bunga

SOLO, MettaNEWS – Rekayasa lalu lintas pembangunan rel layang Joglo baru berjalan satu pekan. Namun hal ini sudah berimbas ke aktivitas berjualan di Pasar Joglo, Nusukan Solo Minggu (12/6). Terlebih rekayasa lalu lintas ini akan berjalan selama satu bulan lamanya, tak kunjung direlokasi para pedagang mengaku sepi pembeli.

Pasar ini terdampak pelebaran lahan pembangunan rel layang sehingga akan dibongkar dan direlokasi ke eks SDN Sekip, Kadipiro, Banjarsari. Namun karena belum dibangun maka pedagang Pasar Joglo akan menempati Pasar Darurat di TPU Bonoloyo.

Sudah ada sosialisasi dari Dinas Perdagangan Solo, sejumlah pedagang mengaku menunggu relokasi ke Pasar Darurat. Salah satunya Rudi (35) pedagang pisang yang menempati area depan Pasar Joglo.

“Ya kalau pemberitahuan sudah ada dari Dinas Perdagangan juga sudah ada, katanya mau dipindah gitu. Kalau kemarin rapat dinas dengan Pak DPRD itu daruratnya itu di depan makan Bonoloyo. Terus nanti rencananya pasar permanen ada di Sekip bekas SD,” tutur Rudi saat ditemui MettaNEWS di lapaknya, Minggu (12/6/2022).

Rudi yang sudah berjualan selama 5 tahun mengaku berat hati jika akan direlokasi. Dia mendengar informasi relokasi sejak dua bulan lalu, namun hingga kini belum ada kejelasan mengenai informasi tersebut.

“Ya sebenarnya juga berat tapi gimana lagi keputusan dari dinas harus pindah ya kita ikuti aja. Yang penting tempatnya disediakan untuk jualan untuk cari makan,” terang Rudi.

Tak meminta neka-neka, dirinya sebagai orang kecil mengaku kalah dengan aturan sehingga dirinya hanya meninta ketersediaan tempat untuk bisa berjualan. Sejak ada pembangunan, Rudi menyebuy tetjadi penurunan pembeli.

“Penurunan pembeli itu juga banyak menurun drastis. Karena otomatis kan jalan juga ditutup. Pedagang kesini kan juga takut alat beratnya itu,” ucapnya.

Rudi setiap harinya berjualan di Pasar Joglo sejak 04.00 pagi ini menyebut penurunan omzet sudah terjadi sejak adanya rencana pembangunan rel layang usai lebaran yakni bulan Mei lalu. Disebutkan Rudi, sang ibu yang juga berjualan pisang di lapak yang sama hingga sore hari juga mengalami penurunan omzet.

“Sejak ada kabar ini (rel layang) mau dibangun itu sudah agak menurun omzetnya. Setiap harinya itu kadang Rp 2 juta Rp 2,5 juta kalau saya. Kalau ibu saya Rp 3 juta Rp 4 jutaan. Sekarang ini turun hampir separuhnya,” beber Rudi.

Akan menempati pasar darurat selema pembangunan pasar permanen, Rudi mengaku akan beradaptasi untuk mengetahui lokasi berjulaan yang strategis.

Sementara itu, Wahyuni (52) pedagang sembako asal Embarkasi, Ngemplak, Boyolali mengaku juga terdampak pembangunan rel layang sehingga dirinya menunggu relokasi dilakukan.

“Sudah direncanakan sebelum lebaran (relokasi) kalau nggak nurut ya mau pindah kemana lagi,” tutur Wahyuni.

Pihaknya yang telah berjualan selama 28 tahun lamanya mengaku dahulunya para pedagang membangun kiosnya sendiri di Pasar Joglo.

“Dulu belum dibangun (kios) ini pada bangun sendiri. Dulu itu jelek nggak kaya gini. Kalau di makam Bonoloyo itu belum tau juga nanti strategis enggak. Kalau strategis enggaknya itu kan kalau sudah dibangun. Saya dari dulu jualan di sini enggak pindah-pindah,” tutup Wahyuni.