Atasi Banjir Rob dan Abrasi, Pemprov Jateng Usulkan Konsep Hybrid Sea Wall untuk Perpanjangan Tanggul Laut Demak

oleh
banjir demak
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) saat rapat koordinasi lintas sektoral untuk penanganan banjir dan rob Demak, di ruang kerjanya, Kota Semarang, Senin (16/2025) | Dok. Humas

SEMARANG, MettaNEWS – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) berencana membuat konsep hybrid sea wall untuk perpanjangan pembangunan tanggul laut di Kabupaten Demak.

Konsep yang berasal dari Tim Pengendalian Banjir Pasang Rob Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu, dinilai lebih hemat dan efisien.

Hybrid sea wall didesain dengan kombinasi beton ringan berupa kelontong untuk menahan ombak. Konsepnya, konstruksi beton kelontong  ringan itu ditata tiga tumpuk ke atas.

Lalu diisi  material hasil pengerukan sedimentasi sungai, sehingga mampu menjadi media tanam mangrove. Tujuannya agar membentuk ekosistem mangrove baru secara alami di kawasan pesisir. Dari sisi pembiayaan, konsep ini dinilai lebih murah.

“Konsep dari Undip ini lebih hemat. Harapan kami bisa menangani banjir dan rob di seluruh Kabupaten Demak. Ekosistem juga bisa dikembalikan dengan edukasi penanaman mangrove,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) saat rapat koordinasi lintas sektoral untuk penanganan banjir dan rob Demak, di ruang kerjanya, Kota Semarang, Senin (16/2025).

Taj Yasin mengatakan, dengan menerapkan skema hybrid sea wall, diharapkan bisa memperpanjang pembangunan benteng alami di wilayah pesisir.

Dikatakannya, target semula, perpanjangan pembangunan tanggul laut di Demak  bertambah sepanjang 10 KM. Pihaknya berharap bisa bertambah menjadi 20 KM, hingga Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.

Rencananya, konsep ini akan dibawa ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk dirapatkan kembali.  Apabila secara teknis dinilai cocok diterapkan di pesisir Demak, maka bisa menjadi dasar untuk langkah selanjutnya.

Wakil Kepala LPPM Undip Bidang Pengabdian, Achmad Zulfa Juniarto, dalam paparannya mengatakan, area terdampak banjir dan abrasi khusus di Kecamatan Sayung, lebih cepat dan luas dalam sepuluh tahun terakhir.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Undip  mengonsepkan hybrid sea wall. Konsep ini bermanfaat dalam memperkuat dan memulihkan ekosistem pesisir. Selain itu lebih adaptif karena sistem berlapis dan berbasis alam, serta lebih hemat karena memulihkan ekosistem secara alami.

Contoh yang sudah dilakukan berada di Desa Timbulsloko, Kecamaran Sayung, dan Desa Purworejo, Kecamatan Bonang. Project hybrid sea wall yang dimulai pada 2012 di Timbulsloko telah mengembalikan sempadan pantai sepanjang 100 meter. Tingkat keberhasilan pertumbuhan mangrove mencapai 90 persen.

“Tanaman mangrove dalam 6 tahun pertumbuhannya 4-6 meter. Inilah yang disebut dengan konsep hybrid sea wall,” kata dia.