Bedah Buku “Representasi Kuasa Fotografi Jurnalistik” Tutup Rangkaian APFI 2025 di Solo

oleh
oleh
Bedah buku disertasi dosen Fotografi Jurnalistik ISI Surakarta, Andry Prasetyo (tengah) didampingi Sekjen PFI Nasional, Hendra Eka (kiri) dan Maulana Surya (kanan) dalam penutupan acara APFI 2025 di Loji Gandrung, Solo pada Rabu (30/4/2025) sore. Buku tersebut berjudul Representasi Kuasa Fotografi Jurnalistik yang mengupas dinamika penghargaan Photo of The Year APFI mulai tahun 2009 hingga 2022 | MettaNEWS / Dok: PFI Solo

SOLO, MettaNEWS – Rangkaian Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2025 resmi berakhir dengan diskusi bedah buku bertajuk “Representasi Kuasa Fotografi Jurnalistik”, yang digelar di Loji Gandrung, Solo, Rabu (30/4/2025). Buku ini merupakan karya akademik milik Andry Prasetyo, dosen fotografi ISI Surakarta, yang dibedah bersama Hendra Eka, Sekjen Pewarta Foto Indonesia (PFI) Nasional.

Buku tersebut merupakan hasil riset panjang terhadap penghargaan Photo of The Year (POTY) dalam APFI dari tahun 2009 hingga 2022. Dalam diskusi, Andry memaparkan bagaimana dominasi kategori Spot News dalam POTY merefleksikan selera visual juri dan dinamika kuasa dalam ranah fotografi jurnalistik.

“Buku ini tidak hanya mengamati foto dari segi estetika atau momen visual, tapi juga menelaah siapa yang ada dalam bingkai, bagaimana nilai beritanya dibentuk, serta pengaruh pihak-pihak seperti juri, sponsor, dan panitia dalam proses seleksi,” jelas Andry.

Hendra Eka menambahkan, buku tersebut layak dijadikan rujukan akademik karena menyentuh aspek teknis dan nonteknis fotografi jurnalistik.

“Ini bukan sekadar buku foto, tapi kajian yang mendalam. Sangat berguna untuk mahasiswa dan siapa pun yang ingin memahami peran sosial foto jurnalistik,” ujarnya.

Bedah buku ini menjadi penutup dari serangkaian kegiatan APFI 2025 yang berlangsung sejak 25 April lalu. Selain malam penganugerahan, APFI tahun ini juga menghadirkan pameran foto terbaik, diskusi tematik, dan forum edukatif yang diikuti pelajar dan mahasiswa.

Joni Andreansyah, mahasiswa ISI Surakarta yang hadir dalam diskusi, mengaku mendapat banyak wawasan baru.

“Saya belajar banyak tentang etika dan proses kerja pewarta foto. APFI sangat membuka perspektif saya,” ungkapnya.

APFI 2025 kembali menegaskan bahwa fotografi jurnalistik bukan sekadar visual yang kuat, tapi juga media penyampai pesan, dokumentasi sejarah, dan cerminan kondisi sosial yang kompleks.